Perlu Langkah Segera Benahi Sampah

Maharanny Diwid Prasetyawati - Istimewa
25 Februari 2019 11:00 WIB Maharanny Diwid Prasetyawati Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (23/2/2019). Esai ini karya Maharanny Diwid Prasetyawati, statistisi ahli di Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah maharannydp@bps.go.id.

Solopos.com, SOLO -- Sepuluh tahun silam, tepatnya tahun 2008, dirilis sebuah film berjudul Wall.E yang mengisahkan tentang bumi yang dipenuhi sampah yang tidak didaur ulang sehingga manusia harus diungsikan ke kapal luar angkasa selama lima tahun selagi bumi dibersihkan.

Sepintas memang hanya cerita khayalan, namun kenyataan bahwa sampah memang masalah yang mengancam tak dapat dielakkan. World Bank menyatakan manusia di dunia ini menghasilkan sampah rata-rata 3,5 juta ton per hari.

Jika pola hidup manusia tak berubah, pada 2025 diprediksi sampah yang dihasilkan manusia mencapai hampir dua kali lipat, yakni enam juta ton per hari. Masalah sampah tak bisa dipandang sebelah mata.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada 2016 timbulan sampah di Indonesia mencapai 65,2 juta ton per tahun. Data juga bercerita bahwa Pulau Jawa adalah penghasil sampah terbanyak di Indonesia.

Tak kurang dari 35% sumber sampah berasal dari Pulau Jawa. Jawa Tengah berada pada posisi ketiga sebagai penghasil sampah terbesar di Indonesia setelah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Pada 2011 Jawa Tengah menghasilkan sampah rata-rata 24 ribu meter kubik per hari. Angka itu terus meningkat hingga pada 2017 mencapai lebih dari empat kali lipat. Telah kita ketahui bersama bahwa penumpukan sampah yang tidak terkendali dapat berampak buruk pada berbagai aspek lingkungan.

Penurunan Kualitas Lingkungan

Rembesan air sampah mengandung racun leachate yang dapat terserap ke tanah dan mengalir ke sungai, air tanah, dan lautan. Penurunan kualitas lingkungan hidup memang terjadi di Jawa Tengah. Hasil pendataan Potensi Desa 2014 dan 2018 menunjukkan terjadi peningkatan jumlah desa yang mengalami pencemaran air.

Sebesar 11% desa di Jawa Tengah mengalami pencemaran air pada 2014 dan persentasenya meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2018, yakni 29%. Sejumlah sungai besar juga masih berstatus tercemar berat seperti Sungai Cisanggarung, Sungai Citanduy, dan Sungai Progo.

Tumpukan sampah secara tidak langsung dapat menimbulkan bencana seperti banjir dan sumber penyakit diare (UN-Habitat). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana banjir di Jawa Tengah meningkat dari 136 kejadian pada 2016 menjadi 192 kejadian pada 2017.

Penyakit diare pun meningkat dan tidak semuanya dapat tertangani. Pada 2016, Jawa Tengah merupakan satu dari tiga provinsi di Indonesia yang terdapat kematian pada kasus luar biasa diare. Peran pemerintah tentu sangat krusial dalam penanggulangan sampah.

Sangat disayangkan bahwa persentase APBD untuk lingkungan hidup terhadap total APBD Provinsi Jawa Tengah justru semakin menurun dari tahun ke tahun. Setelah berada pada kisaran 0,3% pada 2015, dana APBD untuk lingkungan hidup menurun menjadi 0,1% pada 2016 dan bahkan tak tercatat pada 2017.

Masalah sampah memang tak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Banyak yang dapat dilakukan masyarakat untuk membantu mengerem pertumbuhan timbulan sampah pada masa mendatang.

Memahami Pembentuk Sampah

Masyarakat perlu berbenah untuk masa depan lingkungan yang lebih baik. Langkah yang dapat diambil sebagai bentuk aksi penanggulangan sampah akan lebih tepat jika terlebih dahulu diketahui komponen pembentuk sampah terbanyak.

Jika dilihat per komponen pembentuknya, sampah yang mendominasi adalah sampah makanan dengan komposisi hampir mencapai 50%. Di wilayah sentra pertanian, seperti Kabupaten Brebes dan Kabupaten Temanggung, persentase sampah makanan mencapai lebih dari 70%.

Terdapat indikasi bahwa sampah makanan tidak hanya dihasilkan oleh rumah tangga, namun lebih banyak dari hasil pertanian terutama hortikultura yang banyak terbuang. Langkah paling sederhana untuk berbenah adalah dengan merencanakan pembelanjaan yang tepat dan mengubah pola hidup.

Pada zaman sekarang ketika makanan instan sangat mudah didapat, tendensi bahan makanan segar tidak terpakai dan risiko terbuang pun amatlah besar. Diperlukan pengetahuan di kalangan masyarakat tentang bagaimana menyimpan bahan makanan dengan baik agar tidak mudah busuk.

Selain itu, diperlukan pula pembekalan kepada petani, terutama penghasil hortikultura, untuk mengolah hasil pertanian secara lebih lanjut dan menjual dalam bentuk lain.

Plastik Kian Dominan

Hal ini penting terutama ketika memasuki masa panen raya ketika produksi sangat besar jumlahnya dan tidak semuanya dapat terserap di pasar konsumen dalam waktu cepat.

Komposisi dominan kedua sampah di Jawa Tengah adalah plastik dengan porsi di kisaran 17%. Sifat plastik yang tak mudah didegradasi serta tingginya potensi multidampak yang ditimbulkan membuat sampah plastik menjadi tantangan tersendiri untuk diselesaikan.

Plastik mengandung polutan atau racun yang dapat merusak lahan, air, bahkan udara. Komponen mikro plastik o dapat membahayakan satwa jika termakan. Masalah plastik menjadi sulit ditangani mengingat masyarakat masih meremehkan dampak buruk plastik tersebut.

Kebijakan plastik berbayar di tempat perbelanjaan dipandang akan sangat efektif untuk mengurangi konsumsi palstik, namun hanya sedikit yang konsisten menjalankan program in ini hingga saat ini.

Ketiadaan payung hukum yang jelas dan tegas serta minimnya sosialisasi kepada masyarakat membuat kebijakan ini tidak berjalan dengan baik. Tak ada solusi yang lebih efektif selain membenahi mindset atau pola pikir dan gaya hidup.

Tanamkan pada setiap individu mengenai dampak buruk menggunungnya sampah untuk mencegah timbulan yang lebih masif pada masa mendatang. Terkait timbulan sampah yang sudah terjadi, pemerintah harus menggandeng banyak pihak untuk memanfaatkan sampah menjadi barang lain dengan nilai tambah.

Tak hanya daur ulang dalam format yang sama, namun pengolahan sampah lebih lanjut menjadi bahan bakar alternatif layak dipertimbangkan. Penanggulangan sampah memang tidak mudah, namun tak ada kata terlambat untuk berbenah.