Kronologi Meninggalnya Noeim Baasyir di Solo

Narapidana kasus terorisme Noeim Baasyir (kiri) menunjukkan bukti surat keterangan bebas murni begitu keluar dari LP Kelas IIB Tulungagung, Selasa (19/2 - 2019). (Antara/Destyan Sujarwoko)
24 Februari 2019 18:15 WIB Ratih Kartika Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Mantan narapidana kasus terorisme (napiter), Noeim Ba'asyir, 45, meninggal dunia karena sakit, Sabtu (23/2/2019). Keponakan Abu Bakar Ba'asyir itu meninggal setelah sempat mendapat pertolongan di Rumah Sakit Umum Islam (RSUI) Kustati Solo.

Informasi yang diperoleh Solopos.com, Noeim meninggalkan seorang istri, Nunik, 42, dan seorang putra, Ukasa Al Muwahid, 13. Adik kandung Noeim, Muhammad Fauzi, mengatakan kakaknya awal mulanya akan menghadiri acara walimatul ursy (pernikahan) temannya.

Dia berangkat bersama isteri. Di tengah perjalanan saat memboncengkan sang istri, Moein merasakan nyeri di dada.

"Karena almarhum mengidap asma kemudian almarhum menghirup inhaler tetapi sudah tidak ada efeknya. Kemudiam almarhum bersama istri menuju [RSUI] Kustati untuk dibantu dengan Nebulizer [alat yang digunakan untuk memasukkan obat dalam bentuk uap untuk dihirup ke paru-paru]," jelas Muhammad Fauzi kepada wartawan rumah duka di RT 003/RW 004, Kelurahan Joyotakan, Minggu (24/2/2019).

Nebulizer ternyata juga tidak memberikan pengaruh. "Saya ditelepon dan bergegas ke sana [RSUI Kustati]. Saat di sana, monitor sudah bergaris lurus, tapi dokter masih berusaha. Akhirnya 15 menit kemudian dokter menyerah, almarhum dinyatakan meninggal dunia hampir pukul 21.00 WIB," jelas Fauzi .

Fauzi mengatakan Noeim sudah mengidap asma sejak lama. Penyakit tersebut diderita karena faktor keturunan. "Ibu kami juga menderita asma. Asmanya sudah tahunan," ujar Fauzi.

Noeim baru lima hari lalu dibebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II B Tulungagung, Jawa Timur. Ia bebas pada Selasa (19/2/2019), setelah menjalani hukuman enam tahun penjara.

Dahulu Noeim Ba'asyir merupakan salah satu pimpinan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) yang terlibat kasus terorisme. Pada 2014, ia divonis enam tahun penjara. Noeim menjalani hukuman di beberapa LP di Jatim. Sebelum menghuni LP Tulungagung sejak 25 Juli 2017, Noeim Ba'asyir pernah mendekam di Lapas Sumenep dan Lapas Tuban.

Pemakaman

Sementara itu, informasi yang diperoleh Solopos.com, dua putra Abu Bakar Ba'asyir melayat di rumah duka Noeim Ba'asyir di RT 003/ RW 004, Kelurahan Joyotakan, Serengan, Solo. Keduanya yakni Abdul Rachim Ba'asyir atau Iim dan Muhammad Abdul Rosyid.

Sekitar pukul 08.30 WIB, jenazah Noeim disalatkan di Masjid Riyadlul Falah Padangan yang berlokasi di samping rumah duka. Ratusan pelayat ikut menyalatkan jenazah Noeim.

Seusai disalatkan, jenazah Noeim Ba'asyir dibawa ke TPU Muslim di Desa Wonosari, Polokarto, Sukoharjo, untuk dimakamkan. Istri Noeim, Nunik, sempat pingsan dan kemudian dibawa ke dalam mobil.

Proses Pembebasan

Noeim Ba'asyir dibebaskan pada 19 Februari 2019. Beberapa bulan sebelum bebas, Noeim sempat dijenguk oleh adiknya, Muhammad Fauzi. Namun, Noeim tidak ingin dijenguk dengan alasan segera bebas pada Februari 2019.

"Alhamdulillah almarhum saat menghirup udara segar dalam keadaan segar, enggak apa-apa, bercanda biasa. Orangnya cukup humoris. Di sana kepala LP dan beberapa petugas juga menangis saat almarhum bebas. Almarhum disuruh main lagi ke sana," ujar Fauzi.

Menurut Fauzi, Noeim hanya minta dijemput saat bebas. Akhirnya lima hari yang lalu Fauzi bersama istri Moein pergi menjemput.

"Sebagai adik harus saling menyupport [mendukung]. Saya sering besuk almarhum saat masih di penjara. Terakhir besuk Desember atau November 2018 tapi dilarang. Enggak usah bezuk, Februari 2019 udah mau bebas," ujar Fauzi menirukan perkataan Noeim.

Sebelum pulang, Noeim juga sempat mampir ke rumah ibu kandungnya, Farida. Tak dinyana pertemuan tersebut merupakan pertemuan terakhir Noeim dengan ibu kandungnya.

"'Mih, saya pulang mih', begitu kata almarhum saat bertemu ibu. Ibu saya sudah sepuh. Itu adalah pertemuan almarhum dengan ibu untuk yang terakhir kalinya," papar Fauzi.

Fauzi menjelaskan satu keinginan Noeim yang belum terlaksana yakni bertemu pamannya, Abu Bakar Ba'asyir. "Belum bisa menghubungi ustaz Abu Bakar. Almarhum hanya ingin besuk pamannya. Kangen sudah berapa tahun enggak jumpa," kata Fauzi.