Gagap Unicorn, Ini Pengaruhnya Terhadap Elektabilitas Prabowo

Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) usai debat capres 2019 disaksikan moderator di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2 - 2019). (Antara/Akbar Nugroho Gumay)
20 Februari 2019 18:30 WIB Aziz Rahardyan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby, menyebut blunder Prabowo akibat gagap istilah unicorn dalam Debat Capres II tidak akan signifikan mempengaruhi elektabilitasnya. Salah satu alasannya, selisih elektabilitas Jokowi dan Prabowo sudah terlalu jauh.

"Jadi menurut saya dari debat kemarin di mana Prabowo kelihatan kurang perform, termasuk terkait pertanyaan tentang unicorn, tidak banyak memengaruhi suara. Jika pun ada hanya di bawah 5%," ujar Adjie kepada Bisnis/JIBI, Rabu (20/2/2019).

Adjie pun menjelaskan beberapa penyebabnya. Pertama, selisih elektabilitas kedua paslon sudah terlampau jauh, yaitu berada di kisaran lebih dari 20%.

"Sebelum masuk debat, selisih elektabilitas kedua calon sudah terlampau jauh. Bahkan di atas dua digit. Jadi debat tidak akan banyak memengaruhi struktur fundamental elektabilitas kedua kandidat," jelasnya.

Selanjutnya dari sisi penonton, Adjie menilai Debat Capres II hanya sanggup mempengaruhi undecided voters yang didominasi kalangan terpelajar. Karena itu, dampaknya pun tidak akan terlalu signifikan.

"Yang menonton debat secara utuh hanya kurang lebih 15% dan umumnya yang menonton debat sudah punya pilihan masing-masing," jelas Adjie.

"Paling hanya berpengaruh sedikit dari mereka yang masih undecided. Namun, umumnya undecided adalah pemilih yang terpelajar, tinggal di kota. Jadi mereka mengevaluasi kandidat tidak hanya dari debat," tambahnya.

Sebelumnya dalam Debat Capres II, Jokowi bertanya kepada Prabowo mengenai pengembangan infrastruktur pendukung unicorn. Tetapi Prabowo justru terlihat tidak siap dan balik bertanya, "Unicorn yang online-online itu?".

Seperti diketahui, unicorn merupakan sebutan perusahaan rintisan atau startup yang telah berhasil mencapai valuasi nilai hingga US$1 miliar. Indonesia telah memiliki empat startup yang berhasil menjadi unicorn, yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

Sumber : Bisnis/JIBI