3,3 Juta Warga Masih Buta Aksara

Ilustrasi sekolah. (Solopos/Whisnu Paksa)
17 Februari 2019 04:00 WIB Ayu Prawitasari Nasional Share :

Solopos.com, DEPOK — Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) jumlah warga buta aksara pada 2018 lalu masih 3,3 juta orang. Mendikbud Muhadjir Effendy berharap peran serta sekolah dan masyarakat untuk mengurangi jumlah itu.

Tercatat pada 2015 lalu angka buta aksara di Indonesia mencapai 5,9 juta jiwa dari total penduduk sekitar 260 juta jiwa. Namun, pada 2018 angka tersebut menurun menjadi 3,3 juta jiwa. Pemerintah menargetkan penurunan jumlah buta aksara di beberapa kantong hingga 2019.

Muhadjir berharap gerakan literasi diperkuat, bukan hanya melalui kegiatan-kegiatan khusus yang sifatnya sementara, tetapi juga berkesinambungan di satuan pendidikan. Sekolah harus terus mendorong anak-anak untuk cinta membaca.

Sementara itu, masyarakat diharapkan menumbuhkan taman-taman bacaan di berbagai daerah. “Kita harapkan kemampuan literasi penduduk Indonesia meningkat signifikan,” kata mantan Rektor Universitas Muhammadiyah itu.

Menurut Muhadjir, masyarakat Indonesia belum menjadi masyarakat pembelajar. Salah satu penyebabnya karena mereka belum menjadi masyarakat membaca. “Minat membaca sebenarnya sudah ada, hanya diperlukan untuk terus menumbuhkannya melalui berbagai upaya,” tuturnya saat memberikan arahan teknis pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2019 di Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Senin (11/2/2019) seperti dilansir laman Kemdikbud.go.id, Rabu (13/2/2019).

Undang-Undang No. 3/2017 tentang Sistem Perbukuan, menguatkan sistem perbukuan yang menghasilkan buku bermutu, murah, dan merata. UU juga dapat menumbuhkembangkan budaya literasi di masyarakat.

Menurut undang-undang tersebut, literasi adalah kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidup. Keluarga dalam hal ini orang tua mempunyai peranan yang sangat besar dalam mengenalkan literasi sejak usia dini. Orang tua bukan hanya wajib mengajarkan anak untuk membaca dan menulis, tetapi juga mendorong anak untuk menjadi rajin dan gemar membaca serta mempraktikan hal positif yang didapatnya dalam kehidupan bermasyarakat.