Jawa Barat yang Bikin Jokowi Bimbang

Jokowi (Antara)
05 Maret 2019 12:40 WIB Danang Nur Ihsan, Newswire Nasional Share :

Solopos.com, SOLO — Ketika Pilkada 2018 usai, lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis exit poll hasil pemilihan gubernur (pilgub) di enam provinsi.

Salah satu perilaku pemilih di enam provinsi yaitu Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), Jawa Timur (Jatim), Sumatra Utara (Sumut), Kalimantan Barat (Kalbar), dan Sulawesi Selatan (Sulsel) yang ingin dipotret lewat exit poll adalah preferensi pemilih terhadap calon presiden (capres).

Exit poll pada 27 Juni 2018 lalu menunjukkan capres Joko Widodo (Jokowi) unggul di lima provinsi yaitu Jateng, Jatim, Sumut, Kalbar, dan Sulsel. Sedangkan di Jabar, capres Prabowo Subianto unggul. Dalam exit poll di Jabar, Prabowo memiliki elektabilitas 51,2% dan Jokowi 40,3%

Keunggulan Prabowo di Jabar bukan cerita baru karena dalam Pilpres 2014 lalu, provinsi ini dikuasai Prabowo yang saat itu berduet dengan Hatta Rajasa. Kala itu, Prabowo-Hatta meraup 14.167.381 suara (59,78%) dan Jokowi yang berduet dengan Jusuf Kalla meraup 9.530.315 suara (40,22%). Jabar menjadi penyumbang suara terbesar Prabowo di tingkat nasional yaitu 22,64% dari 62,57 juta suara.

Jokowi sebagai capres petahana tidak ingin kalah di Jabar untuk kali kedua. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf menyebut Jabar, Banten, dan DKI Jakarta menjadi perhatian mereka. Sedangkan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno tidak ingin lumbung suara mereka direbut rival.

Sejumlah lembaga survei selama Januari-Februari 2019 merilis elektabilitas capres-cawapres termasuk khusus wilayah Jabar. Lembaga survei Charta Politika yang merilis survei mereka pada Januari 2019 lalu menyebut elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di Jabar 44,3% dan Prabowo-Sandi 37,1%.

Pada Februari 2019, Indopolling Network menyebut elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di Jabar 41,7% dan Prabowo-Sandi 37,9%. Adapun 20,4% sisanya belum menentukan pilihan.

”Di Provinsi Jawa Barat, saat itu, 1,5 bulan yang lalu kami sudah menang empat persen. Dahulu kami kalah telak, tuh, ini sudah menang empat persen," kata Jokowi di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Sabtu (2/3/2019) lalu.

Namun, Jokowi mengaku kaget ketika perolehan suaranya di Jabar dalam survei internal yang dilakukan timnya tiba-tiba anjlok signifikan. Dia menyebut suara anjlok sampai 8%. ”Apa yang muncul? Ternyata fitnah, hoaks sudah masuk," kata Jokowi.

Lembaga survei asal Australia Roy Morgan yang merilis survei mereka pada Jumat (1/3/2019), menyebut Prabowo unggul di Jawa bagian barat yang meliputi Jabar, Banten, dan DKI Jakarta. Roy Morgan menyebut elektabilitas Prabowo di wilayah itu mencapai 57% dan Jokowi 43%.

Direktur Eksekutif Indopolling Network Wempy Hadir menyebut peta persaingan di Jabar akan sangat ketat. Hal itu tidak lepas dari naik-turun elektabilitas capres di provinsi ini.

Jabar menjadi magnet khusus karena memiliki pemilih terbanyak yaitu 33,27 juta pemilih. Dalam survei Median disebutkan untuk segmen pemilih suku Sunda, elektabilitas Prabowo-Sandi mencapai 54,5% dan Jokowi-Ma’ruf 32,1%. Sedangkan survei Charta Politik menyebut elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di suku Sunda 46,7% dan Prabowo-Sandi 38,2%. Diketahui sebagian besar pemilih di Jabar adalah suku Sunda.

Anggota TKN Jokowi-Ma'ruf, Maman Imanulhaq, mengklaim Jokowi tetap unggul di Jabar. Namun, ada beberapa daerah yang elektabilitasnya naik, kini kembali turun. ”Jadi Jabar kita tetap menang, tapi ada beberapa daerah yang kemudian sempat naik lalu terkoreksi karena isu hoaks itu," kata dia.

Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Faldo Maldini, mengatakan BPN akan terus waspada dan bekerja keras untuk menempatkan Prabowo-Sandi tetap menguasai Jabar. ”Dihasil survei selalu menempatkan Prabowo-Sandi di urutan teratas di Jawa Barat," kata dia. BPN Prabowo-Sandi menargetkan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandi bisa meraup 60% suara di Jabar.

Sumber : Newswire