Pemilihan Presiden Kita Sejuta Rasa

Suwarmin - Dokumen Solopos
18 Februari 2019 20:12 WIB Suwarmin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (18/2/2019). Esai ini karya Suwarmin, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah suwarmin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Kalau Anda berbeda pilihan calon presiden-calon wakil presiden dengan teman Anda, sebaiknya tak perlu dibawa sampai ke perasaan. Biasa saja. Tak perlu juga unfollow dan unfriend media sosial atau memblokir nomor Whatsapp.

Kecuali kalau setelah pemilihan presiden Anda serius mau pindah pulau, pindah negara, atau bikin koloni baru bersama dengan barisan orang-orang yang kecewa. Tapi, buat apa? Kita harus terus belajar.

Dalam hidup kita yang singkat ini ada hal yang kita tidak bisa gapai. Percayalah, bisa jadi itu lebih baik bagi kita. Pemilihan presiden hanya untuk lima tahun. Bangsa kita ini terus bertumbuh.

Mereka yang sekarang berseteru, lima tahun lalu banyak juga yang bersekutu. Para cukong yang sekarang di belakang para calon presiden, bisa saja bisnis mereka saling berkawin.

Para juru kampanye yang ganas-ganas di panggung televisi bisa saja mereka saling berkelakar di luar sana. Para buzzer yang sibuk mengamplifikasi pesan, bisa saja sebenarnya teman hang out di kedai kopi. 

Para pelakon politik sah-sah saja bersiasat. Itu memang fitrah berpolitik. Bisa jadi mereka curang dan culas, tetapi percayalah itu juga akan kembali ke wajah mereka sendiri. Siapa yang menanam cepat atau lambat dialah yang menuai jua.

Ibarat bermain bola, politik pun seperti itu. Ada pengatur serangan yang bermain manis seperti Andres Iniesta. Ada gelandang yang diplot sesekali bermain kotor seperti Casemiro atau Sergio Busquet. Tangan para elite politik akan selalu bersih karena ada petugas yang memastikan segala yang runcing menjadi tumpul. 

Seperti fashion, berganti masa politik pun berganti gaya. Pada pemilihan presiden 2014, ramai para pesohor politik menjadi pemanis kampanye, menjadi influencer pesan-pesan dukungan. Wajah-wajah mereka berseliweran di layar kaca.

Tidak hendak bergaya, acting, atau menyanyi, melainkan berbicara tentang kehebatan calon presiden tertentu. Tahun ini, mereka seolah-olah menjadi cameo. Pusat perhatian bergeser ke para ustaz, para kiai. Media pajangan video Youtube menjadi platform utama membagi pesan.

Adu Tautan

Ini masa para santri ”al youtubiah” saling beradu argumen di lobi kantor, di teras tempat indekos, atau di grup-grup Whatsapp. Mereka tidak saling adu dalil, mereka cukup mengadu link atau tautan andalan masing-masing.

Sebagian hoaks, sebagian tidak kontekstual, sebagian tidak relevan, sebagian informasi yang keliru. Para profesor dan para dosen yang terhormat pun kehilangan nalar diskusi jika sudah menyangkut isu pemilihan presiden. 

Benar juga kata orang. Ada tiga golongan yang sulit dinasihati di dunia ini. Pertama, orang yang sedang jatuh cinta. Kedua, para pendukung calon presiden. Ketiga, penggemar drama Korea. Agak berlebihan, tapi sering kali anekdot ini ada benarnya.

Meski sama-sama tua dan dewasa, dan rasanya sudah mempunyai pilihan masing-masing, ada saja orang yang memaksa-maksa hingga membaiat kolega agar mempunyai pilihan yang sama dengan dirinya.

Meski diskusi melalui grup Whatsapp tak pernah bisa menyelesaikan masalah, tetap saja ada yang menggelontor pesan-pesan beraroma false news. Sesekali ada yang menimpali dan jadilah diskusi yang memanas.

Lebih sering orang mendiamkan karena enggan bertengkar, menghabiskan energi, mengganggu pikiran, dan tidak mengubah pilihan. Sebagian memilih clear chat. Selesai perkara. Ada juga yang belajar cara diam-diam meninggalkan grup tanpa notifikasi left group. Nah lo....

