Wong Solo Sejati Hormati Pluralitas

Heri Priyatmoko - Dokumen Solopos
12 Februari 2019 09:07 WIB Heri Priyatmoko Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/2/2019). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Ilmu sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Baru saja Kota Solo digoyang isu salibisasi dan protes terhadap lampion yang dianggap budaya dari Tiongkok. Ndilalah semua simbol itu berada di jantung kota.

Pemaknaan atas ruang sosial tersebut berpeluang memicu gesekan horizontal apabila mengedepankan tafsir “liar” tanpa mencermati persepsi budaya yang tumbuh.

Nyali Pemerintah Kota Solo tampak menciut. Dalam guyuran hujan, simbol yang diimajinasikan sebagai salib yang identik dengan kaum kristiani itu dicat agar tak kelihatan lagi ketimbang menggelar sarasehan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Lampion sebagai unsur budaya (bukan agama) Tionghoa yang muncul setahun sekali tetap pating grandhul dan menawarkan keindahan. Jika tidak indah serta unik, tak mungkin setiap hari ribuan orang menyemut berswafoto di Pecinan Solo.

Mencermati kasus tersebut menyeruak kegelisahan kolektif bahwa aspek tepa slira mulai terkikis. Di satu pihak, kekuatan lembaga pelat merah justru melemah. Terdapat perubahan karakter dan perilaku dalam diri sebagian masyarakat Solo beberapa tahun terakhir ini.

Dari perilaku santun dan lembah manah bersalin menjadi beringas dan temperamental sehingga gampang membuahkan disharmoni dan disintegrasi. Iskandar Hadrianto (2018), wong Solo cekek yang lahir di Baluwarti dan pensiunan Kementrian Luar Negeri, menyebut maraknya fenomena ini lantaran Solo kakehan wong neneka (banyak orang pendatang).

Sepenggal pertanyaan menggugat, bagaimana potret karakter wong Solo sejati? Masyarakat Solo yang semanak dan penuh tenggang rasa itu bukan fiksi. Jika tidak sugih toleransi, urip nglaras, dan mendamba ketenteraman, tiada mungkin warung sate jamu dan angkringan mudah ditemukan di Kota Solo hingga detik ini.

Bila masyarakat Solo beringas dan nggolek menange dhewe, tak bakal Koran Bromartani (1887) menulis ingkang isi gendul arak tuwin pacitan gorengan babi, tukang babi angombe sagelas wilujengipun nyonyah guru, lajeng mendhet irisan daging babi goreng.

 

Karakter Warga Asli

Jurnalis tempo itu memotret kenyataan sejarah budaya omben-omben dan trambul yang lazim dijumpai dalam kehidupan sosial masyarakat. Majalah lawas Sketsmasa edisi No. 6 Th. IV 1961 memberitakan fakta berharga bahwa wong Solo lain dari jang lain. Wong Solo adalah wong Solo. Selalu bangga djadi wong Solo.

Karakter warga asli yang bagus turut andil besar dalam membangun dinamika kota. Realitas ini dijumpai tatkala Solo hancur gara-gara peristiwa Agresi Militer II pada 19 Desember 1948.

Kondisi kota yang semula kacau dan rusuh akhirnya kembali tenang. Wong Solo terbilang pandai lekas memulihkan kahanan. Lincah membuat kota kembali nyaman lewat sikap maupun kelakar sehingga orang luar daerah yang hendak pelesiran ke Solo tanpa dirundung perasaan waswas.

Selain tepa slira dan rasa kamanungsan, kelakar dan humor yang ala wong Solo merupakan bumbu penyedap interaksi sosial, membentengi masyarakat dari konflik, dan menenteramkan suasana kota. Setelah kondisi masyarakat stabis selepas terkoyak perang kemerdekaan, wajah kota yang ramah dipacak pengarang dalam pustaka.

Sifat pergaulan masyarakat Solo yang sangat menyenangkan sehingga menumbuhkan rasa nyaman bagi tamu dan orang pelesiran ke Solo ditelaah secara mendalam.

Kamadjaja (1950) mendeskripsikan orang Solo ramah-tamah, gembira, dan mudah bersaudara. Sifat demikian terasa dalam relasi tua dan muda, tinggi dan rendah, sesama Jawa, sesama Indonesia, juga dengan bangsa lain.

Mengulurkan tangan persaudaraan dan memberi kegembiraan kepada orang lain merupakan sifat umum di Solo. Terhadap tamu dari luar daerah, orang asing, pedagang, pegawai, dan kaum pensiunan sifat ini berpengaruh besar.

Banyak atau sedikit, mereka tertular sifat ramah, riang, dan gampang menenun tali persaudaraan. Kegembiraan ialah sifat istimewa bagi Solo, baik dalam ketenangan maupun dalam pekerjaan atau perundingan serius.

Jamak terselip kata-kata lucu yang membikin hati riang. Hiburan murah itu sering mengemuka sebab acap terdengar tertawa keras terbahak-bahak dari kelompok-kelompok kaum muda atau kaum tua.

