Massa Awak Mobil Tangki Terobos Rombongan Jokowi, 5 Pingsan

Presiden Jokowi saat menyapa pemudik di salah satu bus di Terminal Baranangsiang, Bogor, Jabar, Minggu (19/6 - 2018) siang. (Istimewa/Setpres)
13 Februari 2019 23:55 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Sebuah insiden terjadi saat massa aksi yang tergabung dalam Awak Mobil Tangki (AMT) menerobos iring-iringan mobil Presiden Jokowi yang melintas di Jl Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (13/2/2019) malam. Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 18.54 WIB di Taman Pandang depan Istana.

Dilansir Suara.com, dalam kejadian tersebut, seorang ibu-ibu yang tergabung dalam kerumunan massa dapat menemui Jokowi di mobilnya dan berbincang. Namun, massa aksi lainnya tak dapat mendekat karena diadang petugas kepolisian dan Pasukan Pengamanan Presiden bersenjata lengkap.

Iring-iringan mobil Presiden Jokowi sempat tertahan selama 15 sampai 20 menit. Dalam kejadian tersebut, lima orang pingsan hingga harus dilarikan ke rumah sakit akibat bentrokan kecil dengan petugas pengamanan.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Harry Kurniawan, mengonfirmasi kejadian tersebut. Dirinya menyebut Jokowi sempat menyalami ibu-ibu yang menghampirinya.

"Tadi anggota sudah jalan semuanya, memang tadi kami sampaikan di sana, sudah selesai, sudah klir semua. Bapak Presiden sempat melihat dan menyalami karena dilihat ada ibu-ibu di sana," ujarnya dilansir Suara.com.

Namun, Harry menyebut ada dua elemen massa yang berada di lokasi tersebut. Selain AMT, komponen massa lainnya adalah karyawan Freeport.

"Ada dua komponen elemen masyarakat yang melakukan kegiatan aksi unjuk rasa. Kami bermediasi, bernegosiasi, malam ini satu komponen sudah dipulangkan, yakni dari AMT," tambah Harry.

Untuk diketahui, aksi AMT sendiri telah dilakukan selama beberapa pekan di Taman Pandang. Aksi menerobos iring-iringan Jokowi itu dilakukan lantaran rasa kecewa massa yang tidak bisa menyampaikan aspirasinya langsung ke presiden.

Ada beberapa tuntutan yang diminta AMT. Pertama, mereka menuntut segera dibayarkan upah lembur yang belum dibayarkan sesuai nota Sudinaker dan Kementerian Tenaga Kerja dan upah proses selama di-PHK.

Kedua, mempekerjakan kembali 1.095 AMT yang di-PHK massal dan secara sepihak. Ketiga, pengangkatan sebagai karyawan tetap di PT Pertamina Patra Niaga dan PT Elnusa Petrofin, sesuai nota Sudinaker yang sudah disahkan oleh pengadilan.

Keempat, AMT meminta pembayaran hak pensiun bagi pekerja yang lanjut usia, sesuai perundang-undangan yang berlaku.

Sumber : Suara.com