Dikritik Turki, China Rilis Video Musikus Uighur yang Dikabarkan Tewas

Para peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, China, berolahraga di lapangan voli pelataran asrama, Jumat (3/1/2019). - ANTARA/M. Irfan Ilmie
12 Februari 2019 04:10 WIB Iim Fathimah Timorria Internasional Share :

Solopos.com, JAKARTA - Media milik pemerintah China merilis sebuah video yang memperlihatkan musikus beretnis Uighur yang dikabarkan tewas dalam tahanan. Kabar tewasnya Abdurehim Heyit menuai kecaman dari Turki yang mendesak China untuk segera mengakhiri penindasan yang mereka lakukan dan menutup kamp 'detensi'.

Dalam video tertanggal 10 Februari yang diunggah oleh Radio Internasional China berbahasa Turki (CRI Turkce), Heyit mengaku dirinya berada dalam kondisi yang sehat dan tengah menjalani proses investigasi atas dugaan pelanggaran hukum nasional.

"Saya tengah dalam proses pemeriksaan atas dugaan pelanggaran hukum nasional. Kondisi kesehatan saya baik dan saya tak pernah disiksa," kata Heyit dalam video tersebut sebagaimana dikutip dari BBC, Senin (11/2/2019).

Mengutip BBC, Ketua Proyek HAM Uighur yang berbasis di Amerika Serikat, Nury Turkel mempertanyakan keaslian video tersebut. Ia menyatakan terdapat sejumlah aspek dalam video yang "mencurigakan".

Usaha klarifikasi China datang setelah otoritas Turki menyatakan desakan untuk menutup kamp detensi di Xinjiang setelah seorang musikus keturunan Uighur dilaporkan tewas di sana.

Abdurehim Heyit disebut telah menjalani vonis penjara selama 8 tahun di Xinjiang, sebuah provinsi di barat China yang diyakini menjadi lokasi penahanan sekitar satu juta keturunan etnis minoritas Uighur.

Laporan dari Kementerian Luar Negeri Turki menyebutkan bahwa mereka mengalami "penyiksaan" di "kamp konsentrasi". Namun Pemerintah China menyatakan tempat yang dimaksud bukanlah kamp detensi, melainkan "pusat pelatihan vokasi".

"Sudah bukan rahasia lagu bahwa lebih dari satu juta warga keturunan Uighur ditangkap secara sewenang-wenang, menjadi sasaran penyiksanaan, dan dicuci otaknya di penjara," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy sebagaimana dikutip BBC, Minggu (10/2/2019). Ia juga mengungkapkan bahwa warga yang tak ditahan berada di bawah pengawasan dan tekanan yang besar.

"Kembali diperkenalkannya kamp-kamp konsentrasi abad ke-21 dan kebijakan asimilasi sistematis pemerintah China terhadap etnis Uighur merupakan hal yang sangat memalukan bagi umat manusia," kata Aksoy menambahkan.

Aksoy juga mengatakan laporan kematian Heyit semakin memperkuat reaksi publik Turki terhadap pelanggaran serius hak asasi manusia di Xinjiang. Ia pun meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk "mengambil langkah efektif guna mengakhiri tragedi kemanusiaan" di sana.

Pemerintah China secara tegas telah menyangkal segala bentuk tudingan internasional mengenai kamp detensi tersebut. Mereka menyatakan tempat itu adalah pusat pelatihan vokasi yang bertujuan untuk menangkal terorisme dari kawasan Xinjiang.

Abdurehim Heyit adalah seorang pemain Dutar, instrumen musik petik dengan dua dawai yang dikenal sulit dikuasai. Ia belajar musik di Beijing dan telah tampil di berbagai tempat di China.

Penahanan Heyit disebut dipicu oleh lagu berjudul "Fathers" yang ia tampilkan. Lirik lagu itu berasal dari sebuah puisi Ughur yang berisi ajakan untuk generasi muda menghormati pengorbanan para pendahulu mereka.

Namun terdapat kata "syuhada perang" dalam lagu itu yang kemungkinan dianggap otoritas China sebagai ancaman terorisme.

Sumber : BBC