Skor Akhir Debat Capres II: Jokowi Kuat Detail, Prabowo Unggul Gaya

Joko Widodo dan Prabowo Subianto bersalaman disaksikan Ketua KPU Arief Budiman (tengah) saat debat capres 2019 putaran kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2 - 2019). (Antara/Akbar Nugroho Gumay)
17 Februari 2019 23:47 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Debat Capres jilid II Pilpres 2019 yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019) malam, berlangsung lebih terbuka dan spontan daripada debat julid I 17 Januari 2019 lalu. Lalu, manakah di antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto yang lebih unggul dalam debat ini?

Soal skor, kedua kubu calon punya penilaian masing-masing yang menghasilkan skor yang sama, yaitu 6-0. Bedanya, mereka mengklaim calon yang mereka usung masing-masinglah yang unggul. Dalam diskusi yang mengiringi debat di Studio TVOne, Misbakhun dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf menyebut Jokowi unggul 6-0 dalam 6 segmen debat. Sebaliknya, Edhy Prabowo dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga menyebut Prabowo yang unggul 6-0.

"Kita yakin dengan program kita, dalam pandangan kita tidak menjawab masalah secara utuh, tadi soal lingkungan. Disebut tidak ada kebakaran hutan, padahal ada tiap tahun. Kita apresiasi memang tidak ada anggaran yang cukup untuk mengurus lahan, berapa infrastruktur ubtuk mengawas lahan, ada helikopter? Tidak ada," kata Edhy Prabowo.

Edhy juga menyoroti jawaban Jokowi bahwa pada 2018 Indonesia surplus beras namun kenyataannya masih impor. "Menteri Pertanian mengumumkan sudah cukup berasnya, Pak Jokowi tadi akui surplus, tapi tetap impor. Mendag ingin impor, ini Presiden ke mana?" katanya.

Sementara itu, Misbakhun menegaskan pengakuan Prabowo atas beberapa kebijakan Jokowi yang dipaparkan dalam debat. Beberapa kali prabowo memberi pujian dan menyetujui secara klir soal kebijakan, termasuk soal B2 [biodiesel]. Ini sebuah pengakuan afirmatif dari Prabowo. Saya memuji Pak Prabowo atas keberanian ini. Dia berbesar hati mengakui kebijakan pemerintah sebagai strategi yang benar," katanya.

"Penegakan hukum soal pencemaran, Pak Prabowo akui itu. Global competitiveness indeks, kita mengurangi dwelling time, single submission online,
soal infrastruktur juga, dia [Prabowo] akui. Tapi dia punya strategi yang berbeda. Itu klir Pak Prabowo akui itu," lanjut Misbakhun.

Bagaimana kata pengamat dan lembaga pollster? Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi, mengatakan format debat yang baru berhasil menunjukkan kapasitas kedua capres. Dia menyebut Jokowi lebih detail, namun ada celah-celah tertentu yang tidak bisa dimanfaatkan Prabowo untuk menyerang.

"Di debat kedua ini Jokowi lebih nyaman dengan temanya. Di Kertajati dan Kulonprogo, ada unjuk rasa [pemilik lahan] tapi tidak dimanfaaat oleh Prabowo. Justru Prabowo memuji, tapi itu saya apresiasi. Tapi kalau soal detail, narasinya [Prabowo] terlalu besar, tapi belum sampai strategi bagaimana caranya," katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Median, Rico Marbun, menilai Prabowo unggul dalam hal gaya. Menurutnya, gaya Jokowi kurang enak dilihat.

"Sisi gaya, Prabowo lebih baik. Contoh, sama-sama agresif saat tanggapi kritik, Jokowi kurang enak dilihat, bibirnya gimana gitu. Tapi kalo itu disnapshot jadi perbincangan hangat. Serangan Pak Jokowi lebih personal, soal tanah. Prabowo lebih lugas tidak terpotong. Ini mirp 2014," katanya.

Sedangkan soal konten, dia mengakui Jokowi unggul dalam hal detail masalah. Sedangkan Prabowo justru kedodoran soal data yang detail.

"Tapi soal konten, Prabowo kenceng di awal, kritik tentang infrastruktur, impor, tapi kedodoran di detail. Di sini, Pak Jokowi kalau ujian--saya dulu bahasa Indonesia detail tapi kerap dianggap nyontek--Pak Jokowi sangat responsif. Dia bisa langsung mengatakan produksi 20 juta ton, Pak Prabowo saking detailnya Pak Jokowi, dia tidak bisa menyampaikan misalnya tentang kegelisahan nelayan dengan detail."