Kecuali sifat menyenangkan dalam pergaulan hidup, wong Solo punya sifat dasar tenang tiada gentar, perlahan tanpa tergesa. Menghadapi seluruh kahanan, orang Solo tak mudah terkejut dan tak mudah heran.

Berlandaskan Kesabaran

Hati mereka tenang serta tingkah laku mereka tetap berlandaskan kesabaran. Biarpun terdesak oleh keperluan, andong khas Solo tetap berjalan pelan seperti irama suara tapal kuda. Demikian pula sifat wong Solo, tenang tiada tergesa-gesa dalam segala keadaan. Perlahan berjalan sampai juga pada tujuan, gliyak-gliyak tumindak.

Di samping aneka sifat asli di atas, nilai penghidupan di Solo jauh lebih murah daripada di kota lain. Banyak kaum pensiunan memilih Solo sebagai tempat tinggal permanen. Dengan uang pensiun sedikit, mereka bisa hidup pantas, merasakan kegembiraan dan hiburan yang menyenangkan, juga memelihara hobi keplek ilat yang akhirnya memicu lahirnya sate buntel.

Kaum pegawai bergaji lumayan dapat hidup cukup bersama keluarga. Kamadjaja lahir di Sragen pada 23 November 1915. Ia bersaksi ongkos hidup di Solo boleh dibilang murah asalkan orang sanggup mengerem nafsu dan kegembiraan yang meluap-luap.

Kegembiraan meletup di tempat hiburan, tontonan, dan restoran. Berburu hiburan menjelma sebagai keroyalan yang kian lama kian mendalam. Itulah godaan yang merajalela, banyak menjerumuskan anak manusia.

Banyak pensiunan yang waktu muda alim, pada hari tua menyuntuki alam keroyalan yang sebenarnya tak sesuai lagi baginya. Kaum penghamba uang menghamburkan harta di dalam keroyalan aneka rupa: menonton, judi, dan “main” perempuan.

Bermacam tontonan memanjakan warga sejak era kolonial Belanda, contohnya Taman Sriwedari dengan wayang orang dan bioskop. Di samping itu, Taman Jurug dan Tirtonadi memberi hiburan termurah. Duduk di bawah pohon rindang menikmati hawa sejuk bulan purnama, boleh tak keluar uang serupiah pun.

Hati terhibur, kiri-kanan tersedia makanan dan minuman bertarif rendah. Sepanjang malam tiada sepi. Lalu lintas, kendaraan, orang-orang berjalan, bahkan seluruh suasana seolah-olah tidak mengenal perbedaan siang (terang) dan malam (gelap).

Mengembalikan Karakter

Sepanjang hari terasa suasana gembira. Segalanya serbaenak dan menyenangkan. Novel berbahasa Jawa tahun 1950-an berjudul Tape Ayu Saka Sala melukiskan kahanan Solo yang memukau.

Kutha Sala mono kutha kang elok, aeng, lan unik. Sapa sing durung ngerti Kutha Sala? Ya kutha papane wong plesir ing daerah Jawa Tengah. Kutha kondhang, ya kutha kang nduwe kaendahan mawa tjoreke dhewe. Wong daerah Djawa Tengah saben-saben ditakoni ngendi ta dununge Kutha Sala, ora wurung pikir mesti bandjur pitakon arep plesir apa? Pantjen bener, Sala mono papane wong nglanjer lan mbuwang dhuwit. Pira wae anggone sangu, ora nganti djam-djaman jen kepengin dhedhel mesti dhedhel.

Terjemahan bebasnya: Solo merupakan kota yang elok, aneh, dan unik. Siapa yang belum tahu Kota Solo? Ya kota tempat orang pelesir di daerah Jawa Tengah. Kota terkenal, ya kota yang punya keindahan sendiri.

Masyarakat Jawa Tengah setiap ditanya di mana lokasi Kota Solo, selanjutnya malah bertanya apakah hendak pelesir? Memang benar, Solo adalah tempatnya orang berekreasi dan menghamburkan uang. Seberapa pun uang yang dibawa, tidak perlu memakan waktu berjam-jam bila ingin habis pasti ludes.

Sastra adalah produk zaman yang melukiskan secara jujur kahanan masa. Demikianlah gambaran konkret wong Solo pada masa lampau dalam bergulat dan bergelut membangun jati diri kota.

Dulu, kekhasan masyarakat Kota Solo memberi kelir lain dan menambah puspa ragam dalam tradisi sejarah komunitas perkotaan di Indonesia. Ciri khas tersebut sampai-sampai dimereni atau bikin iri warga kota lain. Kini, betapa njomplang bila dibandingan realitas dulu dengan sekarang.

Tantangan kita dewasa ini ialah mengembalikan karakter yang berubah menjadi negatif itu demi kebaikan penghuni kota dan hidup berbangsa. Urip mung sepisan, aja seneng regejekan. Begitu pesan bakul angkringan di Pasar Gedhe, Solo.

Kolom 2 hours ago

Bahaya Lethong