Kompetensi Tenaga Kerja pada Era Digital

Octavia Permatasari - Istimewa
22 Februari 2019 10:00 WIB Octavia Permatasari Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (19/2/2019). Esai ini karya Octavia Permatasari, mahasiswa Pascasarjana Service Managemenet Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti Jakarta. Alamat e-mail penulis adalah permatasarioctavia@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Perubahan teknologi selama beberapa tahun terakhir sangat mengesankan. Salah satu contohnya adalah perkembangan smartphone. Pada 12 yang lalu kebanyakan orang menggunakan telepon seluler mereka semata-mata untuk berkomunikasi lisan dan mengirim pesan teks.

Ketika Iphone kali pertama diluncurkan pada 2007, segalanya berubah dengan cepat. Smartphone sekarang merupakan perangkat berteknologi tinggi yang dilengkapi dengan global positioning system dan akses Internet yang membentuk kehidupan orang-orang masa kini.

Dewasa ini teknologi berdampak positif terhadap masyarakat Indonesia, khususnya pada dunia kerja yang berubah secara substansial. Menggunakan perangkat digital merupakan bagian integral dari banyak pekerjaan era kini yang memungkinkan karyawan melakukan pekerjaan mereka secara lebih efektif dan efisien.

Berdasar data dari World Bank, Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia, dan We Are Social, pengguna aktif Internet pada 2018 di Indonesia mayoritas adalah penduduk perkotaan, yaitu sebanyak 72,4%, penduduk semiperkotaan 49,4%, dan penduduk perdesaan 48,2% dari 261,12 juta populasi penduduk Indonesia.

Ini berarti setengah dari populasi penduduk Indonesia dapat mengakses Internet dari komputer maupun smartphone mereka. Financial technology atau biasa disebut fintech di Indonesia telah berkembang pesat, salah satunya yaitu fintech payment.

Teknologi pembayaran yang sering dipergunakan oleh banyak masyarakat Indonesia adalah Go-Pay, Ovo, Dana, Telkomsel t-cash, Mandiri e-cash, dan lain sebagainya. Kebutuhan suatu organisasi dalam pengembangan digitalisasi membutuhkan kompetensi yang unik, yaitu harus update dengan teknologi informasi, teknologi Internet, dan risiko dari transaksi.

Sebagai contoh, e-market yang telah update dengan teknologi fintech payment adalah Grab dan Tokopedia yang baru-baru ini berkolaborasi dengan Ovo sebagai metode pembayaran nontunai.

Semakin banyak masyarakat yang memliki uang di smartphone mereka, terjadilah perang dompet digital yang sangat sengit karena ekspansi besar-besaran oleh e-market.

Korporasi Sangat Besar

Hal ini memunculkan kekhawatiran bagi badan usaha milik negara karena operasi Go-Pay dan Ovo yang belum mencapai tahun kelima sudah menjadi korporasi yang sangat besar.

Berdasarkan survei pengguna dompet digital dari Daily Social FinTech Report 2018, Go-Pay dan Ovo merupakan aplikasi terbanyak yang digunakan oleh masyrakat Indonesia, Go-Pay sebesar 79,39% dan Ovo 58,42%. Masyarakat merasakan kedua aplikasi ini mudah digunakan.

Aplikasi ini memberikan keuntungan efisiensi waktu. Pengguna dapat memanfaatkan aplikasi ini hanya dengan smartphone.
Tidak perlu ke bank untuk melakukan transaksi.

Oleh karena itu, perlu peningkatan inovasi yang terintegrasi agar badan usaha milik negara dapat menggaet hati masyarakat sehingga masyarakat dapat menikmati layanan yang sama.

Digitalisasi dapat meningkatkan kemakmuran suatu negara dan merupakan pendorong utama transformasi pasar kerja yang akan menciptakan peluang untuk orang banyak.

