Hoaks Larangan Azan, Jokowi: Tidak Bisa Diterima Akal Sehat

Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Bisnis/Nurul Hidayat)
27 Februari 2019 20:45 WIB Stefanus Arief Setiaji Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus menyerukan kepada masyarakat untuk melawan berita-berita fitnah dan kabar palsu atau hoaks. Secara khusus Jokowi juga menyinggung isu yang menyebut perkawinan sesama jenis dan tidak ada lagi azan jika dirinya menang Pilpres 2019.

Penegasan Presiden Jokowi disampaikan saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konperensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) ke-2, di Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2/2019) siang, seperti dikutip Bisnis/JIBI dari keterangan resmi.

Presiden Jokowi menyinggung maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks dengan fitnah-fitnah menjelang hajatan besar Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

“Saya titip ini harus betul-betul direspons dengan baik oleh NU, terutama kalau ada fitnah-fitnah, isu-isu yang dari pintu ke pintu. Sudah dari pintu ke pintu, dari rumah ke rumah,” kata Jokowi.

Menurutnya, kalau yang disampaikan merupakan kebaikan, tentu memberikan hal positif. Berbeda jika yang disampaikan adalah hal-hal yang meresahkan dan mengkhawatirkan masyarakat,

Jokowi meminta hal ini yang harus dicegah dan harus direspons. “Kita harus berani merespons ini,” tegas Presiden.

Jokowi menunjuk contoh hoaks pemerintah akan melarang kumandang azan. Menurutnya, secara logika hal itu tidak bisa diterima akal sehat. Demikian juga terkait berita soal pemerintah akan melegalkan perkawinan sejenis.

“Kalau yang percaya hanya 20—30 kita diamkan tidak apa-apa tapi kalau sudah jutaan seperti itu harus direspons dan dijelaskan kepada umat, kepada santri-santri kita, kepada lingkungan-lingkungan kita,” ucapnya merujuk hasil survei yang menyebut masyarakat banyak yang percaya berita palsu.

Sumber : Bisnis/JIBI