Belajar dari Rahman Tolleng

Muhammad Taufik - Istimewa
15 Februari 2019 12:00 WIB Muhammad Taufik Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/2/2019). Esai ini karya Muhammad Taufik, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta dan aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Pabelan. Alamat e-mail penulis adalah taufiknandito@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Ia senior bagi Soe Hok Gie, Arif Budiman, dan Goenawan Mohamad. Ia salah seorang mahasiswa aktivis angkatan ‘66 yang populis pada masanya.

Kalau membicarakan sejarah pers mahasiswa dari periode itu, seharusnya nama ini tak lepas dari pembicaraan. Ia bernama Rahman Tolleng, salah seorang pendiri Mingguan Mahasiswa Indonesia.

Mingguan ini merupakan salah satu media yang kritis pada era Demokrasi Terpimpin dan pernah mencetak oplah hingga puluhan ribu eksemplar pada masa jayanya.

Beberapa hari lalu, Selasa, 29 Januari 2019, Rahman Tolleng wafat. Ia meninggalkan cerita perjalanan intelektual yang penuh paradoks dan inspirasi. Rahman Tolleng aktif berpolitik sejak Soekarno berkuasa sampai pascareformasi.

Pada era Soekarno ia oposan yang lantang. Pada era Orde Baru ia berusaha masuk ke lingkaran pemerintahan. Sayang, ia gagal karena rupanya insting oposan tak bisa dipadamkan oleh cara-cara hipokrit.

Nama Rahman Tolleng kita temui dengan garis terang saat kita membaca buku Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia karya Francois Raillon. Dalam buku itu disebutkan peran Rahman Tolleng menumbangkan Orde Lama melalui—salah satunya--kiprah di redaksi Mahasiswa Indonesia.

Rahman Tolleng memegang haluan redaksi Mahasiswa Indonesia dan  memberi corak tersendiri pada konten kritis koran tersebut. Ketika Soekarno tumbang dan Soeharto berkuasa, Rahman Tolleng aktif di dapur redaksi Mahasiswa Indonesia.

Ia juga bergabung di parlemen. Ia juga membantu pendirian koran propaganda yang dijadikan alat agitasi massa bagi kalangan birokrat Orde Baru, yakni Suara Karya.

Koran ini adalah ide Rahman Tolleng. Pada awal terbit, Rahman Tolleng adalah Pemimpin Redaksi Suara Karya. Rahman Tolleng tak bisa lama-lama duduk di pemerintahan. Saat peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974 meletus ia dipenjara oleh rezim.

Penuh Kontradiksi

Ia dituduh melakukan makar oleh rezim Orde Baru. Koran Mahasiswa Indonesia dituduh tidak mendukung pemerintah. Mahasiswa Indonesia harus berhenti terbit. Kini koran perintis pers mahasiswa modern di Indonesia itu tinggal nama dalam cerita.

Sepenggal cerita perjalanan Rahman Tolleng ini penuh kontradiksi. Ia bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Sosialis, gerakan mahasiswa yang berafiliasi dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI) bentukan Sutan Sjahrir.

Sejak meletus pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), PSI bersama Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) dilarang berkecimpung lagi di kontestasi politik Indonesia. Gerakan mahasiswa turut terancam keberadaannya.

Rahman Tolleng kemudian berdiri di luar pemerintah. Ia mendirikan Mingguan Mahasiswa Indonesia yang seperti sengaja untuk mengkritik atau bahkan menggoyang singgasana Soekarno dan kroni-kroninya.

Wibawa Soekarno pudar seiring meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965. Rahman Tolleng antusias dengan pendirian Orde Baru. Ia terlibat dalam banyak forum intelektual Orde Baru. Suara Karya adalah salah satu idenya untuk Orde Baru.

Orde Baru memberi realitas yang tak sejalan dengan ekspektasi Rahman Tolleng. Koran Mahasiswa Indonesia yang terafiliasi dengan dirinya terus mengkritik Orde baru. Malari 1974 membuyarkan karier politik Rahman Tolleng.

Ia dipenjara dan dicap oposisi berbahaya. Sekeluar dari penjara, ia bangkit dan memutuskan terus belaku sebagaimana oposisi berperan, kritis terhadap pemerintahan.

Dalam wawancara dengan wartawan DW.com ia mengatakan politik adalah gairahnya. Ia tak kecewa meskipun telah kalah pada awal Orde Baru terbentuk. Ia tetap bergeliat dan terus beroposisi.

Manusia Politik Kontekstual

Seolah-olah oposan adalah garis nasibnya. Pada 1990-an ia membentuk Forum Demokrasi bersama Gus Dur sebagai reaksi atas terbentuknya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Pada dekade sebelumnya ia menandatangani Petisi 50 bersama sebarisan politikus dan aktivis prodemokrasi.

Usaha-usahanya adalah wujud sumbangsih pada lanskap politik di Indonesia. Ia tak pernah menyerah pada situasi. Ia terus berpolitik. Goenawan Mohammad dalam esai Mikropolitik mengatakan Rahman Tolleng ”bukan rencana mengubah semesta berdasarkan wajah sendiri.”

Oleh karena itulah Rahman Tolleng terus mendapat tempat dalam politik. Wajahnya terus mencuat, walupun bukan dirinya yang meminta. Goenawan Mohammad menulis ”ia [Rahman Tolleng] militansi dari aksi yang terbatas. Tapi, ia tak takut kepada yang mustahil”.

Rahman Tolleng tak pernah berhenti berharap pada politik, seburuk apa pun kondisinya. Ia percaya politik demi demokrasi, seperti yang diungkapkan Amartya Sen, jalan untuk mengentaskan kemiskinan.

Jalan politik adalah lorong yang terkadang gelap, namun mengandung harapan enlightment, sebuah pencerahan. Bisa dikatakan Rahman Tolleng adalah wujud manusia politik Indonesia yang kontekstual.

Rahman Tolleng pada masa lalu adalah cermin intelektualitas awal mahasiswa pascarevolusi kemerdekaan. Dosis politik tinggi di konten Mahasiswa Indonesia adalah salah contoh tentang mahasiswa terlibat dalam agenda politik.

Ia tak berhenti di pers mahasiswa. Ia mengarungi jalan yang hiruk pikuk, namun dengan pengecualian pada sikapnya yang dingin dan acuh oleh publikasi. Rahman Tolleng menambah daya intelektualitasnya beriringan dengan jalan politiknya yang masih panjang.

Ia berhasil menjadi agent of change, slogan yang dielu-elukan mahasiswa masa kini. Dalam pemaknaan saya, sikap dan cara Rahman Tolleng berpolitik adalah cermin pembelajaran bagi  mahasiswa masa kini.

Mahasiswa mungkin tidak harus terlibat langsung dalam politik praktis, namun kepekaan atas iklim politik memungkinkan mahasiswa lebih sensitif dan sadar akan nasib masyarakat sebagaimana yang dilakukan Rahman Tolleng.

Ia tak mau di menara gading intelektual. Wawasan yang dia dapat harus bermanfaat bagi masyarakat. Sesederhana itulah mahasiswa memaknai berpolitik, bukan demi kekuasaan belaka.