Mbok Mase Laweyan Era Disrupsi

Tiyas Nur Haryani - Dokumen Solopos
03 Maret 2019 10:00 WIB Tiyas Nur Haryani Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (27/2/2019). Esai ini katya Tiyas Nur Haryani, dosen di Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah tiyasnur@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Dalam sejarah dan perkembangan Kota Solo, eksistensi Kampung Batik Laweyan tak dapat diabaikan dari sisi ekonomi, sosial, dan politik. Sejak berdirinya Keraton Pajang, Kampung Laweyan menjadi bagian penting dalam proses sosialisasi masyarakat.

Kampung ini berkembang hingga masa prakemerdekaan Indonesia. Kampung Batik Laweyan memiliki andil dalam perjuangan kekuatan ekonomi bangsa melawan relasi kuasa bangsa penjajah dan pedagang asing.

Sarekat Dagang Islam terbentuk di Kampung Batik Laweyan dimotori K.H. Samanhudi. Sarekat Dagang Islam yang awalnya merupakan perkumpulan pedagang Islam di wilayah Jawa dan Madura kemudian masuk ke ranah politik untuk melawan penindasan pemerintah kolonial Belanda.

Sarekat Dagang Islam yang kemudian berganti nama menjadi Sarekat Islam di bawah kepimpinan H.O.S. Cokroaminoto memiliki anggota para pedagang perempuan dan laki-laki.

Hal ini dapat dilihat dalam koleksi foto milik Tropen Museum Amsterdam, National Museum of World Culture, yang berjudul Group Portrait at a Meeting of the Sarekat Islam (SI) pada 25 September 1921.

Perempuan secara khusus memegang peranan penting dalam proses pembangunan dan denyut perekonomian Kampung Batik Laweyan saat memasuki abad ke-20. Gelar Mbok Mase muncul seiring bangkitnya perempuan memimpin industri batik di Kampung Laweyan.

Modal etos kerja yang dibangun para perempuan saudagar batik di Kampung Laweyan membawa mereka pada posisi peran sentral di Kampung Batik Laweyan (Soedarmono, 2006).

Sikap resisten terhadap gaya hidup kaum priayi istana yang feodal, boros, dan senang berpoligami menjadi latar belakang Mbok Mase Laweyan dalam melawan relasi kuasa maskulin yang timpang.

Akses, kontrol, partisipasi, dan manfaat atas pembangunan diperjuangankan oleh para Mbok Mase pada era abad ke-20. Berkat perjuangan mereka, peningkatan akses perempuan Laweyan atas sumber daya modal dan ekonomi berbanding lurus dengan peningkatan posisi tawar perempuan Mbok Mase Laweyan.

Kontrol atas Diri Sendiri

Implikasi selanjutnya adalah peningkatan kontrol perempuan atas diri mereka sendiri, khususnya dalam hal menolak poligami yang banyak dilakukan oleh para kaum priayi istana terhadap perempuan kala itu.

Ekses berikutnya partisipasi perempuan Mbok Mase Laweyan diperhitungkan dalam proses pembangunan sosial ekonomi dan mereka dapat ikut serta merasakan manfaat dari pembangunan ekonomi, khususnya dalam perputaran ekonomi di kawasan Kampung Batik Laweyan.

Dulu Mbok Mase Laweyan menjadi sosok yang sangat menentukan dalam proses pembuatan batik di Kampung Batik Laweyan. Peran suami atau yang disebut Mas Nganten jauh lebih kecil dan/atau tidak ada dalam produksi dan distribusi batik.

Kejayaan batik Laweyan melejit dengan ditambahkannya teknik batik cap yang mampu meningkatkan kuantitas produksi batik di Kampung Laweyan. Romantisme kejayaan Mbok Mase Laweyan memang belum bisa ditinggalkan sampai saat ini.

Jati diri Kampung Batik Laweyan adalah batik tradisional hasil usaha yang digeluti para Mbok Mase Laweyan. Perubahan zaman karena globalisasi membawa banyak dampak bagi dunia global dan nasional yang tidak dapat dihindari oleh negara, organisasi, hingga individu dalam segala lini kehidupan.

Mbok Mase Mase Laweyan ikut merasakan ekses globalisasi dan revolusi industri 4.0 yang turut serta membawa disrupsi inovasi. Penelitian yang dilakukan para mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara tim Temu Regional Administrator Muda Se-Jawa Tengah (Teras Jateng) 2019 menemukan beberapa hal yang patut menjadi perhatian terkait eksistensi Mbok Mase Laweyan dewasa ini.

