Muruah Persis Solo dalam Sejarah dan Lapangan Tipes

Muhammad Ilham Syifai - Istimewa
27 Februari 2019 10:00 WIB Muhammad Ilham Syifai Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (22/2/2019). Esai ini karya Muhammad Ilham Syifai, mahasiswa Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Alamat e-mail penulis adalah muhammad.ilham.s@mail.ugm.ac.id.

Solopos.com, SOLO -- Melihat persoalan Manajemen Persis Solo saat ini yang sedang kesulitan mencari stadion untuk dijadikan homebase pada kompetisi 2019 karena Stadion Manahan sedang direnovasi, saya tertarik mengulas sebuah cerita sejarah tentang pengurus Persis Solo masa lalu kukuh menjaga Persis Solo agar tetap berada di Kota Solo.

Kisah ini terjadi pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Tulisan ini bersumber dari beberapa koran lawas terbitan 1980-an dan wawancara. Kala itu, kandang Persis Solo, yaitu Stadion Sriwedari, sedang dipugar untuk dijadikan monumen Pekan Olahraga Nasional (PON) I.

Pada 1980-an itu Persis Solo juga sedang mengalami dekadensi prestasi dan eksistensi. Renovasi stadion yang sedang dilakukan tersebut praktis membuat Persis Solo harus mengungsi dan mencari tempat lain untuk menggelar pertandingan.

Memang cukup sulit bagi pengurus Persis mencari lapangan di Kota solo pada saat itu yang representatif untuk menggelar pertandingan. Pada 1980-an di Kota Solo memang banyak lapangan dan ruang terbuka yang beralih fungsi.

Lapangan Pamedan yang berada di depan Pura Mangkunegaran sebelah barat yang dahulu sering digunakan untuk bermain sepak bola dan pacuan kuda Legiun Mangkunegaran pada 1980-an separuhnya berubah menjadi hotel untuk menunjang pariwisata.

Di sebelah timur gedung SMPN 1 Solo yang pada masa pendudukan Jepang bernama gedung SMT (saat ini disebut SMA) pada masa itu ada lapangan olahraga yang bernama MULO Veld dan pada 1980-an berubah fungsi menjadi kantor pemerintahan serta permukiman para pegawai yang sudah maupun belum pensiun.

Di Kepatihan Kulon dulu ada lapangan olahraga yang dibangun oleh Sinuhun Paku Buwono X. Lapangan tersebut pada 1980-an dipakai untuk perluasan Gedung Konservatori Karawitan Indonesia. Selain itu, di daerah Penumping, Laweyan, dan Pucang Sawit, Jebres, juga ada lapangan terbuka namun keduanya sudah beralih fungsi.

Tim Bayangan

Lapangan di Pucang Sawit tersebut berubah menjadi pabrik plastik pada 1980-an. Beberapa lapangan di Kota Solo yang masih ada saat itu antara lain Lapangan Kartopuran, Lapangan Mangkubumen, Lapangan Manahan (masih berupa tanah lapang belum menjadi kompleks olahraga seperti saat ini), dan Lapangan Tipes.

Belum diketahui secara pasti apakah pada masa itu Lapangan Kota Barat sudah ada atau belum. Akibat sulitnya mencari tempat untuk latihan dan menggelar pertandingan, Persis Solo yang  pada 1982 dilatih oleh Radjiman (salah seorang veteran penggawa Persis Solo era 1940-an) membetuk dua tim bayangan untuk menyiasati permasalahan kesulitan lapangan ini.

Karena terpaksa mengungsi dan meninggalkan Stadion Sriwedari yang notabene adalah rumah utama Persis Solo sejak era kolonial, para pengurus Persis Solo pada masa-masa tersebut dengan tegas tanpa pertimbangan menolak memboyong Persis Solo keluar kota untuk menyelenggarakan pertandingan kompetisi perserikatan.

Kalau ingin meminjam stadion di luar kota alternatifnya adalah di Jogja yang saat itu punya Stadion Mandala Krida, di Magelang dengan Stadion Tidar, di Semarang dengan Stadion Diponegoro, atau yang terdekat yaitu Stadion Trikoyo di Kabupaten Klaten.

Stadion Trikoyo pada saat itu selain menjadi markas PSIK Klaten juga sering menjadi lokasi kejuaraan-kejuaraan sepak bola besar seperti Klaten Cup atau Merdeka Cup. Tentu bukan hal yang sulit bagi pengurus Persis Solo meminjam stadion di luar kota.

