Mahfud MD Ungkap Gerakan Kacaukan Pemilu: Bakar Kendaraan & Hoaks 7 Kontainer

Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan yang juga mantan Ketua mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, berbicara dalam Dialog Kebangsaan Seri VI di Pendopo Stasiun Solo Balapan, Rabu (20/2 - 2019). (Solopos/Nicolous Irawan)
22 Februari 2019 19:10 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, BANYUWANGI -- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengungkapkan adanya tiga model gerakan yang bertujuan mengacaukan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Salah satunya ledakan di Jakarta saat debat kedua calon presiden, Minggu (17/2/2019) malam.

Selain ledakan saat debat capres, ada juga teror pembakaran mobil dan motor di Jawa Tengah dengan pola yang sama dan jam kejadian juga sama. Ketika ada yang tertangkap dan mengaku iseng, akan tetapi keesokan harinya kembali terjadi.

"Dua minggu lalu saya bertemu Kapolri katanya sudah ada 27 kasus. Dengan pola yang sama itu merupakan gerakan mengacau pemilu," kata Mahfud MD seusai menghadiri kegiatan Jelajah Kebangsaan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (22/2/2019).

Selain itu, lanjut Mahfud MD, saat ini banyak beredar berita bohong atau hoaks yang jelas tidak benar hingga masyarakat resah. Contoh hoaks itu adalah isu dicoblosnya surat suara sebanyak tujuh kontainer, dan isu KH Ma'ruf Amin akan diganti di tengah jalan jika pasangan Jokowi-Maruf menang Pilpres 2019. Padahal, semua informasi itu tidak berdasar.

Mahfud mengatakan gerakan mengacau pemilu yang lainnya adalah munculnya isu yang bertentangan dengan akal sehat, seperti KPU dinilai sebagai antek dan didekte oleh pemerintah.

"Percayalah tuduhan itu tidak benar, karena selama saya menjadi Ketua MK, mengadili kasus-kasus seperti itu KPU independen, dan KPU itu dibentuk oleh partai politik, tapi kenapa dituduhkan kepada petahana. Mohon maaf Anda boleh pilih siapa saja, tetapi Anda melakukan sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat itu sama saja merongrong pemilu dan kredibilitas pemilu," ujar pria kelahiran Madura itu.

Mahfud MD berpesan dari kubu manapun agar tidak memproduksi dan menyebar berita-berita hoaks dalam pemilu. "Janganlah menyebar berita hoaks, kita akan terhormat apabila fair dalam kontestasi, karena hoaks hasilnya tidak akan baik dan menimbulkan sakit hati antara satu dengan yang lain. Tetapi apabila kalah secara terhormat dan menang secara terhormat, maka negara ini dapat berjalan dengan baik," tuturnya.

Sumber : Antara