Belajar Manajemen Krisis Pengungsi ala Plan Einstein

Leica Kartika - Istimewa
02 Maret 2019 10:00 WIB Leica Kartika Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (26/2/2019). Esai ini karya Leica Kartika, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret, awardee UNS Global Challenge Study Abroad 2018 di Utrecht Summer School, Belanda. Alamat e-mail penulis adalah kartikaleica@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pada Juli 2018 lalu saya mendapatkan kesempatan mengikuti Summer School di Utrecht University dengan dukungan beasiswa Global Challenge yang diberikan oleh Universitas Sebelas Maret.

Program yang saya ikuti merupakan sebuah program multidisipliner yang bertema Global Challenge: Local Responses towards the International Refugee Crisis.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada topik refugee wave atau gelombang pengungsi dalam studi hubungan internasional, namun juga berfokus dalam studi mengenai sejarah, hukum, ekonomi, dan sosiologi.

Selama satu pekan peserta program tersebut mengeksplorasi sebab, akibat, dan langkah-langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Utrecht, Belanda, dalam menghadapi gelombang pengungsi yang terjadi di Benua Eropa sejak 2015.

Imigran (migrant) dan pengungsi (refugee) merupakan dua subjek yang berbeda. Imigran merupakan seseorang yang meninggalkan negara asal untuk berpindah ke negara lain atas tujuan tertentu, baik ekonomi, sosial, maupun budaya.

Pengungsi merupakan status yang didapatkan oleh seorang imigran apabila dirinya telah memenuhi syarat-syarat yang dinyatakan dalam Konvensi PBB tahun 1951 mengenai pengungsi.

Konvensi tersebut menyatakan pengungsi adalah status yang dimiliki oleh orang-orang yang kehidupan mereka terancam karena perang, diskiriminasi atas dasar agama, ras, kelompok sosial, maupun politik yang terjadi di negara asal (home country) dan mengakibatkan orang-orang tersebut berpindah ke negara lain (host country) atas dasar keamanan.

Untuk mendapatkan status sebagai pengungsi, seorang imigran pertama-tama harus mengajukan permohonan kepada negara tempat berada dengan menunjukkan dokumen resmi sebagai bukti bahwa mereka adalah seorang warga negara yang sah dan membutuhkan perlindungan.

Pro dan Kontra

Krisis dapat diartikan sebagai keadaan yang mengancam. Dalam krisis pengungsi (refugee crisis) yang terjadi di Eropa, kelompok tersebut disebut sebagai ancaman yang harus dihadapi oleh wilayah regional secara kolektif.

Pengunaan kata ”krisis” masih menimbulkan pro dan kontra di Eropa hingga saat ini. Saya sepakat bahwa krisis pengungsi lebih tepat disebut sebagai krisis humaniter karena munculnya pengungsi merupakan akibat dari terjadinya konflik dan diskriminasi.

Pengungsi bukanlah sebuah kelompok yang mengancam. Konflik dan diskriminasi sehingga menyebabkan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan adalah ancaman yang nyata.

Dalam menghadapi  ”krisis pengungsi”, Pemerintah Kota Utrecht merupakan salah satu yang paling ramah. Pemerintah Kota Utrecht mengutamakan kegiatan intergasi yang bertujuan mempermudah pengungsi bergabung ke dalam masyarakat baru.

Progam yang dibentuk atas kerja sama pemerintah kota dengan berbagai universitas, kelompok aktivis, dan lembaga swadaya masyarakat tersebut dinamakan Plan Einstein.

Program tersebut menyediakan tempat tinggal, pelatihan bahasa Inggris maupun bahasa Belanda, dan pendidikan atau sekolah gratis bagi para pengungsi di Kota Utrecht yang memperoleh pembiayaan langsung dari Uni Eropa.

Kompleks apartemen Plan Einstein tidak hanya khusus untuk pengungsi. Pemerintah kota juga menyewakan apartemen tersebut kepada para mahasiswa dan penduduk lokal. Adanya akses ke masyarakat secara langsung dan dekatnya wilayah tersebut dengan pusat kota mempermudah terjadinya proses integrasi.

Ditambah lagi dengan adanya kegiatan community gathering melalui perlombaan olahraga, pertunjukan musik, dan jamuan makan bersama. Melalui program tersebut, saya berkesempatan untuk mengunjungi tempat tinggal yang disediakan untuk para pengungsi yang berada di wilayah Utrecht Overvecht.

Secara langsung saya melihat proses integrasi tersebut. Walaupun awalnya sulit karena ada keterbatasan bahasa, integrasi adalah upaya yang lebih baik daripada menempatkan para pengungsi di fasilitas yang berlokasi di pinggiran kota dengan segala keterbatasan.

Pendidikan Gratis

Program tidak berhenti hanya di program integrasi milik Pemerintah Kota Utrecht. Keramahan kota tersebut terhadap para pengungsi juga dapat dilihat di bidang pendidikan.

InclUUsion merupakan sebuah program yang diinisiasi oleh Utrecht University. Program ini menyediakan pendidikan gratis bagi para pengungsi. Program tersebut memungkinkan setiap kelas di universitas menyediakan kuota tambahan bagi para pengungsi yang tertarik mengikuti kuliah sesuai dengan topik pilihan mereka.

Persyaratan untuk mengikuti InclUUsion sangat mudah, yaitu dapat memahami dan menggunakan bahasa Inggris. Program Summer School yang saya ikuti juga termasuk ke dalam program InclUUsion. Terdapat juga dua orang mahasiswa dengan latar belakang pengungsi yang turut mengikuti program tersebut.

Keduanya telah mendapatkan status pengungsi dari pemerintah Belanda dan telah menetap di negara tersebut selama beberapa tahun terakhir. Saya memperoleh kesempatan secara langsung mendengarkan cerita dan pengalaman mereka sebagai pengungsi, tentang bagaimana mereka memutuskan meninggalkan negara asal, kegigihan mereka menghadapi segala tentangan di negara tujuan, hingga akhirnya mereka dapat bergabung dengan masyarakat baru.

Di sisi dunia yang berbeda ini, saya mendapatkan banyak pelajaran mengenai konsep keramahan dan keterbukaan. Masyarakat dan pemerintah kota secara berdampingan berusaha menciptakan lingkungan dan kebijakan yang dapat memastikan seluruh penduduk merasa aman dan diterima dalam kehidupan bermasyarakat yang inklusif.

Keberadaan sebuah kelompok yang berbeda dengan penduduk lokal bukan merupakan ancaman, namun merupakan sebuah kesempatan agar dapat membangun masyarakat yang lebih kuat dengan menghargai perbedaan.