Pada saat itu wadah supporter memang belum terbentuk dan kondisi penonton sepak bola masih cukup kondusif, tidak ada ketegangan dan rivalitas yang berlebihan. Dengan berbagai pilihan lapangan di Kota Solo pada saat itu dan berbagai pertimbangan lainnya, para pengurus Persis Solo yang saat itu diketuai Sukarsono yang merupakan salah seorang petinggi Polisi di Kota Solo memilih menggunakan Lapangan Tipes untuk menggelar pertandingan-pertandingan resmi dan kompetisi Perserikatan bagi Persis Solo selama Stadion Sriwedari direnovasi hingga selesai  pada 1983.

Pemilihan Lapangan Tipes (ada beberapa sumber yang menyebut sebenarnya lapangan ini milik Polri) untuk dijadikan kandang sementara Persis Solo saat itu tentu melegakan para pencinta sepak bola di Kota Solo karena tidak perlu away ketika Persis Solo melakoni laga kandang.

Lapangan Banyak Kekurangan

Lokasi yang cukup dekat dengan Stadion Sriwedari dan mes pemain yang juga di Sriwedari membuat jangkauan tim ke lapangan tersebut tidak terlalu jauh. Tinggal lurus saja ke selatan sampai mentok di kanan jalan, di situlah lokasi Lapangan Tipes.

Lapangan yang mampu menampung ribuan penonton tersebut sebenarnya masih memiliki banyak kekurangan, seperti tidak memiliki tribun, tidak ada pagar pembatas, tidak punya saluran drainase, hingga lampu penerangan yang tidak ada.

Saat musim hujan lapangan tersebut sangat rentan becek dan tergenang air, apalagi ketika hujan deras. Saat musim kemarau panjang, lapangan menjadi berdebu. Meski dengan berbagai keterbatasan tersebut, pengurus Persis Solo tetap bertekat tidak menjauhkan Persis Solo dengan Kota Solo dan para pendukungnya.

Sebenarnya Lapangan Tipes merupakan lapangan yang pada saat itu sering digunakan juga oleh tim-tim internal Persis Solo untuk menggelar latihan maupun pertandingan kompetisi internal Persis. Beberapa tim internal Persis Solo yang menggunakan Lapangan Tipes untuk berlatih dan bertanding antara lain HWM, THOR, HW, dan lain-lain.

Menurut penuturan salah seorang veteran pemain dan Kapten Persis Solo era 1980-an yang dikenal dengan nama Bendot, kini pada usia senja masih menjadi penjaga keamanan di Rumah Susun Begalon Tipes, Lapangan Tipes yang cukup dekat dengan rumahnya itu punya  peran besar dalam kariernya bersama Persis.

Ia bercerita saat itu kalau ada tim internal Persis yang ingin menggunakan Lapangan Tipes biasanya tim tersebut satu rombongan menaiki truk bersama-sama. Bendot yang berumah cukup dekat dengan Lapangan Tipes, saat sore hari ingin melihat pertandingan sepak bola atau latihan bersama klubnya THOR, cukup berjalan kaki.

Berkompetisi

Persis Solo resmi mengunakan Lapangan Tipes sebagai markas pengganti Stadion Sriwedari sejak kompetisi Perserikatan 1978-1979 hingga 1982-1983. Meski menggunakan lapangan yang bisa dikatakan kurang layak, semangat Persis Solo mengarungi kompetisi Perserikatan tidak mengecewakan.

Perjuangan para pengurus Persis Solo pada saat itu untuk menggelar pertandingan kompetisi Perserikatan dibayar oleh para pemain Persis Solo dengan lolos ke putaran final Perserikatan zona Jawa Tengah.

Pada musim 1978-79 kompetisi Perserikatan memang belum menggunakan format promosi dan degradasi tetapi masih menggunakan format penyisihan antarzona dan pool.

Bagi tim/bond yang menjuarai tingkat zona berhak menuju putaran final nasional. Di putaran fnal zona jawa Tengah musim 1978-1979, Persis Solo berhadapan dengan PPSM Magelang, PSISra Sragen, dan PSIS Semarang.

Putaran final zona Jawa Tengah ini menggunakan format kompetisi penuh home and away bagi setiap tim. Sayangnya meski mampu mengalahkan PSISra dan PPSM Magelang di Lapangan Tipes, Persis Solo gagal melaju ke babak putaran final nasional kompetisi Perserikatan karena kalah saat menjamu PSIS Semarang di Lapangan Tipes.

