AS-Korsel Akhiri Latihan Militer Gabungan

04 Maret 2019 16:10 WIB Aprianto Cahyo Nugroho Internasional Share :

Solopos.com, JAKARTA – Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) sepakat mengakhiri latihan militer gabungan tahunan terbesar mereka dalam upaya meredakan ketegangan dengan Korea Utara (Korut).

Langkah ini dilakukan hanya beberapa hari setelah Donald Trump dan Kim Jong Un gagal mencapai kesepakatan mengenai denuklirisasi dalam pertemuan tingkat tinggi di Vietnam.

Penjabat Menteri Pertahanan AS, Patrick Shanahan, dan Menteri Pertahanan Korsel Jeong Kyeong-doo memutuskan mengakhiri serangkaian latihan gabungan Key Resolve dan Foal Eagle, kata Pentagon pada Sabtu (2/3/2019).

Latihan gabungan tersebut akan digantikan oleh latihan modifikasi yang disebut "Alliance" yang berjalan dari 4 Maret hingga 12 Maret dan akan fokus pada "aspek strategis, operasional, dan taktis dari operasi militer umum," ungkap Combined Forces Command dalam pernyataan terpisah.

Komando Pasukan yang terdiri dari pasukan AS dan pasukan Korea Selatan tersebut mengatakan pada Minggu bahwa penting bagi kedua pasukan untuk berlatih bersama untuk memastikan stabilitas di Semenanjung Korea.

Langkah tersebut mencerminkan keinginan kami untuk mengurangi ketegangan dan mendukung upaya diplomatik kami demi mencapai denuklirisasi total di Semenanjung Korea secara keseluruhan, dengan cara yang sepenuhnya diverifikasi," ungkap Pentagon, seperti dikutip Bloomberg.

Kementerian pertahanan Korsel mengonfirmasi keputusan tersebut, dengan mengatakan ini dilakukan untuk mencapai "perdamaian permanen di semenanjung Korea."

Akhir latihan militer gabungan ini berarti memenuhi permintaan lama Korea Utara dan mencerminkan skeptisisme atas nama Trump, yang mempertanyakan posisi mereka setelah KTT dengan Kim tidak mencapai kesepakatan.

Di Vietnam, Korea Utara menuntut agar beberapa sanksi dicabut sebagai imbalan atas tindakannya untuk menghentikan uji coba nuklir dan rudal, sementara AS meminta tindakan lebih lanjut untuk membongkar fasilitas pengayaan dan sistem persenjataannya.

"Korea Utara kemungkinan akan menggunakan ini sebagai sesuatu yang mereka peroleh dari negosiasi baru-baru ini dengan AS," kata Baek Seung-joo, anggota parlemen Korsel dan mantan wakil menteri pertahanan.

"Ini jelas menunjukkan kesiapan militer AS-Korsel yang melemah tanpa latihan ini, karena Foal Eagle adalah praktik bagaimana pasukan AS akan dikerahkan ke Korsel dalam situasi krisis di semenanjung,” lanjutnya.

Kim berjanji untuk bertemu Trump lagi dalam sebuah pernyataan yang dirilis Jumat (1/3/2019) melalui kantor berita Korea Utara KCNA. Kim menyatakan penghargaan atas "upaya aktif menuju hasil" Trump dan menyebut pertemuan puncak itu "produktif."

Sementara itu, Trump juga memberikan nada optimis setelah pertemuan keduanya, dengan menyebut hubungannya dengan Kim "sangat kuat" meskipun mereka tidak bisa mencapai kesepakatan.

Presiden juga mempertanyakan kegunaan pengeluaran "ratusan juta dolar" untuk latihan militer bersama, terutama jika Korsel tidak bersedia membayar lebih untuk itu.

"Latihan itu sangat mahal, dan saya memberi tahu para jenderal: Lihat, Anda tahu, latihan itu menyenangkan. Dan saya tidak mengatakan itu tidak perlu, karena pada tingkat tertentu memang demikian, tetapi pada tingkat lain lebih baik tidak dilakukan," ungkapnya.

Sebelumnya, Trump mengatakan di Twitter bahwa Ia menentang latihan untuk menghemat "ratusan juta dolar bagi AS, yang tidak akan mendapatkan penggantian."

"Itu posisi saya jauh sebelum saya menjadi Presiden," ungkap Trump dalam sebuah tweet. "Juga, mengurangi ketegangan dengan Korea Utara saat ini adalah hal yang baik!"

Trump telah merenggangkan hubungan AS dengan Korea Selatan, bersama dengan sekutu-sekutu lama AS lainnya, karena tuntutan pembayaran untuk aset militer.

Bulan lalu, kedua negara mencapai kesepakatan pembagian biaya selama satu tahun untuk mempertahankan sekitar 28.500 tentara AS di Korsel dan putaran negosiasi lain tahun ini.

Sumber : Bisnis.com