Konsistensi Dahlan Iskan di Jalan Ujaran Kebenaran

Ahmad Djauhar - Dokumen Solopos
11 Februari 2019 09:00 WIB Ahmad Djauhar Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/2/2109). Esai ini karya Ahmad Djauhar, tukang kolom dan anggota Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com.

Solopos.com, SOLO – Sabtu lalu, 9 Februari 2019, genap setahun Dahlan Iskan menunjukkan konsistensi. Tiada hari tanpa menulis kolom DI's Way. Aneka hal dia tulis. Di mana pun dia sedang berada.

Ia konsisten menjumpai pembaca setia kolom itu. Ia juga menyapa penggemar yang selalu menunggu celoteh dia. Dari tengah hutan hingga pusat metropolitan, dia menulis.

Sesekali ia menjelaskan sejumlah hal yang bagi sebagian orang sebagai hal rumit. Berkat tulisannya itu, banyak orang jadi paham dengan gamblang. Terang benderang.

“Saya membaca tulisan Pak Dahlan soal big data yang semula tidak saya pahami. Sama sekali. Setelah mengikutinya [membaca kolom itu], saya jadi mengerti. Dunia apa itu sebenarnya. Terima kasih, Pak Dahlan,” ujar seorang jurnalis senior suatu ketika. Saat bertemu muka dengan Dahlan. 

Tulisan Dahlan diapresiasi banyak pembaca. Selain tersebar di jaringan koran, juga diunggah ke media sosial. Sering pula menjadi viral. Beberapa diunggah ke media sosial oleh penggemar secara sukarela karena terinspirasi oleh isi tulisan. Juga karena semangat berbagi. 

Ini sebuah prestasi yang layak diirikan. Juga perlu ditiru. Khususnya bagi mereka yang mengaku wartawan. Itulah legacy seorang jurnalis. Menulis dan selalu menulis. Dahlan telah menorehkan contoh bagus bagaimana menjadi wartawan yang sesungguhnya.

Menjadi wartawan bukan untuk gagah-gagahan, tetapi senantiasa berkarya. Bukan seperti tingkah sejumlah orang. Mereka mengaku wartawan. Mengantongi berbagai atribut pers.

Mereka mengurusi organisasi wartawan atau jurnalis, namun ketika ditanya karya jurnalistiknya, tidak ada. Mereka memilih berdalih. Disibukkan pelbagai urusan,  mungkin sudah berbilang bulan. Bahkan, bertahun-tahun. Tidak menulis, tapi mengaku diri jurnalis.

Tak pelak lagi, budaya buruk itu ditiru oleh sebagian orang. Mereka hanya ingin beroleh kemudahan sebagai wartawan atau jurnalis. Tanpa memahami dan menghayati tugas dan tanggung jawab. Tak mengherankan, jumlah ”wartawan” di negeri ini melimpah ruah. Konon mencapai 100.000 orang.

Pekerjaan Nista

Sebagian besar dari mereka malah menjadikan profesi ini sebagai pekerjaan nista. Sekadar mencari amplop (suap, sogokan, setoran) dan menulis tanpa fakta. Tak juga konfirmasi. Suka mengumbar sensasi.

Mereka inilah yang sering disebut sebagai wartawan abal-abal. Ada juga yang menyebut mereka sebagai pasukan bodreks. Jamak pula disebut WTS—wartawan tanpa surat kabar—menurut istilah era Orde Baru.

Ada lagi yang mengistilahkan sebagai wartawan ”muntaber”. Muncul tanpa berita. Di berbagai acara resmi, mereka muncul. Melakukan aksi wawancara sana sini, tapi tidak akan ada berita atau tulisan yang mereka hasilkan.

Yang mereka kejar hanyalah amplop atau sekadar ”uang transportasi”. Minimal bisa ikut makan dan minum gratis di acara itu. Model preman bergaya wartawan atau jurnalis seperti itu kian meroyak. Seiring meroyaknya media online.

Hampir ”setiap hidung” merasa berhak dan bisa membuat media, tapi mereka jelas tidak paham esensi menjadi wartawan. Sebuah profesi mulia untuk menyampaikan informasi berdasarkan kebenaran.

Dalam berbagai tulisan, terlihat Dahlan wartawan benaran. Bukan jurnalis jadi-jadian itu. Dia tetap konsisten mengusung aspek jurnalisme. Tak pernah melepaskan unsur klasik 5W+1H. Lebih penting lagi adalah tulisan dia selalu bertutur.

Ada cerita menarik yang mengalir di dalamnya. “Yang saya tulis adalah news article,” ujar Dahlan suatu ketika. Rangkaian kalimat yang dia tulis selalu enak dibaca. Tidak pernah bertele-tele.

Sejumlah kalimat pendek dirangkai sedemikian rupa. Membentuk paragraf demi paragraf yang semua membuahkan pemahaman utuh. ”Itu jenis tulisan staccato,” ujar seorang rekan jurnalis alumnus jurusan komunikasi sebuah universitas ternama kepada saya. 

Staccato atau stakato adalah istilah di bidang musik. Cara memainkan, menyanyikan, atau memperdengarkan suatu—atau serangkaian—nada dengan pola pendek-pendek. Terputus-putus, tapi secara keseluruhan tetap enak didengar. 

Produktif

Saat bepergian, dalam waktu sejam penerbangan, Dahlan terbukti produktif. Mungkin menghasilkan satu, atau lebih, tulisan. Keesokan harinya muncul sebagai kolom DI’s Way di sejumah media. Umumnya di jaringan koran Jawa Pos Group, yang di besarkan. Itu di lakukan hanya dengan memanfaatkan fasilitas gawai/gadget yang ada di tangan.

Suatu ketika, saya bersama dia naik taksi tak lebih dari setengah jam. Di tengah kemacetan Jakarta. Sang sopir taksi mengenali Dahlan. Sambil lalu, Dahlan mengajak ngobrol ngalor ngidul sopir taksi itu. Saya pikir sekadar obrolan pengisi waktu. Untuk mengisi kejenuhan menuju lokasi yang kami tuju.

Esoknya, saya terperangah ketika mendapat kiriman artikel segar yang dia tulis. Dari hasil obrolan naik taksi kemarin. Beberapa kolega mengirimi artikel itu karena ada nama saya disebut dalam kolom itu. Mungkin.

Tanggal 9 Februari lalu juga menjadi hari yang melegakan buat Dahlan Iskan. Dua hari sebelumnya, kepemimpinan di Serikat Perusahaan Pers (SPS) dinyatakan demisioner. SPS didirikan di Jogja pada 8 Juni 1946. Semula berkepanjangan sebagai Serikat Penerbit Surat Kabar.

Sejak kongres ke-23 di Bali, diubah kepanjangannya menjadi Serikat Perusahaan Pers. Untuk mengakomodasi tren media ke arah konvergensi. Tidak hanya media cetak, tapi multimedia dan multiplatform.

Dahlan menjabat ketua umum asosiasi perusahaan media itu tiga periode berturut-turut. Sejak 2007 hingga 2019. Sebenarnya, di ujung kepengurusan periode kedua, dia sudah ingin mengakhiri. Pada kongres ke-24 di Batam, Dahlan terpilih lagi. Secara aklamasi.

Saat itu dia masih menjabat sebagai menteri. Memang tidak melanggar aturan organisasi, tapi dia mengaku tidak mudah memimpin organisasi media pada era disrupsi. Sepertia saat ini. Teruslah menulis, Pak Dahlan. Karyamu tetap dinanti.