Rantai Amnesia Sejarah Lokal

Christianto Dedy Setyawan - Istimewa
17 Februari 2019 10:00 WIB Christianto Dedy Setyawan Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/2/2019). Esai ini karya Christianto Dedy Setyawan, esais dan guru Sejarah di SMA Reginas Pacis, Solo. Alamat e-mail penulis adalah christsetyawan@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Peter Carey dalam sebuah acara di Bentara Budaya Jakarta lima tahun lalu mengatakan Indonesia hidup dalam kekosongan historiografi.

Masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan lebih mengakrabi budaya Barat dibandingkan warisan budaya Nusantara yang tidak kalah apik. Peter Carey merupakan sejarawan Inggris yang meneliti detail sejarah lokal di Jawa, khususnya tentang Pangeran Diponegoro, sejak 1970 hingga kini.

Dalam pertemuan pertama pelajaran sejarah semester gasal, saya kerap melontarkan pertanyaan kepada siswa kelas X mengenai sejarah kota yang mereka huni. Mayoritas siswa tidak mampu menjawab.

Beberapa siswa menjawab dengan narasi sejarah yang terlalu mainstream. Sisanya tidak mampu menceritakan secara spesifik. Banyak yang mampu secara panjang lebar berkisah tentang Perang Dunia II, seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, hingga peradaban kuno dunia, namun lain halnya ketika titik fokus dialihkan ke lokalitas.

Persoalannya tidak pada jenjang kelas X yang dianggap wajar jika kurang memahami sejarah lokal, juga bukan perihal sudah berapa lama siswa tersebut tinggal di Kota Solo.

Persoalan mendasarnya adalah karena biasanya muatan sejarah lokal memang kurang dimasukkan ke dalam ranah pembelajaran sejarah secara konvensional. Inilah ironi tersendiri dalam pembelajaran sejarah.

Sejarah nasional sering disebut sebagai materi umum yang dipelajari di sekolahan. Cakupannya dimulai menyeluruh dari kelas X hingga XII. Menurut saya, paradigma tersebut patut dipertanyakan.

Sugeng Priyadi dalam buku yang berjudul Sejarah Lokal: Konsep, Metode, dan Tantangannya, menjelaskan bahwa obrolan seputar masa prasejarah hingga pertengahan awal abad ke-20 tidak dapat dikategorikan sebagai sejarah nasional sebab tidak berdasarkan subject matter yang logis.

Kesukuan

Periode tersebut tidak memperlihatkan unsur kebangsaan, melainkan kesukuan yang diagungkan. Body of knowledge dalam sejarah nasional banyak yang belum lengkap. Oleh sebab itu, sejarah lokal sejatinya memiliki porsi besar untuk mengisi ruang tersebut.

Seluk-beluk sejarah lokal memiliki kerumitan yang tidak setiap orang ulet dalam menghadapi. Minimnya sumber tertulis, tidak mudahnya memperoleh sumber lisan yang kredibel, hingga berseliwerannya anakronisme di setiap lini pemikiran sering dijumpai.

Berbeda dengan sejarah nasional yang banyak peneliti mengupas, banyak materi sejarah lokal yang jarang disentuh. Dampak negatif yang muncul dari realitas tersebut adalah lahirnya generasi milenial yang amnesia sejarah lokal.

”Penyakit” ini jika dibiarkan menggejala akan menyulap Indonesia menjadi negara ahistoris, seperti yang ditegaskan oleh Naufil Istikhari dalam tulisannya di Harian Kompas edisi 24 Maret 2014.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda dengan tepat? Beberapa langkah yang dapat ditempuh dapat digolongkan sebagai cara internal dan eksternal.

Secara internal muatan sejarah lokal dapat dikombinasikan dalam sejarah nasional yang memiliki tingkat kohesi tinggi antarmateri. Misalnya, untuk membahas sejarah Mataram Islam setelah perjanjian Giyanti, khususnya aspek politik Kasunanan Surakarta, dapat menyertakan muatan sejarah lokal mengenai kisah Sandiman dan Sela Pamecat yang terdapat di barisan tangga Sitihinggil Kraton.

Ketika membahas sejarah Budi Utomo, guru dapat menyertakan riwayat Tugu Kebangkitan Nasional yang terdapat di Penumping, Kota Solo. Kala mengupas sejarah agresi militer II dapat disampaikan pula tentang riwayat ”radio kambing” di Jenawi, Karanganyar, yang berjasa menggelorakan semangat persatuan melawan Belanda.

