Musyawarah Calon Rektor UNS Solo

Bramastia - Istimewa
04 Maret 2019 11:00 WIB Bramastia Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (28/2/2019). Esai ini karya Bramastia, doktor bidang ilmu pendidikan dan pengamat kebijakan pendidikan tinggi. Alamat e-mail penulis adalah bramastia@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pemilihan rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) periode 2019-2023 pada akhirnya berbuah manis dan indah, meskipun tahapan sebagaimana regulasi belum berakhir.

Tiga orang calon rektor UNS, yakni Jamal Wiwoho, Sutarno, dan Widodo Muktiyo prakarsa dan inisiatif bersama sepakat melalui musyawarah menunjuk Jamal Wiwoho sebagai calon (tunggal) rektor UNS periode 2019-2023 (Solopos, 15 Februari 2019)

Tahap pemilihan rektor UNS yang selanjutnya adalah rapat senat tertutup yang diikuti Senat UNS bersama Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (atau pejabat yang ditunjuknya). Rapat senat tertutup itu hanya tinggal mengesahkan Jamal Wiwoho sebagai rektor UNS.

UNS tidak perlu lagi menanti calon rektor dengan perolehan suara terbanyak dalam pemilihan di rapat senat tertutup kemudian ditetapkan sebagai calon rektor terpilih.

Rapat senat tertutup ini rencananya digelar antara 13-30 Maret 2019, menyesuaikan jadwal Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Artinya, seiring waktu UNS sesungguhnya menunggu puncak dari tahap akhir, yaitu penetapan dan pelantikan Jamal Wiwoho sebagai Rektor UNS periode 2019-2023 oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Kampus Benteng Pancasila

Dalam pandangan saya, pemilihan rektor UNS periode 2019-2023 boleh disebut fenomenal. Banyak perguruan tinggi negeri (PTN) lain yang dalam proses transisi kepemimpinan berakhir dengan kericuhan internal kampus.

Ada pula yang prosesnya harus sampai ke ranah hukum karena dipenuhi nuansa kepentingan pragmatis. Mereka lupa sesungguhnya sebagai seorang akademisi, jabatan pemimpin perguruan tinggi hanyalah tugas tambahan bagi seorang dosen.

Pada konteks demokratisasi di perguruan tinggi, UNS tampil sebagai pembeda dan berhasil menunjukkan kedewasaan dalam kehidupan kampus. 

Pemilihan rektor dan unsur pimpinan UNS ternyata tidak seperti kampus negeri lainnya dan justru mampu mengutamakan musyawarah dan mufakat dalam realitas yang sesungguhnya.

Atas prakarsa dan inisiatif pribadi tiga orang calon rektor, musyawarah dan mufakat dibangun sebagai upaya mewujudkan iklim demokrasi di UNS yang lebih dewasa, sehat, dan berbudaya.

Rektor UNS saat ini, Ravik Karsidi, berhasil dan sukses meletakkan fondasi sesuai komitmen UNS Solo menjadi perguruan tinggi benteng Pancasila. Begitu pula tiga calon rektor UNS tersebut, yakni Jamal Wiwoho, Sutarno, dan Widodo Muktiyo,.

Mereka memiliki komitmen sama dalam membangun visi kebangsaan untuk masa depan. Transformasi kepemimpinan di perguruan tinggi negeri di Kota Solo ini berjalan indah sesuai dengan arah visi UNS sebagai perguruan tinggi unggul di dunia berbasis pada budaya nasional.

Slogan UNS sebagai kampus benteng Pancasila dipahami dengan bukti tiga orang calon rektor berinisiatif dan memprakarsai musyawarah untuk mufakat dalam pemilihan pemimpin tertinggi kampus.

Para calon rektor memahami bahwa Pancasila sebagai ideologi terbuka harus mampu dan mau menghadapi perubahan dan perkembangan zaman secara dinamis.

Seluruh calon rektor telah mempaparkan visi, misi, dan program kerja, tapi perbedaan pandangan maupun pendapat dimaknai sebagai anugerah terindah serta modal dialektika keilmuan guna mencari kebenaran berbasis ilmiah berlandaskan kearifan lokal.

Budaya Musyawarah Mufakat

Keberhasilan membangun musyawarah mufakat alangkah elok bila tidak hanya di level pemimpin tertinggi UNS. Sungguh sangat indah apabila rektor UNS terpilih nanti membangun budaya musyawarah mufakat pada jajaran di bawahnya.

Implementasi UNS sebagai kampus benteng Pancasila ini semestinya membumi sampai ke tingkat terbawah. Inilah tantangan bagi rektor baru UNS membangun tradisi baru memilih pemimpin mulai dari wakil rektor, dekan, wakil dekan, kepala jurusan, ketua program studi, maupun unsur pinpinan lain di lingkungan UNS melalui musyawarah mufakat.

Untuk itu, di bawah kepemimpinan rektor UNS yang baru nanti, musyawarah mufakat bisa menjadi modal dasar membangun dialektika internal guna memadukan konsep pendidikan tinggi dengan teori ilmiah dan konsep terbarukan.

Agenda internasionalisasi UNS harus diawali fondasi akademis institusi yang tertata rapi dan sumber daya intelektual yang siap dan mampu menyapa kancah globalisasi. UNS butuh sinergi para calon rektor untuk mendukung rektor terpilih dalam mewujudkan karya nyata UNS untuk negara.

Setelah pelantikan rektor UNS, agenda sosialisasi, diskusi, dan strategi memahamkan visi melalui budaya musyawarah mufakat sangat penting. Status UNS yang sudah naik kelas sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) dan visi menjadi perguruan tinggi berkelas dunia (world class university) butuh dukungan civitas academica UNS.

Sinergi rektor UNS terpilih bersama civitas academica sangat dibutuhkan untuk membawa kapal UNS bergerak cepat mengimplementasikan visi dan misi. Dalam pandangan saya, perubahan status UNS menjadi PTN-BH harus diimbangi kecepatan dan ketepatan dalam membuat regulasi baru.

Kebijakan rektor UNS pada era PTN-BH perlu dijabarkan ke dalam regulasi baru karena pola dan paradigma PTN-BH berbeda dengan perguruan tinggi sebelumnya. Dinamika perubahan UNS menjadi PTN-BH pasti akan membawa dampak bagi lembaga.

Karya dan Kreativitas

Budaya musyawarah mufakat harus terus dibangun agar menjadi basis utama pengembangan dialektika kebijakan dan keilmuan dalam menyongsong era UNS sebagai PTN-BH. Tata kelola lembaga yang selama ini membuat mapan sumber daya, barangkali sedikit terasa beda tatkala UNS berani berubah menjadi PTN-BH.

Pola kerja sumber daya dan target lembaga harus seiring sehingga memaksa sumber daya mau melakukan revolusi internal.

UNS yang berubah menjadi PTN-BH harus lebih rajin merawat jaringan untuk ditata pada posisi strategis pemerintahan. Dengan demikian jaringan UNS semakin kukuh akarnya dan diakui dalam percaturan pendidikan tinggi nasional maupun internasional.

UNS era PTN-BH tidak hanya membuat UNS sebagai world class university, tetapi pantas disebut recognized university atau universitas yang diakui secara nasional dan internasional karena segudang karya dan kreativitas.