Reaktualisasi Budaya Lokal pada Generasi Milenial

05 Maret 2019 09:05 WIB Firlie Hanggodo Ganinduto Kolom Share :

Budaya merupakan representasi identitas sebuah komunitas. Dari budaya pula tersimpan karakter, simbolisme, filosofi serta padangan hidup masyarakat. Masyarakat dan budaya menjadi satu kesatuan yang seiya sekata, sehingga setiap aktivitas masyarakat, budaya menjadi mesin pencatat yang setia.

Budaya memiliki tiga wujud, artefak sebutan untuk budaya yang tampak, sedangkan sosiofak adalah gambaran tatanan sosial masyarakat, dan mantifak adalah representasi ide atau pemikiran. Setiap masyarakat memiliki ketiga dimensi tersebut, sehingga sangat penting untuk memiliki identitas budaya sebagai gambaran jadi diri. Dalam kondisi  masyarakat yang dinamis, penting dilakukan reaktualisasi budaya lokal bagi setiap generasi agar nilai-nilai luhur budaya tersebut lestari.

Tipologi masyarakat dapat disusun berdasar adaptasi teknologi, sehingga muncul istilah masyarakat milenial atau generasi Z, sebutan bagi yang lahir di dekake 1990-an dan 2000-an. Terdapat perbedaan generasi ini dengan generasi sebelumnya dalam memandang budaya. Generasi Z seolah menjadi generasi eksklusif yang memutus rantai estafet budaya serta lebih memilih mengembangkan budaya sendiri. Hal ini dapat dipahami jika menilik revolusi teknologi di dekade yang sama, namun sebagai sebuah masyarakat ini menjadi masalah yang sangat penting.

Hilangnya budaya pada generasi milenial akan menjadi tsunami sosial setidaknya untuk generasi setelah saat ini. Dampak yang paling buruk yakni “Jawa tinggal nama” atau bahkan menjadi koleksi di pojok museum dan sudut perpustakaan yang hanya dikunjungi oleh anak kecil yang sedang belajar membaca.

Gejala yang muncul, antara lain: berkurangnya pemahaman struktur linguistik (bahasa) jawa; degradasi simbol Jawa baik dari pakaian, atribut, serta aksesori ekspresi diri; berkembangnya pemikiran individualis dan materialis yang jauh dari karakter komunalitas yang dimiliki masyarakat Jawa; bahkan munculnya pemikiran baru yang membenturkan ritus budaya dengan agama.

Saya teringat, di tahun 90-an anak-anak di Plosorejo, Gondang, Sragen sepulang sekolah masih berkumpul dan bermain gobak sodor, dan jelungan (petak umpek) dengan riang. Di dekade yang sama anak-anak di Nglebak, Tawangmangu masih mencari ikan di kali sambil bermain jaranan dengan pelepak pisang dan sekelompok dewasa yang lain sibuk berlatih silat.

Teringat juga di awal 2000-an anak-anak di Baturetno, Wonogiri masih asyik berlatih kesenian Reog sepulang sekolah, seolah tidak mampu ditembus riuhnya gelombang reformasi politik yang diembuskan dari pusat pemerintahan. Suasana batin yang adem-ayem inilah yang penting kita uri-uri biarpun tidak lagi tumbuh dari permainan tradisional. 

Biarpun secara teori budaya, antara tradisionalitas serta modernitas seperti dua pangkal neraca (timbangan), jika penyerapan modernitas tinggi maka akan meninggalkan tradisionalitas atau sebaliknya kokoh mempertahankan tradisionalitas maka hanya akan sedikit mengikuti ritme modernitas. Namun teori tersebut tidak sepenuhnya benar, budaya hidup kalau dipakai dan budaya mati apabila tidak dipakai, maka sangat bisa menyandingkan budaya tradisional dengan modernitas.

Gambaran masyarakat Bali yang sangat bangga berbudaya Bali dan berekspresi Bali bisa menjadi gambaran kondisi ideal berbudaya, atau Jepang yang berhasil memadukan modernitas dengan cita rasa tradisional.

 

Semangat

Tulisan ini bukan menakut-nakuti tapi adalah gambaran optimisme bahwa masih banyak jalan dan cara untuk melestarikan budaya pada kelompok milenial. Tulisan ini juga mengajak dan mengobarkan semangat bahwa estafet budaya ada di tangan kita.

Langkah yang dapat kita tempuh dengan 4 cara, yakni: Pertama, kita harus membawa pada posisi yang tinggi budaya kita. Sulit untuk mengajak pegiat budaya misalnya pelaku seni pertunjukan, apabila masih dicap sebagai pertunjukan yang bernada peyorasi, seperti: kuno, kampungan, kolot, atau ndesa. Cara yang dipakai dengan mengangkat seni pertunjukan tradisional pada moment dan event yang bergengsi tanpa meninggalkan fungsi tradisi.

Kedua, membangun mindset atau pola pikir bahwa ini adalah warisan kita yang didalamnya terdapat karakter masyarakat Jawa, makna dari setiap simboliknya, dan filosofi pada setiap gerakannya. Sehingga kita memiliki generasi Z yang benar-benar kuat secara mental dan semangat yang selalu menyala. Ini menjadi langkah yang penting karena budaya esensinya adalah internalisasi nilai dan karakter.

Ketiga, adanya komunitas-komunitas budaya yang aktif dan inovatif. Baik latihan, inovasi maupun dalam pertunjukan. Komunitas ini harus ada figur yang kuat sebagai mitra pemerintah dan komunitas yang difasilitasi pemerntah.

Keempat, adanya tokoh di pemerintahan yang berkomitmen kuat meletarikan budaya baik secara tradisi maupun secara profan. Maka menjadi hal yang unggul bila komunitas membangun jejaring dan meminta pernyataan komitmen pada calon anggota Dewan untuk menyampaikan aspirasi dan suara komunitas seni budaya di legislatif. Hal ini sebagai langkah yang legal sesuai undang-undang serta bentuk pejuangan pegiat budaya dalam mengemban amanah mulia meletarikan budaya Jawa yang adiluhung. ***