Bangladesh Relokasi Pengungsi Rohingya ke Pulau Terpencil

Pengungsi Rohingya di Cox's Bazaar, Bangladesh. (Reuters/Mohammad Ponir Hossain0
07 Maret 2019 00:00 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, DHAKA – Otoritas Bangladesh berencana merelokasi sekitar 100.000 pengungsi Rohingya yang bertahan di pengungsian Cox's Bazaar, Kutupalong, dekat perbatasan Myanmar. Para pengungsi akan dipindahkan ke pulau di selatan Bangladesh, Bhasan Char.

Relokasi rencananya dilakukan tim dari Angkatan Laut Bangladesh. Proses itu ditargetkan selesai pada akhir 2019.

Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, telah memerintahkan relokasi gelombang pertama, yakni terhadap 23.000 orang Rohingya, yang ditarget selesai 15 April 2019.

"Pemerintah telah menyediakan tempat khusus untuk pengungsi Rohingya. Rumah, listrik, fasilitas kesehatan, hingga komunikasi ada di sana. Semuanya telah disediakan sesuai dengan kebutuhan pengungsi," kata Menteri Penanggulangan Bencana Bangladesh mengonfirmasi pernyataan PM Sheikh Hasina, Md Enamur Rahman, seperti dikutip dari The Dhaka Tribune, Rabu (4/3/2019).

Bhasan Char atau dikenal dengan nama Thengar Char merupakan pulau terpencil di Bangladesh. Butuh waktu tiga jam mengarungi lautan untuk sampai ke pusat kota Hatiya di distrik Noakhali. Pulau ini merupakan cadangan hutan yang tidak pernah ditinggali.

Sebelumnya, Bhasan Char dipakai untuk menggembalakan hewan ternak. Sejumlah warga Rojingya menolak direlokasi. Mereka khawatir pulau itu akan tersapu gelombang pasang.

Sebelumnya, Pemerintah Bangladesh mengatakan tidak bisa lagi menampung pengungsi Rohingya dari Myanmar. Keberatan itu disampaikan setelah Bangladesh menampung lebih dari 700.000 orang Rohingya selama 18 bulan.

"Dengan rasa menyesal, saya sampaikan, Bangladesh tidak mampu lagi menampung pengungsi Myanmar. Tak seorang pun dari pengungsi Rohingya mau kembali ke Rakhine, Myanmar, karena lingkungannya yang tidak kondusif," kata Menteri Luar Negeri Bangladesh, Shahidul Haque, seperti dikutip dari Reuters.

Myanmar sebenarnya menyatakan siap menerima pengungsi Rohingya kembali ke Rakhine. Namun, pihak Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan kondisinya belum kondusif. Padahal, warga Rohingya menuntut jaminan keamanan dan diakui sebagai warga negara Myanmar.