Bersikap pada Era Post-Truth

Hakiman - Istimewa
10 Februari 2019 05:00 WIB Hakiman Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (7/2/2019). Esai ini karya Hakiman, dosen di Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan IAIN Surakarta dan mahasiswa Program Doktor Pendidikan Islam Multikultural dan Demokrasi. Alamat e-mail penulis adalah hakiman.iman@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Kebenaran pada hari-hari ini semakin sulit ditemukan karena fakta dan realitas dimanipulasi, dipoles, diedit, dan disembunyikan sehingga terlepas dari konteksnya.

Pendapat individu dan kelompok menjadi landasan kebenaran karena opini lebih kuat. Fakta dikubur dalam-dalam. Fakta objektif kalah pengaruh dengan emosi dan keyakinan pribadi dalam membentuk opini.

Pembentukan keyakinan tidak memedulikan lagi argumen yang sesuai dengan pengetahuan dan logika. Emosi mengalahkan objektivitas dan rasionalitas. Kebenaran dinomorduakan. Ketegangan terus menguat di semua lapisan masyarakat.

Masyarakat bukan lagi satu kesatuan yang utuh. Mereka terkotak-kotak oleh baju kepentingan. Konflik semakin sulit dicegah. Perbedaan yang merupakan keniscayaan malah menjadi hal yang tabu karena kuatnya hegemoni emosi kelompok.

Post-truth muncul dari berkembang dan meluasnya akses terhadap informasi. Masyarakat dapat memproduksi informasi sendiri dengan berbagai media.

Ketika media seperti blog pribadi atau media sosial seperti Facebook, Whatsapp, Snapchat, Twitter, Instagram, dan Youtube masif digunakan untuk mengirim pesan yang mengedepankan opini ketimbang fakta ternyata berdampak memperburuk nalar masyarakat.

Dengan memanfaatkan media informasi mutakhir, semua orang bisa mengungkapkan dan mengekspresikan ketidakpuasaan kepada siapa pun tanpa memedulikan tata nilai dan etika. Setiap orang menganggap dirinya benar.

Setiap orang bisa memublikasikan opini sendiri. Fakta apa pun akan tenggelam dengan banyaknya pengirim pesan baru. Penyebaran hoaks membuat banalisasi kebohongan dan berakibat kredibilitas media (pers) kalah dengan opini pribadi.

Fitur berbagi (sharing) di media sosial merupakan sumber utama penyebaran hoaks. Hoaks menjadi seperti fakta alternatif yang disesuaikan dengan yang diharapkan masyarakat. Kenapa hoaks selalu memikat? Karena pembohong bertindak atau berbicara dengan mengikuti logika dan harapan yang dibohongi.

Keyakinan Kolektif

Kebohongan yang dimunculkan berulang-ulang menjadi keyakinan kolektif yang sukar dipatahkan. Kebenaran yang muncul menjadi asing dan sulit diterima akal sehat. Kebohongan individu menjadi kebohongan kelompok yang dikembangkan oleh identitas kelompok.

Fanatisme berlebih mengancam identitas kelompok lain. Berbagai teknik post-truth yang digunakan untuk membunuh karakter seseorang sehingga menjadi bahan cacian dan tertawaan orang kini menjadi hal yang biasa.

Foto dan gambar yang direkayasa oleh pihak yang tidak bertanggung jawab juga menjadi penyulut amarah kelompok dan mengundang kericuhan. Dekontekstualisasi menjadi alat untuk menciptakan kambing hitam ketika kebohongan individu terkuak dan cenderung besikap baik (pencitraan) dengan menghalalkan semua bentuk kebohongan.

Headlines disajikan begitu menarik tetapi menjebak. Tema-tema kontroversial digunakan hanya untuk mencari sensasi supaya banyak pembaca dan pengunjung. Pada akhirnya mereka tertipu karena ketidaksesuaian tema atau judul dengan konten.

Data yang minim disajikan disertai kesimpulan dangkal sehingga argumentasi yang bersifat ekstrapolasi (minim data) mengakibatkan kebodohan publik. Kreativitas produsen informasi sangat berpengaruh terhadap pencari informasi, yaitu masyarakat bias yang cendrung mencari informasi yang mendukung pandangannya.

setiap orang menawarkan tafsir sendiri terhadap fakta dan mengklaim tafsirnya yang paling benar. Yang mengemuka kemudian bukan lagi tentang apa yang terjadi (fakta), tetapi yang terpenting adalah mendengar dan membaca fakta yang dekat dengan ideologinya.