Persis Solo harus puas menduduki posisi kedua setelah PSIS Semarang yang mampu menang 1-0 dan mengumpulkan 12 poin sehingga berhak menduduki peringkat pertama sedangkan Persis Solo menempati posisi kedua dengan lima poin dan menyusul di bawahnya PPSM Magelang dan PSISra Sragen.

Di kompetisi musim selanjutnya Persis Solo masih harus menggunakan Lapangan Tipes karena renovasi Stadion Sriwedari belum rampung. Tidak banyak sumber yang didapat tentang bagaimana Persis Solo mengarungi musim kompetisi ini karena sudah menggunakan sistem Divisi.  

Salah satu hasil pertandingan kompetisi Perserikatan zona V Jawa Tengah yang dilaksanakan di Lapangan Tipes adalah saat Persis Solo menjamu PPSM Magelang pada Januari 1983. Persis Solo mampu mengalahkan tamu tersebut setelah menang dengan skor 3-2.

Saat itu Persis Solo hanya didukung 10 orang pemain karena bek senior, Bendot, diganjar kartu merah oleh wasit bernama Mukminin. Animo masyarakat Solo pada saat itu, meski Persis  tidak berkandang di Stadion Sriwedari dan hanya menggunakan Lapangan Tipes yang sebenarnya kurang layak, tetap tinggi.

Mereka memenuhi pinggir lapangan dan jumlahnya mencapai ribuan orang. Suasana pun tetap kondusif tanpa kerusuhan maupun keributan penonton meski antara lapangan dan penonton tidak dibatasi oleh pagar pembatas.

Refleksi Masa Kini

Pada saat ini, kondisi Lapangan Tipes juga menyusul lapangan-lapangan dan lahan terbuka lain di Kota Solo yang berubah fungsi. Lapangan yang berperan penting menjaga muruah Persis Solo agar tetap ber-homebase di Kota Solo tersebut kini lenyap.

Lapangan Tipes berganti fungsi menjadi tempat perbelanjaan grosir modern. Setidaknya sejarah telah mencatat keluhuran perjuangan para pengurus Persis Solo pada masa lalu untuk menjaga muruah Persis Solo sebagai klub/bond sepak bola kebanggan masyarakat Kota Solo dengan tidak memindahkan homebase- ke kota.

Pada saat itu Kota Solo tak memiliki lapangan yang representatif untuk menggelar pertandingan sepak bola berskala nasional ketika Stadion Sriwedari direnovasi. Sejarah juga mencatat Lapangan Tipes merupakan kandang ketiga yang pernah digunakan Persis Solo sejak Persis berdiri pada 1923.

Kandang Persis Solo sebelumnya adalah Alun-alun Kidul Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat lalu Stadion Sriwedari. Persis Solo yang berkandang di Lapangan Tipes kembali ke Stadion Sriwedari setelah pemugaran selesai. Baru pada 2000-an, Persis Solo berkandang di Stadion Manahan.

Kondisi 1970-an akhir hingga 1980-an awal tersebut tidak berbeda jauh dengan kondisi Persis Solo saat ini, yaitu stadion homebase sedang direnovasi. Seyogianya seluruh elemen pencinta sepak bola dan para stakeholders di Kota Solo untuk bisa kembali memperjuangkan muruah Persis Solo yang merupakan ikon Kota Solo.

Perpindahan Persis Solo pada musim lalu ke Madiun, Jawa Timur,  sebenarnya memudarkan muruah Persis yang rohnya ada di Kota Solo. Sempat bergulir wacana Persis Solo pindah sementara ke Kota Bekasi, Jawa Barat, dan kini sedang diperjuangkan untuk bisa berkandang di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kedewasaan dan perilaku suporter, baik itu Pasoepati, Surakartans, maupun individu independen, harus mampu mencontoh pendukung Persis Solo dan masyarakat Solo era 1970-an akhir hingga 1980-an awal yang bisa menjaga ketertiban dan kondusivitas Kota Solo saat terselenggaranya pertandingan sepak bola.

Semoga impian melihat kembali Persis Solo berlaga di Stadion Sriwedari bukan hanya angan-angan karena Persis Solo telah lama tidak berlaga di singgasana keemasannya, yaitu Stadion Sriwedari, saat kompetisi resmi.