Sejarah Hari Ini: 14 Februari 269, Santo Valentine Meninggal Dunia

Lukisan karya Leonhard Beck, 1510, yang menggambarkan sosok Santo Valentine. (Wikimedia.org)
14 Februari 2019 00:20 WIB Ginanjar Saputra Internasional Share :

Solopos.com, SOLO — Pada 14 Februari 269, seorang uskup dan martir Katolik, Santo Valentine, meninggal dunia di Roma. Pada abad pertengahan, 14 Februari kemudian dikaitkan dengan tradisi cinta kasih.

Hingga kini, sebagian orang memperingati 14 Februari sebagai Valentine's Day alias harinya Santo Valentine yang dianggap juga sebagai Hari Kasih Sayang. Meninggalnya Santo Valentine itu merupakan satu dari sekian banyak peristiwa pada 11 Februari yang layak dikenang.

Demi mengenangnya, berikut Solopos.com merangkum sejumlah peristiwa bersejarah yang terjadi pada 11 Februari yang dihimpun dari Thepeoplehistory.com dan Wikipedia.org dalam Sejarah Hari Ini, 11 Februari:

269
Seorang uskup dan martir Katolik, Santo Valentine, meninggal dunia di Roma. Pada abad pertengahan, 14 Februari kemudian dikaitkan dengan tradisi cinta kasih. Hingga kini, sebagian orang memperingati 14 Februari sebagai Valentine's Day alias harinya Santo Valentine yang dianggap juga sebagai Hari Kasih Sayang.

1779
Bendera Amerika Serikat (AS) untuk kali pertama dikenali kapal perang asing ketika dipasang di kapal perang USS Ranger dan bertemu kapal perang milik Prancis yang dikomandani Laksamana Toussaint Guillaume Picquet de la Motte. Kapal perang Prancis itu memberikan tembakan meriam kehormatan sebanyak sembilan kali kepada USS Ranger yang dikomandani John Paul Jones.

1903
Departemen Perdagangan dan Perburuhan Amerika Serikat (AS) dibentuk. Kini, departemen tersebut dipecah menjadi dua, yakni Departemen Perdagangan berdiri sendiri, begitu juga Departemen Perburuhan.

1929
Gangster terbesar di Chicago, Amerika Serikat (AS), Al Capone, membantai tujuh gangster saingannya. Dalam pembantaian itu, salah satu pemimpin gangster di Chicago, Geroge Bugs Moran, terbunuh. Al Capone adalah geng yang menyuplai sejumlah minuman keras ilegal dan barang ilegal lainnya. Geng ini dipimpin Alphonse Gabriel Capone. Kini peristiwa itu disebut dengan Pembantaian Hari Valentine.

1929
Ilmuwan asal Skotlandia, Sir Alexander Fleming, berhasil menemukan antibiotik yang disebut penisilin setelah menemukan sepiring bakteri staphylococcus yang ditinggalkannya terjatuh pada tanaman dan diketahui telah membunuh banyak bakteri jahat. Kini penisilin dikenal sebagai obat yang sangat mujarab untuk mengobati beberapa penyakit menular yang disebabkan bakteri.

Kapal perang milik Jerman, Bismarck. (Wikimedia.org)
1939
Jerman meluncurkan kapal perang terbarunya bernama Bismarck yang sekaligus menjadi yang terbesar saat itu. Nama kapal tersebut diambil dari nama kanselir pertama Jerman, Otto von Bismarck. Kapal perang ini menjadi terkenal setelah berhasil menenggelamkan kapal HMS Dreadnought milik Inggris dalam Pertempuran Selat Denmark pada 1941.

1974
Penulis asal Rusia, Alexander Solzhenitsyn, didakwa oleh otoritas Uni Soviet sebagai pengkhianat karena telah menerima Penghargaan Nobel Kesusastraan di Stockholm, Swedia. Meski tak dipenjara, ia dideportasi dari Uni Soviet.

1983
Bintang sepak bola Manchester City, Bacary Sagna, lahir di Sens, Prancis. Sebelum bermain untuk Manchester City, Sagna juga pernah menjadi bagian tim besar Liga Primer Inggris lainnya, Arsenal, dari 2007 hingga 2014.

1989
Pemimpin Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini mengeluarkan fatwa agar umat Islam di seluruh dunia mencari dan membunuh penulis novel asal Inggris bernama Salman Rushdie. Salman manjadi orang yang paling diacari oleh pemimpin Iran kala itu karena karyanya yang berjudul Satanic Verses atau Ayat-Ayat Setan yang dianggap menghina Nabi Muhammad.

Logo Youtube. (Youtube.com)
2005
Youtube resmi diluncurkan sebagai situs berbagi video. Saat ini, Youtube menjadi situs berbagi video terbesar di dunia dan menjadi sumber utama video yang disebarkan secara viral di Internet. Dua tahun berselang, Youtube resmi menjadi anak perusahaan Google setelah dibeli dengan nilai 1.65 miliar dolar AS.

2006
Pemerintah Iran menyatakan telah melanjutkan penambangan uraniumnya. Mengetahui kabar tersebut, Rusia dan Prancis mengecam Iran dan mengimbau agar Iran segera menghentikannya. Rusia dan Prancis mencurigai uranium tersebut akan digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.