Kuburan Tikus di Jalanan

Syifaul Arifin - Dokumen Solopos
26 Februari 2019 09:00 WIB Syifaul Arifin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (21/2/2109). Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah syifaul.arifin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Pernahkah Anda menabrak tikus atau bangkai tikus saat mengendarai sepeda motor atau mobil di jalanan Kota Solo dan kawasan sekitarnya? Kalau menabrak tikus yang masih hidup, mungkin jarang. Melindas bangkai tikus yang tergeletak di jalan, bisa jadi pernah atau malah sering.

Rasanya nggrenjel ketika ban mobil atau motor melindas tikus atau bangkai tikus lalu isi perut tikus terburai. Yang menjadi pertanyaan, tikus itu tertabrak saat menyeberang jalan atau dibuang ke jalan?

Asumsi tikus tertabrak saat menyeberang jalan, kemungkinannya kecil. Bisa jadi ada tikus yang berlari dari got ke got lain di seberang jalan, lalu tertabrak kendaraan. Sekali lagi, kemungkinan itu kecil.

Sedangkan kemungkinan kedua lebih masuk akal. Tikus itu dibuang dalam keadaan mati. Saya pernah mendapati tikus yang berada di jalanan itu dibungkus plastik kresek. Jadi itu menandakan tikus mati dulu, lalu dibungkus plastik oleh orang, kemudian dilempar ke jalanan.

Tujuan membuang tikus ke jalan adalah biar bangkai mudah terurai dan cepat kering. Seperti yang saya dapati di Jl. Adisucipto, Solo, Selasa (19/2), sekitar pukul 06.15 WIB. Pada pagi itu, saya melihat bangkai tikus dhedhel dhuwel terlindas ban kendaraan.

Saat siang hari saya melewati lokasi yang sama, bangkai itu kering bagaikan keripik. Tak terhitung berapa ban kendaraan yang melindas. Membuang tikus di jalanan sudah lama terjadi. Jalanan jadi kuburan tikus.

Enggan mengubur bangkai tikus yang terperangkap, warga memilih cara instan melempar tikus ke jalanan. Bisa jadi praktik itu dilakukan saat sepi pada malam hari atau pagi-pagi buta agar tak ada orang memergoki. Perilaku itu tidak hanya di kota.

Hasil Gropyokan

Di perdesaan pun terjadi. Di Kelurahan Mandan, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, petani nggropyok tikus yang menyerang sawah. Bangkai tikus-tikus hasil gropyokan itu dibuang ke jalanan. Coba bayangkan jika Anda melewati jalanan yang penuh bangkai tikus.

Hiii…, jijik kan? Bangkai itu mengundang lalat dan bibit penyakit. Aparat Polres Sukoharjo pada 6 Februari lalu membersihkan bangkai tikus dari jalanan karena ancaman penyebaran penyakit. Bangkai tikus-tikus itu kemudian dikubur.

Kenapa orang memilih cara yang tidak ”berperikehewanan”, bahkan menjijikkan itu? Yang jelas, cara itu cukup simpel, tidak perlu menggali tanah untuk mengubur bangkai tikus. Di perkotaan, lahan terbuka hijau jarang. Lahan di sekitar rumah kebanyakan dibeton.

Sebenarnya ini terkait dengan perilaku masyarakat yang memilih cara instan, tidak mau bersusah payah. Pada 6 April 1977, budayawan cum wartawan Mochtar Lubis memicu kontroversi saat menyampaikan pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Dalam acara itu, Mochtar Lubis menyebut sejumlah ciri orang Indonesia. Orang Indonesia itu hiprokrit alias munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya pada takhayul, artistik, dan berwatak lemah. Karakter lain manusia Indonesia, menurut Mochtar Lubis, adalah enggan bekerja keras kecuali kepepet dan menyukai sesuatu yang instan dan jalan pintas.

Perilaku masyarakat yang membuang bangkai tikus ke jalanan sesuai dengan pendapat Mochtar Lubis. Orang Indonesia termasuk wong Solo dan kawasan sekitarnya itu suka sesuatu yang instan. Tak perlu keluar keringat untuk menggali tanah untuk mengubur bangkai timus. Kalau di dekat situ ada sungai, kemungkinan bangkai itu dilempar ke sungai.

Ciri-ciri orang Indonesia yang disampaikan Mochtar Lubis merupakan pengembangan  dari pendapat Gunnar Myrdal dalam buku Asian Drama. Myrdal menyebut bangsa-bangsa di Asia tidak kekurangan sumber daya alam, namun kurang dalam sikap mereka terhadap diri sendiri dan kehidupan.

Orang Asia itu di antaranya tak berdisiplin saat bekerja, tak tepat waktu alias suka molor, tak teratur, percaya pada takhayul, kurang waspada, sulit beradaptasi dengan perubahan, tak ambisius, sulit bekerja sama, dan sebagainya. Anda boleh tak setuju dengan pendapat itu, namun saya akan beri contoh lagi tentang karakter masyarakat kita.

Membuang Sampah di Jalanan

Di jalanan, saya dan mungkin Anda sering  melihat orang membuang sampah ketika berkendara. Bagi yang naik mobil, tinggal buka jendela lalu melempar plastik bekas pembungkus makanan, tisu, dan botol ke jalan. Yang mengendarai sepeda motor juga tak mau kalah.

Saya menyebut orang yang melakukan itu sebagai orang yang suka kebersihan. Mereka tak ingin mobil yang bagus kotor oleh sampah. Yang naik sepeda motor juga tak ingin tas atau saku jadi tempat sampah sementara.

Mereka memilih membuang sampah sembarangan. Jadi, anggapan mereka tak suka kebersihan adalah kurang tepat. Yang lebih tepat adalah mereka suka kebersihan di rumah dan mobil mereka sendiri namun tak peduli lingkungan kotor.

Orang seperti ini bisa disebut egois. Yang penting mobil mereka bersih. Yang penting rumah mereka bebas dari sampah.  Soal jalanan jadi kotor, sungai penuh sampah, itu urusan orang lain. Terkait hal ini, Jalaluddin Rakhmat dalam buku Rekayasa Sosial menjelaskan karakter orang-orang yang lama berada di bawah rezim totaliter.

Istilah yang dia pakai adalah homo sovieticus. Orang yang lama berada di bawah rezim otoriter mengalami pecah kepribadian, antara sesuatu yang bersifat privat dan publik.  Di Polandia, merujuk hasil penelitian, orang tidak memiliki perasaan memiliki terhadap barang-barang publik.

Sebaliknya, terhadap barang-barang privat, mereka sangat menjaga. Merusak barang milik pemerintah tak apa-apa, namun jika mencuri barang milik pribadi, pelaku bisa dipukuli masyarakat. Karakter seperti yang disebut Jalaluddin itu masih terlihat di masyarakat kita.

Orang tidak peduli membuang sampah ke saluran air atau sungai menyebabkan saluran pampat dan banjir serta orang lain kesusahan karena kebanjiran. Yang penting dirinya aman, rumahnya bersih. Mengubah perilaku tidak mudah.

Gunnar Myrdal menyatakan negara-negara Asia yang dia sebut sebagai soft states (negara-negara lunak) memiliki disiplin sosial rendah. Untuk itu, ada dua hal yang jadi solusi, yakni kemampuan politik yang kuat dan keteladanan pemimpin. Contohnya adalah Singapura yang masyarakatnya berdisiplin karena dua faktor tadi.