Penelitian dari Oxford Economics menunjukkan kemajuan teknologi telah menjadi kontributor utama terhadap peningkatan pendapatan per kapita sebanyak delapan kali lipat.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperkirakan penjualan perdagangan online di Indonesia akan tumbuh delapan kali lipat, yaitu sebesar US$55 miliar hingga US$65 miliar pada 2022.

Berdasarkan data dari Deloitte Access Economics 2015, potensi manfaat teknologi digital untuk usaha kecil dan menengah di Indonesia pada 2025 adalah dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara sebanyak 2%.

Manfaat lainnya adalah menciptakan pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi sebanyak 80%, meningkatkan lapangan kerja menjadi 1,5 kali lipat, dan inovasi meningkat 17 kali lipat dibanding aktivitas offline. Digitalisasi merupakan salah satu sektor yang akan mendorong ekonomi Indonesia.

Bain & Company di Martket Outlook yang diselenggarakan oleh BKPM di Ritz Carlton pada 13 Februari 2019 menyatakan 49% investor percaya Indonesia akan menjadi pasar ekonomi digital terpanas kedua di Asia Tenggara pada 2019 setelah Singapura.

Peran pemerintah untuk mendorong usaha kecil dan menengah sangatlah penting. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan akses broadband. Akses Internet di Indonesia masih relatif mahal dan lambat.

Peningkatan akses broadband dan kualitas layanan akan mendorong adopsi teknologi digital oleh usaha kecil dan menengah dan meningkatkan kinerja teknologi.

Cakupan Aktivitas Pembayaran

Hal ini juga akan memperluas cakupan dan aktivitas pembayaran elektronik dengan meningkatkan kepercayaan pada program pembayaran e-commerce, yaitu memperluas sistem pembayaran alternatif yang akan meningkatkan volume transaksi digital.

Perkembangan teknologi digital telah menciptakan pekerjaan baru, tetapi juga hilangnya beberapa pekerjaan. Pada tahun-tahun mendatang perkembangan teknologi seperti big data, cloud computing, Internet, robotika, dan artificial intelligence cenderung memiliki dampak yang signifikan terhadap dunia kerja.

Tidak mengherankan ini menimbulkan sedikit kekhawatiran di kalangan karyawan, bahwa mungkin tidak ada cukup banyak pekerjaan untuk mereka pada masa depan.

Selain itu, semua pihak perlu memastikan setiap orang dapat memperoleh manfaat dari digitalisasi serta mengembangkan sudut pandang di setiap tantangan pembangunan ketenagakerjaan.

Ketidakcocokan yang mungkin muncul pada masa depan antara penawaran dan permintaan di pasar kerja perlu diatasi. Dapat juga diterapkannya kebijakan yang membantu kompetensi para pekerja dan pengusaha agar beradaptasi terhadap dampak digitalisasi dan otomatisasi pada pekerjaan.

Edukasi dan pelatihan bisa menjadi pilihan. Pelatihan kepribadian adalah cara yang sangat penting untuk mempersiapkan dan mempertahankan para pekerja (pada masa depan) di pasar kerja dengan peningkatan kompetensi.

Sejak usia muda, orang harus disadarkan bahwa masa depan mereka tidak hanya terdiri dari satu karier, tetapi lebih. Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi harus dirangsang sejak usia muda. Untuk menyelaraskan keterampilan, penawaran, dan permintaan pekerja perlu kolaborasi erat antara pemerintah, pengusaha, dan dunia pendidikan.

Pada era digital ini, para karyawan perlu diberi peluang untuk beralih dari replikasi ke kreasi. Merangsang frekuensi kerja otak karyawan dapat menciptakan kompetensi, keseimbangan, dan kesejahteraan yang lebih baik bagi karyawan sambil meningkatkan kreativitas, inovasi, dan menjadi bagian kreator dalam dunia teknologi.

Digitalisasi akan membentuk pasar kerja jika kita berfokus kepada nilai-nilai kemanusian sehingga teknologi dan manusia dapat bersama-sama menciptakan masa depan yang cerah.