Kedewasaan Indonesia, Franz Magnis Suseno Contohkan Gus Dur, Megawati, & Amien Rais

Akbar Tandjung (kiri), Masdar Farid Mas'udi, dan Franz Magnis Suseno di Jakarta, Selasa (28/2 - 2012). (Bisnis/Nurul Hidayat)
22 Februari 2019 21:41 WIB Iskandar Nasional Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Rohaniwan dan budayawan, Frans Magnis Suseno, menilai bangsa Indonesia sudah dewasa dalam berdemokrasi. Salah satu indikasinya adalah masyarakat sudah bisa menerima jika kandidat yang didukung kalah dalam pemilu.

“Saya kadang-kadang mendengar orang Indonesia belum siap menggelar pemilu damai, itu tidak betul. Karena orang Indonesia tahu apa yang mereka kehendaki dalam memberikan suara. Selain itu, orang Indonesia bisa menerima jika kandidat yang didukung kalah,” ujar dia saat menjadi narasumber pada Seminar Nasional Peran Ormas dalam Menciptakan Pemilu Damai di Aula Moh Djazman kompleks Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kartasura, Sukoharjo, Jumat (22/2/2019) sore.

Narasumber lainya yang hadir antara lain mantan Ketua KPK periode 2010-2011 Busyro Muqoddas; Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti; Ketua PBNU Pusat, Imam Aziz; Komisioner KPU, Pramono Ubaid Tantowi; serta aktivis Perludem, Titi Anggraini.

Menurut Franz mengharapkan Pemilu 2019 beradab dan damai. Selain itu juga bisa mempersatukan ormas-ormas yang mempunyai pengaruh besar karena mereka mempunyai pengaruh di masyarakat.

Bagi Franz pemilu damai menarik diwujudkan apalagi Indonesia dinilai sudah mempunyai beberapa pemilu yang damai mulai 1955. Kalau di Filipina, kata dia, setiap pemilu ada 100 orang mati, tapi tidak di Indonesia.

Dia berpendapat semua founding fathers Indonesia ingin Indonesia menjadi demokratis. Akhirnya demokrasi di Indonesia terwujud setelah Presiden Soeharto turun tahta. Franz menganggap demokrasi penting diperjuangkan.

Namun dia tidak sependapat pernyataan yang menyebut bahwa demokrasi Indonesia dibajak liberalisme. Karena demokrasi Indonesia dinilai memberi hak kepada rakyat kecil untuk menyatakan sesuatu.

“Sebagai seorang Katolik bisa mengatakan, tahun 1998 dan seterusnya di Indonesia di bawah rezim yang otoriter menjadi demokrasi atas dasar Pancasila. Yang menjadi demokrasi terbesar ketiga di dunia. Meski masih banyak kelemahan toh sesuatu yang berjalan itu seluruhnya dilakukan hampir seluruhnya oleh tokoh-tokoh dengan identitas Islami yang kuat.”

Franz juga melihat peran tokoh-tokoh lainnya seperti Megawati, Habibie, Gus Dur, serta Amien Rais yang meski kadang Franz berseberangan pendapat. Saat menjadi Ketua MPR, Amien dinilai sudah membawa MPR mengamandemen UUD 1945 menjadi demokratis dan memasukkan hak asasi ke dalamnya. Franz menilainya sebagai prestasi luar biasa.

Mengutip salah satu tokoh berpengaruh Indonesia, Jimly Assiddiqie, Franz juga tak khawatir Indonesia akan menjadi Negara Islam seperti dikhawatirkann warga nonmuslim. Dia menilai tokoh-tokoh Islam justru membuat Indonesia menjadi negara demokrasi berdasarkan Pancasila.

Dia menjelaskan Indonesia yang 87 persen penduduknya beragama Islam tentu bisa menentukan berbagai hal. Untuk itu warga muslim harus kerasan tinggal di Indonesia dan aspirasinya terpenuhi dengan demikian maka negara akan stabil.