Persis Solo, Kembalilah ke Sriwedari!

Ardian Nur Rizki - Istimewa
13 Februari 2019 11:00 WIB Ardian Nur Rizki Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (11/2/2019). Esai ini karya Ardian Nur Rizki, penulis buku Pustaka Sepak Bola Surakarta dan Wakil Ketua Solo Societeit. Alamat e-mail penulis adalah ardian1923@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Manajemen Persis Solo masih sibuk menentukan stadion yang akan dijadikan kandang bond kebanggaan wong Solo itu pada musim kompetisi mendatang. Wacana penggunaan Stadion Candrabhaga Bekasi sempat terdengar santer sejak akhir bulan lalu.

Manajemen Persis Solo akhirnya mengurungkan rencana ini setelah mendapat kritik berkali-kali. Ratusan orang suporter Persis Solo mengadakan longmars dari depan Taman Sriwedari menyusuri Jl. Slamet Riyadi hingga kompleks Balai Kota Solo pada Minggu (27/1) untuk menyuarakan aksi menolak Persis Solo pindah ke Bekasi.

Stadion Candrabhaga mereka nilai terlampau jauh, apalagi Persis memiliki pengalaman buruk kala bertanding di stadion tersebut. Kini muncul episode baru. Manajemen Persis Solo berencana menjadikan Stadion Maguwoharjo, Sleman, DIY, sebagai kandang Persis dalam mengarungi Liga 2 musim depan. Manajemen bertindak cepat dengan mengadakan konsolidasi bersama suporter dan stakeholders sepak bola di Kabupaten Sleman.

Sambutan suporter Persis beragam. Ada yang senang. Ada pula yang masih gamang. Infrastruktur yang representatif, hubungan dengan suporter Sleman yang kondusif, sarana transportasi yang beragam, dan jarak Stadion Maguwoharjo yang relatif dekat tentu menjadi nilai positif.

Perlu diingat bahwa perjalanan ke Sleman acap tidak semulus yang dibayangkan. Pertandingan PSS kontra Persis dalam laga bertajuk Celebration Game di Stadion Maguwoharjo pada (19/1) lalu, misalnya, harus dibayar dengan nyawa satu orang yang melayang akibat serangan suporter yang antipati terhadap persahabatan suporter Solo dan Sleman.

Tetap Berkandang di Solo

Manajemen Persis Solo tidak boleh menutup mata atas hal ini! Wali Kota Solo F.X. Rudi Hadyatmo menghendaki Persis tetap berkandang di Solo. Hal ini baru dapat terealisasi setelah pemilihan umum pada April mendatang.  Selama ini, Stadion Sriwedari yang berlokasi di jantung Kota Solo, tidak pernah dijadikan pilihan pengganti Stadion Manahan yang tengah direnovasi. Sukarnya pengurusan izin keamanan menjadi alasan klise.

Logika sesat yang sarat kepandiran, tetapi diterima khalayak dengan penuh permakluman. Alih-alih dianggap sebagai hiburan yang membawa kesenangan, keceriaan, dan kesatupaduan. Sepak bola malah dihakimi sebagai permainan yang mengancam keamanan dan mengoyak kesatuan.

Pemerintah Kota Solo–maupun aparat keamanan—bukannya memberikan wahana edukasi maupun ruang diskusi bersama para suporter, malah justru menempuh ”langkah seribu”, yakni tidak memberi izin pertandingan dengan alasan keamanan yang rawan. Tidakkah ini lucu?

Alhasil, Stadion Sriwedari kini alpa dari ingar bingar sepak bola. Aura dan binar sejarahnya dibiarkan hilang menguar, padahal Stadion Sriwedari bukan sekadar gelanggang olahraga. Bangunannya tegak tersemat obor perjuangan. Konstruksinya nan pagan memaktubkan kekukuha harkat bangsa. Rindang lingkar pepohonan menimbulkan kesan permai dan damai.

