Heboh Video Diduga Ahmad Dhani Kaitkan NU dengan Naskom Gaya Baru

Ahmad Dhani. (Antara - Sigid Kurniawan)
12 Februari 2019 01:45 WIB Budi Cahyana Nasional Share :

Solopos.com, SOLO - Video yang memperlihatkan sosok yang diduga Ahmad Dhani berpidato dan menyebut NU ada dalam Nasakom gaya baru viral di medsos beberapa waktu lalu dan sudah diputar ratusan ribu kali sampai Senin (11/2/2019) ini.

Nasakom, akronim dari nasionalisme, agama, dan komunisme adalah jargon yang dipopulerkan Presiden Pertama Indonesia Soekarno puluhan tahun lalu.

Dalam videonya, orang yang diduga Ahmad Dhani berkata, “Jadi, harus tahu benar sejarah bahwa NU dahulu mendukung Nasakom. Banyak anak-anak NU meskipun yang sudah di PBNU enggak paham itu bahwa dahulu yang dukung Nasakom bersama PKI dalam komunisnya itu PKI, itu [kelompok agamanya] NU. Nah, sekarang ini mereka sudah bergabung PDIP, NU, juga komunisnya.”

Ucapan tersebut menyulut perdebatan karena orang yang berpidato tersebut dianggap tak paham sejarah.

Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Beny Susanto mengatakan pernyataan tersebut keliru.

“Meskipun sempat kaget bercampur marah atas tuduhannya, hal ini lebih baik dimaafkan. Tuduhan tersebut Laa maaddata fiihaa, bal fitnatun wa siyaasatun qabiihatun, tidak ada arti dan isinya, kecuali hanya fitnah dan politisasi yang kotor,” kata Beny kepada harianjogja.com belum lama ini.

Menurut Beny, jika benar orang tersebut Ahmad Dhani, dia harus membaca dan mempelajari kembali sejarah. “Kami khawatir jika fitnah terhadap NU tersebut berlalu saja akan mendatangkan hal yang semakin buruk baginya. Fokuslah pada persoalan faktual hukum ujaran kebencian yang telah terbukti melalui vonis pengadilan.”

NU, menurut dia, secara historis adalah bagian dari sejarah pendirian NKRI yang sama sekali tidak pernah berkhianat sampai sekarang, berbeda dengan PKI. “Tuduhan Ahmad Dhani mencerminkan informasi dan bacaan yang diterimanya amat sangat keliru dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebagai politikus muda, Ahmad Dhani harus banyak belajar sejarah. Kami bisa saja melaporkan tuduhan tersebut sebagai fitnah, ujaran kebencian baru yang dilakukan terhadap NU, tetapi tidak perlu dilakukan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan rahmat dan berkah bagi seluruh bangsa dan negara Indonesa sehingga hajatan Pemilu 2019 berlangsung dengan aman, dan damai,” kata Beny.

Sementara, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas menyebut pernyataan dalam video itu ahistoris dan ilusif karena menarasikan NU akan menjadi pendukung Nasakom baru bila Joko Widodo menang dalam Pilpres 2019. Menurut Robikin, narasi keliru yang disampaikan musikus yang kini menjadi calon anggota DPR RI dari Gerindra itu didasarkan karena NU pada masa Bung Karno berkuasa pernah mendukung Nasakom.

“Perlu dicatat, NU bukan pendukung PKI. Setelah G30S, NU bahkan berada di garda depan menuntut pembubaran PKI,” kata Robikin dalam keterangan tertulis dikutip dari suara.com.