Cerita Said Didu Soal Prabowo Beli 220.000 Hektare Tanah di Kaltim

Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto dalam debat capres II Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2 - 2019). (Antara/Akbar Nugroho Gumay)
21 Februari 2019 15:30 WIB Yusran Yunus Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Polemik pernyataan capres petahana Joko Widodo (Jokowi) soal kepemilikan Prabowo Subianto atas tanah 220.000 hektare  di Kalimantan Timur (Kaltim) dan 120.000 hektare di Aceh saat debat capres putaran II pada 17 Februari 2019, belum berakhir.

Kubu Prabowo-Sandiaga terus mengeluarkan pembelaan atas penguasaan lahan oleh perusahaan Prabowo itu. Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) ikut angkat bicara dan menyatakan tidak ada yang salah dari kepemilikan lahan Prabowo di Kalimantan Tmur seluas 220.000 hektare.

"Kita terima kasih dengan pernyataan Pak JK, mengambil sikap seperti, menetralisir pandangan-pandangan yang negatif terhadap Pak Prabowo," kata Direktur Materi dan Debat BPN Prabowo-Sandi, Sudirman Said, seusai berbicara dalam acara diskusi dan bedah buku Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan karya Simon Felix Sembiring, Rabu (20/02/2019) siang.

Di tempat terpisah, mantan Sekretaris Kementerian BUMN periode 2005-2010, Said Didu, menceritakan kisah Prabowo mendapat kepercayaan dari Wapres JK untuk mengambilalih PT Kiani Kertas di Kalimantan Timur pada 2004.

Said menyebut Prabowo sebenarnya membeli Kiani Kertas yang tersandung kredit macet di Bank Mandiri. Dalam program penyehatan perbankan nasional saat itu, Bank Mandiri memiliki tagihan kredit macet dalam jumlah besar, salah satunya di Kiani Kertas.

Dalam proses itu, Prabowo mengajukan niatnya membeli Kiani Kertas yang didalamnya terdapat hutan industri dengan status hak guna usaha (HGU). Setelah melalui pembahasan, akhirnya Prabowo terpilih sebagai pembeli dan berhak memiliki Kiani Kertas.

"Pak JK waktu itu berpandangan daripada jatuh ke orang asing, lebih baik sama orang Indonesia. Ada 3 keuntungan sekaligus yang didapatkan negara yakni kredit macet selesai, pabrik Kiani kembali beroperasi yang berarti ada pemasukan negara berupa pajak dan penyerapan tenaga kerja dan yang terpenting, dimiliki oleh orang pribumi," katanya kepada Bisnis/JIBI.

Ada suara publik, papar Said, Prabowo dapat uang dari mana untuk membeli Kiani? Said menjelaskan setelah berhenti dari dinas tentara pada 1998, Prabowo terjun ke dunia bisnis dan pilihan tempat berbisnisnya adalah di Yordania dengan skala bisnis besar.

"Bisa saja keuntungan dari berbisnis itu, dia pakai untuk membeli Kiani. Itu urusan internal Prabowo. Yang penting dia bisa bayar tunai waktu itu," kata Said.

Dalam debat capres tahap kedua pada akhir pekan lalu, Jokowi mengungkap fakta bahwa Prabowo memiliki tanah  di Kalimantan Timur seluas 220.000 hektare dan di Aceh Tengah 120.000 hektare. Prabowo mengakuinya, sambil menjelaskan status tanah itu adalah HGU yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh negara.

"Kalau untuk negara, saya rela mengembalikan itu semua. Tetapi daripada jatuh ke tangan asing, lebih baik saya yang kelola karena saya nasionalis dan patriotik," katanya.

Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Erick Thohir, minta maaf jika pernyataan calon presiden Joko Widodo (Jokowi) soal tanah Prabowo dianggap menyerang pribadi. Meskipun kata Erick, pernyataan Jokowi itu hanya menjelaskan kebijakan pemerintah yang populis dan tidak bermaksud menyerang pribadi.

"Kalau dianggap menyerang pribadi, ya mohon maaf," kata Erick di kantor El Royale Kelapa Gading pada Rabu.

Sumber : Bisnis/JIBI