Buah Kepekaan PB X

Berikut akan saya kisahkan ihwal sejarah, gairah, dan tuah Stadion Sriwedari terhadap persepakbolaan di Kota Solo. Pada 1932, Stadion Sriwedari mulai dibangun. Mr. Zeylman dan Raden Ngabehi Tjondrodiprodjo ditugasi merencanakan pembangunan Stadion Sriwedari.

Dengan menghabiskan biaya sekitar 30.000 gulden dan mengerahkan tenaga ratusan orang pekerja, pembangunan Stadion Sriwedari akhirnya dapat selesai dalam waktu delapan bulan. Stadion ini diresmikan pada 1933 oleh G.P.H. Hargopalar sebagai utusan Sri Susuhunan Paku Buwono X (Sajid, 1984).

Seremoni peresmian Stadion Sriwedari dihadiri beberapa tokoh penting, seperti Soeratin yang kala itu menjabat sebagai Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau PSSI (Elison, 2014). Dengan gagah berani, Soeratin mengibarkan panji dwiwarna, merah putih, seperti hendak memberi sinyalemen bahwa pembangunan Stadion Sriwedari adalah tonggak bagi kemerdekaan sepak bola bumiputra.

Begitu dramatis, sampai-sampai air mata haru Soeratin tak terbendung, mengiringi asa bangsa yang kian membubung. Jika ditelisik, pembangunan Stadion Sriwedari juga bermakna strategis bagi eksistensi Sri Susuhunan. Hak politik yang terampas karena intervensi Belanda membuat sang raja mesti menyelinap untuk membangun ruang ”percintaan” antara raja dan kawulanya. Pembangunan stadion di kawasan Kebon Raja (Taman Raja) Sriwedari adalah wujud ikhtiar brilian untuk merengkuh hati rakyat.

Pembangunan stadion ini merias Kebon Raja menjadi kian molek dan molek dengan segala kelengkapan prasarana. Sriwedari kemudian menjelma sebagai paras modernitas Solo. Surat Kabar Soerabaiasch Handelsblad edisi 19 Januari 1933 memberitakan tentang keindahan Taman Sriwedari yang mewadahi taman kota dengan harmoni kehidupan fauna, tempat pergelaran sastra budaya, wahana kepujanggaan, pasar malam, rupa-rupa hiburan, arena keplek ilat, dan juga medan laga sempurna bagi pemain sepak bola.

Sembilan Kompetisi

Keberadaan Stadion Sriwedari di jantung kota berhasil memompa darah dan gairah persepakbolaan Solo. Hasilnya pun mujur! Jika pada Kompetisi Perserikatan 1931 Persis dijadikan bulan-bulanan, pada 1935 –atau dua tahun setelah Stadion Sriwedari diresmikan—Persis langsung menjadi garang.

Selama sembilan kompetisi beruntun (1935-1943), Persis tidak sekali pun absen di putaran final kmpetisi perserikatan. Tujuh di antaranya berhasil dijuarai. Klub-klub dari  luar negeri yang bertamu juga dikalahkan Persis di stadion–yang pada masanya—teramat megah ini.

Solo merupakan primadona untuk menjadi tuan rumah pergelaran olahraga akbar (Pekan Olahraga Nasional I, misalnya). Ini bukan semata-mata karena lokasinya yang strategis, namun juga karena tata kota modern yang ditopang sarana prasarana necis dan estetis. Stadion Sriwedari adalah bukti Solo telah jauh meninggalkan peradaban arkais.

Laksana katedral, stadion ini menjadi tempat bergaungnya misi perjuangan bangsa. Belanda dipaksa menjilat ludah perihal ejekan sarkastis yang menganggap kaum pribumi itu barbar dan arkais. Ejekan itu lekas dikikis. Stadion Sriwedari, sekali lagi, adalah bukti kaum bumiputra mampu menciptakan peradaban menawan.

Kini tidak ada salahnya jika Persis Solo kembali ke rumah sendiri. Suporter mesti mafhum akan besarnya sejarah dan muruah Stadion Sriwedari dan menjaga tetap kondusif dan lestari. Mari kembali ke rumah, mengharapkan tuah, lantas menorehkan lagi tinta emas sejarah!