Inilah pemilihan presiden, yang hanyalah salah satu dari lima event pemilihan umum kita yang digelar bersamaan pada 17 April 2019 nanti. Masih ada pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Para calon anggota legislatif kelimpungan. Mereka yang incumbent diuntungkan karena sudah punya portofolio yang lama dan lebih panjang di tengah masyarakat. Mereka bisa menggunakan duit reses untuk menarik simpati konstituen. 

Para calon anggota legislatif pemain baru setengah mati menempatkan diri agar dikenal dan diingat. Butuh biaya tinggi dan berdarah-darah. Pelaksanaan pemilihan umum anggota legislatif yang bersamaan dengan pemilihan presiden rasanya hambar.

Terdistorsi

Pendapat orang tentang kualitas calon anggota legislatif terdistorsi oleh preferensi pilihan calon presiden. Banyak calon anggota legislatif khawatir saat mengetahui kartu suara pemilihan presiden yang akan dihitung lebih dulu.

Jangan-jangan, nanti para saksi langsung ngacir begitu penghitungan suara pemilihan presiden selesai. Yang merasa menang segera berpesta, yang kalah segera mencari tempat privat untuk berduka. 

Gestur, narasi, dan nuansa menjadi identitas. Gaya jari dalam berfoto, pilihan warna saat menghadiri acara, pilihan narasi dalam status media sosial, semua menjadi bagian dari gimmick politik identitas yang makin terpolarisasi.

Orang seolah-olah gegar budaya, lupa bahwa media sosial dan Internet adalah ruang publik yang segala perilaku penghuninya terikat norma dan regulasi. Hal-hal yang dulu hanya dibicarakan di ruang keluarga, tentang perilaku atau isu primordial tertentu orang lain, kini seolah dilepas ke ruang publik bernama media sosial, nyaris tanpa seleksi dan tanpa kendali. 

Inilah perilaku masyarakat kita yang gemar bergunjing dan rela menyediakan banyak waktu dan energi untuk menggunjingkan orang lain. Energi masyarakat kita dalam berselancar di media sosial jauh lebih banyak dari masyarakat negara maju.

Mungkin inilah karakter orang Timur yang masih melekat pada diri kita, yakni masyarakat yang suka membicarakan orang lain daripada urusan diri sendiri. Menurut data yang dirilis Center for Innovation Policy and Governance (CIPG), pada 2017 jumlah pengguna media sosial aktif di Indonesia mencapai 106 juta jiwa dengan pertumbuhan per tahun 34%.

Rata-rata lama waktu menggunakan media sosial tiga jam 16 menit (We Are Social, 2017). Dengan tingkat pertumbuhan seperti itu, jumlah pengguna media sosial tahun ini bisa jadi sudah 140-an juta jiwa. Angka itu sudah mencapai 74% dari total jumlah pemilih yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), yakni 192 juta jiwa.

Padang Kurusetra

Wajar media sosial berubah menjadi Padang Kurusetra. Padang Kurusetra di jagat pewayangan adalah tempat pertempuran dua kubu bersaudara, Pandawa dan Kurawa, demikian juga dengan kurusetra dunia meda sosial kita.

Pertempuran saudara sesama anak bangsa terjadi, kadang-kadang menjadi pertempuran sesama warga organisasi kemasyarakatan, warga trah, warga arisan, dan seterusnya. Riuh rendah. Kadang-kadang tanpa sadar saling menyumpahi, saling menyakiti.

Para buzzer yang semula bercitra positif sebagai influencer merek, kini ditempeli citra negatif sebagai tukang fitnah dan penyebar hoaks. Pemilihan presiden berubah dari prosedur demokrasi menjadi harakiri kebangsaan yang tidak sehat, tidak produktif, dan tidak mendidik.

Kontestasi politik bergeser dari perebutan pilihan kebijakan menjadi perebutan benar atau salah yang nisbi. Agama menjadi komoditas, simbol, alih-alih menjadi pedoman pekerti. Apa pun, semoga masih banyak warga bangsa ini yang waras dan bertenggang rasa.