Ada beberapa faktor yang mampu menurunkan eksistensi Mbok Mase Laweyan pada masa depan. Pada sisi sosial ekonomi, pesatnya perkembangan tuntutan global mengancam regenerasi Mbok Mase Laweyan.

Kepercayaan terhadap perkembangan progresif industri batik tradisional mulai menurun akibat kenaikan harga secara umum. Selain itu, beberapa di antara generasi Mbok Mase Laweyan memilih mengembangkan diri di luar bidang produksi batik setelah lulus dari perguruan tinggi.

Peningkatan kebutuhan ekonomi membuat individu cenderung berupaya mendapatkan pekerjaan dengan segera. Pada sisi dunia pendidikan juga cenderung lebih banyak mencetak pencari kerja dibandingkan pencipta lapangan kerja. Ini terjadi akibat tuntutan global.

Peluang Sekaligus Ancaman

Faktor kedua adalah disrupsi yang mencerabut berbagai macam hal dari sifat asalnya. Disrupsi inovasi menjadi peluang sekaligus ancaman bagi industri batik tradisional. Disrupsi inovasi yang ditandai hadirnya inovasi teknologi digital akan membantu kemudahan, kecepatan akses, dan kenyamanan individu.

Disrupsi inovasi juga melindas dan menggerus organisasi, pelaku bisnis, dan individu yang enggan merespons perubahan model teknologi, komunikasi, dan informasi serta cara pemanfaatannya. Mengacu hal tersebut, jumlah wisatawan di Kampung Batik Laweyan bisa menurun akibat berkembangnya marketplace dari berbagai macam platform bisnis online.

Konsumen cukup duduk di sofa di rumah dengan gadget dalam genggaman, klik barang yang diinginkan, membayar pesanan secara online, dan pesanan tiba di depan pintu rumah pada hari berikutnya.

Sebenarnya para Mbok Mase Laweyan juga telah mengikuti tren bisnis online dengan tetap menjalankan cara konvensional lewat gerai toko di rumah dan pameran. Kehadiran platform bisnis online tetap terasa ditandai tutupnya beberapa gerai batik di Kampung Batik Laweyan.

Salah satu narasumber penelitian mengaku memilih banting setir membuka rumah tempat indekos, homestay, hingga hotel di Kampung Batik Laweyan seiring bisnis batik tradisonal yang terus mengalami penurunan omzet dan jumlah pengunjung,  wisatawan, atau konsumen langsung kian sedikit.

Dalam aspek sosial budaya yang bisa dilihat dari relasi gender juga telah mengalami perubahan. Hasil penelitian kualitatif ini mendapatkan gambaran Mbok Mase Laweyan masih memegang peran dalam aktivitas produksi, reproduksi perawatan ekonomi keluarga, dan sosial kemasyarakatan.

Peran Mas Nganten dalam produksi batik terlibat lebih intensif dibandingkan pada masa-masa sebelumnya. Mas Nganten mulai terlibat dalam proses produksi, sedangkan Mbok Mase Laweyan memegang peran di praproduksi (dalam mempersiapkan bahan produksi) dan pascaproduksi (proses pemasaran produk).

Pada dasarnya tidak ada yang negatif dari fenomena tersebut sebab pola equal partner mulai terjadi di lini kehidupan Mbok Mase Laweyan setelah pengarusutamaan gender masuk di lini kehidupan masyarakat.

Hal ini akan berpengaruh terhadap eksistensi Mbok Mase Laweyan dalam kiprah bisnis dan kehidupan sosial mereka. Penyebutan gelar Mbok Mase dalam kehidupan sehari-hari juga kian redup.

Melihat fakta temuan riset tersebut, tampak banyak hal yang mulai mengancam eksistensi Mbok Mase Laweyan, seperti disrupsi inovasi, masyarakat digital, ekses globalisasi terhadap regenerasi dan faktor ekonomi, serta faktor sosial masyarakat.

Roh dari Kampung Batik Laweyan adalah produksi batik yang lahir di sana dari semangat dan etos kerja Mbok Mase Laweyan. Eksistensi Mbok Mase Laweyan akan turut menjadi tolok ukur eksistensi batik di Kampung Batik Laweyan.

Eksistensi Mbok Mase menjadi bagian dari keberlangsungan Kampung Batik Laweyan di Kota Solo. Pertanyaannya, apakah figur Mbok Mase Laweyan dapat bertahan atau justru meredup karena arus disrupsi?