Ketika sedang membahas era pemerintahan Orde Baru, guru dapat menyampaikan muatan lokal dalam wujud ”produk-produk” rezim Soeharto yang terdapat di Solo seperti keberadaan klub sepak bola Arseto yang bermarkas di Panularan.

Mengaitkan pembahasan sejarah nasional berbaur dengan sejarah lokal selain untuk melengkapi cakupan pengetahuan juga dapat memunculkan rasa dekat dan turut memiliki terhadap objek sejarah yang berada di sekitar kita.

Alternatif Literasi

Alternatif baru literasi dalam pengajaran perlu dimunculkan. Pemandangan umum dalam proses belajar mengajar biasanya berupa guru membawa buku paket dan lembar kerja siswa. Alternatif literasi perlu dimunculkan agar siswa mampu menjelajah alam keingintahuan mereka lebih luas.

Literasi cetak dan digital perlu diperhitungkan mengingat pada era modern ini daya pikir siswa berkembang semakin cepat dan mustahil memberikan materi yang itu-itu saja alias sama persis dari tahun ke tahun tanpa inovasi yang berarti.

Buku Penjaga Memori: Gardu di Perkotaan Jawa (karya Abidin Kusno), Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX (karya Peter Carey dan Vincent Houben), tulisan-tulisan dosen Universitas Sanata Dharma Heri Priyatmoko yang banyak dimuat di surat kabar seperti Solopos dan Kedaulatan Rakyat dapat dijadikan acuan mengingat tidak sedikit tulisan yang membahas mengenai aspek sejarah lokal seperti riwayat bangunan, ketokohan, hingga jagat kuliner.

Secara ekstern, partisipasi dalam komunitas sejarah relatif banyak membantu dalam mengenalkan sejarah lokal, misalnya Komunitas Laku Lampah, Soerakarta Walking Tour, Solo Societeit, Soeracarta Heritage Society, dan Jasmerah.

Komunitas-komunitas tersebut ada yang menyajikan pembelajaran sejarah lokal bersama secara verbal (sharing) dan ada pula yang mengajak menyelami sejarah melalui aksi (menjelajah lokasi).

Aneka kegiatan yang digelar tiap bulan menawarkan pengalaman baru dalam mengarungi alam pikiran sejarah lokal. Kota Solo beruntung memiliki banyak komunitas sejarah yang hidup, aktif, dan berkembang sehingga usaha mencintai sejarah lokal tidak terkesan jauh di awang-awang.

Pengenalan sekaligus pendalaman sejarah lokal menjadi semakin penting kala kita dihadapkan pada kenyataan bangsa kita merupakan bangsa yang malas menulis. Coba tengok sumber tulisan dari era sekian abad silam, mulai dari I-Tsing di Sriwijaya, Fa Hien di Tarumanegara, Marcopolo, Thomas Stamford Raffles, hingga deretan penulis asing memiliki andil besar dalam sejarah Indonesia.

Permakluman

Sumber sejarah edisi lawas dari penulis lokal sebatas kita jumpai dalam rupa babad, serat, kitab, atau hikayat. Terlepas dari perdebatan apakah babad masuk ke ranah sejarah atau sastra dan digarap sesuai metodologi sejarah atau tidak, harus diakui tidak banyak upaya pendokumentasian memori masa lampau masyarakat Nusantara secara detail.

Terkadang muncul budaya pemakluman atas ketidaktahuan kita terhadap tempat bersejarah. Apabila pembiaran terus-menerus, bukan tidak mungkin pengajaran sejarah yang imajinatif akan membudaya.

Saya sebut imajinatif karena alih-alih memiliki dasar ilmiah dan referensi yang jelas, apa yang diklaim sebagai sejarah hanya dibiarkan berkembang dari mulut ke mulut yang dianggap benar atas nama konsensus dan minim verifikasi.  

Dalam orasi budaya di Jakarta, budayawan Emha Ainun Wajib pernah berujar bangsa Indonesia mengidap amnesia sejarah. Masyarakat kita menjadi pelupa sehingga sering mengulangi aneka hal buruk yang sebelumnya pernah terjadi.

Sifat pelupa yang tidak mudah dibasmi ini bukan tidak mungkin dapat menjadi rantai amnesia yang sukar diputus. Sebelum terlambat, mari kenali sejarah lokal di lingkungan sekitar kita.