Pada era politik post-truth orang dengan mudah mengambil data apa pun dan membuat kesimpulan sendiri serta tafsir sesuai yang diinginkan. Politik menjadi arena pertaruhan kepentingan pribadi dan kelompok.

Prosedur demokrasi menjadi politik riil dalam negosiasi kepentingan yang mengakibatkan politik sulit diprediksi. Diskusi tentang nilai-nilai diabaikan dan menghambat keputusan kritis serta menciptakan mitos-mitos politik.

Politik menggunakan senjata disinformasi dengan teknik merekayasa pesan atau gambar agar membungkam pikiran kritis masyarakat. Rekayasa informasi dilakukan dengan masif agar setiap orang bingung untuk menafsirkan.

Agama

Ini mengakibatkan kecurigaan dan permusuhan di antara kelompok-kelompok masyarakat. Agama merupakan alat politik dominan  pada era post-truth. Isu berbasis agama disajikan ke ruang publik sehingga menjadi bola api yang siap membakar setiap rumput yang kering dari  kebenaran informasi.

Isu agama merupakan isu yang berbahaya bagi masyarakat karena akan meningkatkan intoleransi dan permusuhan. Janganlah memadamkan api dengan api, yakni tidak melawan isu agama dengan isu agama lagi karena akan menjadi kebakaran yang hebat.

Agama adalah keyakinan yang absolut, jangan digunakan untuk kepentingan politik.  Politik pada era post-truth juga berkaitan erat dengan populisme, yaitu strategi politik yang [tampaknya] berpihak kepada rakyat kecil.

Inilah strategi yang telah memenangkan Donald Trump, menyukseskan Brexit, mewujudkan referendum Catalunya atau Catalonia. Populisme digunakan dalam berkomunikasi dengan cara menggunakan kata-kata yang indah, sederhana, dan membuai perasaan.

Keberpihakan kepada masyarakat miskin muncul ketika mendekati kontestasi politik. Ini menjadi semacam tradisi calon pemimpin untuk memikat hati rakyat. Menyikapi era post-truth yaitu dengan memperbanyak literatur serta membaca referensi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kurangilah membaca situs-situs yang tidak jelas karena banyak buku-buku referensi yang akan memperkuat wawasan dan analisis dalam membangun nalar kritis. Memperkuat kesalehan  diri penting supaya dapat menahan emosi serta menjaga keseimbangan antara ekspresi dan etika bermedia sosial.

Telusurilah sumber informasi sehingga dapat menemukan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan melihat siapa yang untung dan siapa yang rugi dari penyebaran informasi tersebut. Belajarlah untuk selalu kritis terhadap fenomena apa pun sehingga tidak terbawa arus keberpihakan.

Memori Digital

Selalulah berlapang dada untuk menerima semua perbedaan. Informasi yang meragukan cukup bertenti pada diri sendiri dan tidak disebarkan kepada orang lain karena mengoreksi informasi yang sudah telanjur menyebar sangat sulit.

Informasi yang dikonsumsi dan dipersepsi orang lain akan terus tersimpan dalam memori digital dan suatu saat bisa disajikan kembali ke ruang publik. Sadarilah bahwa jejak digital akan merekam semua masa lalu tanpa ada batasan ruang dan waktu.

Hindarilah orang-orang yang selalu membakar nafsu dan keyakinan, menyulut radikalisme ekstrem, menebar prasangka negatif, dan mempromosikan politik ekstrem lewat media sosial.

Menjaga harmonisasi masyarakat dengan melarang semua bentuk provokasi atau dorongan yang akan membangkitkan kebencian, permusuhan, dan ajakan pada pembangkangan sipil menjadi pekerjaan bersama.

Regulasi dan intervensi pemerintah dalam penggunaan media sosial penerapan hukum yang jelas bagi para penyebar kebohongan perlu diapresiasi.

Kepedulian para aktivis sosial, lembaga pendidikan, dan tokoh agama serta tokoh masyarakat penting dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat agar bijak dalam memanfaatkan teknologi komunikasi informasi dan tidak terjebak pada isu-isu provokatif.