Bendahara Vatikan Dinyatakan Bersalah Lakukan Pelecehan Seksual

Kardinal George Pell saat tiba untuk menghadiri persidangan kasusnya di Melbourne, Australia, Selasa (26/2/2019). - JIBI/Solopos/Reuters
26 Februari 2019 15:00 WIB R Bambang Aris Sasangka Internasional Share :

Solopos.com, MELBOURNE – Bendahara Vatikan Kardinal George Pell dinyatakan bersalah atas lima dakwaan melakukan kejahatan seksual terhadap anak-anak yang dilakukannya lebih dari 20 tahun silam di Australia. Pell pun menjadi tokoh Katolik paling senior yang didakwa atas kasus kejahatan seksual terhadap anak-anak.

Putusan bersalah ini dipublikasikan pada Selasa (26/2/2019) menyusul adanya pencabutan pelarangan publikasi atas proses pengadilan Pell yang berlangsung pada 2018. Pell dinyatakan bersalah oleh dewan juri dalam persidangan di County Court of Victoria di Melbourne, Australia, pada 11 Desember lalu. Persidangan terhadap Pell berlangsung selama empat pekan.

Dia disidangkan atas lima dakwaan melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah anak berusia 13 tahun anggota kelompok paduan suara di Katedral St. Patrick, Melbourne, 22 tahun silam. Saat itu Pell menjabat sebagai uskup agung setempat. Salah satu dari dua korbannya meninggal dunia pada 2014.

Masing-masing ancaman hukuman bagi lima dakwaan yang dikenakan kepada Pell adalah maksimal 10 tahun penjara. Pengacara Pell sudah mengajukan banding atas putusan bersalah itu, yang jika diterima bisa membuat kasus itu disidangkan ulang. Pell selama ini tidak ditahan karena membayar uang jaminan.

Vatikan pada Desember lalu mengumumkan bahwa Paus Fransiskus telah mengeluarkan Pell, 77, dari kelompok penasihat terdekatnya. Namun pernyataan Vatikan tidak menyinggung soal persidangan terhadap Pell.

Sekolah tempat Pell dulu bersekolah, St. Patrick's College di Ballarat, lebih kurang 120 km dari Melbourne, menyatakan bakal mencabut penamaan salah satu bangunannya yang sebelum ini dinamai atas nama Pell untuk menghormatinya. Sekolah itu juga mencabut status Pell sebagai salah satu “legenda” sekolah serta menghapus namanya dari daftar alumni yang menjadi pemuka Katolik.

“Keputusan juri pengadilan menunjukkan bahwa perilaku Kardinal Pell tidak sesuai dengan standar bagi siapa pun yang kami kategorikan sebagai teladan bagi generasi muda yang kami didik,” ujar kepala sekolah itu, John Crowley, dalam sebuah pernyataan.

"Seperti halnya banyak penyintas dari kasus sejenis ini saya merasakan malu dan hina, kesepian, depresi, dan perjuangan yang sulit. Sebagaimana para penyintas yang lain saya butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami dampak hal ini terhadap hidup saya,” kata salah satu korban Pell dalam pernyataan yang disampaikan melalui pengacaranya, Selasa. “Proses ini sangat menekan dan belum selesai. Saya butuh waktu dan ruang untuk beradaptasi dengan seluruh proses peradilannya,” sebut korban itu pula.

Sumber : Reuters