Pembelajaran Gelar Wicara Memancing Siswa Berpendapat

Mustofa Arif A. - Istimewa
09 Februari 2019 07:30 WIB Mustofa Arif A. Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/2/2109). Esai ini karya Mustofa Arif A., guru Sosiologi di SMAN 1 Ponorogo, Jawa Timur. Alamat e-mail penulis adalah mustofaarif44@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Suatu hari ada seorang alumnus yang datang mengunjungi sekolah tempat saya mengajar. Ketika saya selesai mengajar dan menuju ke ruang guru, tidak sengaja bertemu dengan alumnus tersebut.  Dia berlari-lari kecil sambil memanggil nama saya.

”Pak, saya ingin omong sesuatu dengan Bapak."

”Iya, ada apa, Ndhuk?"

”Terima kasih banyak ya, Pak. Pelajaran diskusi waktu kelas XI dan XII sangat bermanfaat karena waktu kuliah saya dituntut untuk berani berbicara,” kata perempuan muda bekas siswa saya itu.

”Karena mendapat [pelajaran diskusi] dari jenjang SMA akhirnya saya berani berbicara juga di depan orang banyak dan saya selangkah lebih maju. Terus lanjutkan, Pak, [pelajaran diskusi itu] biar adik-adik kelas saya mendapat bekal yang berharga itu," kata dia lagi.

Saya tersenyum simpul mendengar pernyataan alumnus tersebut. Sebagai seorang pendidik saya memiliki visi agar murid-murid saya selain pintar secara akademis juga harus memiliki keberanian berbicara di depan umum, khususnya di mata pelajaran Sosiologi.

Variatif

Pada era sekarang mendidik harus variatif agar murid tidak bosan dengan materi pelajaran yang diampu guru. Setelah berdiskusi dengan kawan sesama guru, saya mendapat ide menerapkan pembelajaran dengan metode talk show learning atau pembelajaran gelar wicara.

Ide dasarnya berawal dari acara gelar wicara di televisi yang menyita perhatian penonton, khususnya remaja, serta rating termasuk tinggi, seperti Kick Andy yang dibawakan Andy Noya, Indonesia Lawyers Club (ILC), Mata Najwa, Ini Talk Show, Silet, Hitam Putih, Indonesia Morning Show, Putih Abu-Abu, dan sebagainya.

Acara tersebut bisa diadopsi untuk pembelajaran di kelas.       Teknisnya adalah kelas dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri atas lima orang hingga tujuh orang murid,  tergantung jumlah murid di kelas tersebut. 

Saya sebagai guru mengemukakan beberapa permasalahan sosial di masyarakat sesuai dengan materi Sosiologi untuk kelas XI, saat itu semester pertama. Kelompok-kelompok siswa saya minta memilih satu masalah sosial.

Pilihan masalah tersebut tersebut didiskusikan oleh kelompok seperti gelar wicara di televisi.  Tiap Kelompok bebas memilih model gelar wicara yang diinginkan. Para siswa kemudian berkumpul dengan kelompok masing, berdiskusi di kelas, di perpustakaan, maupun di kantin selama pembelajaraan Sosiologi.

Kelompok-kelompok tersebut bebas mencari model gelar wicara yang dirasa cocok serta membagi anggota kelompok menjadi pemeran dalam gelar wicara.

Ada yang menjadi pembawa acara, menjadi psikolog, menjadi korban, menjadi pelaku, menjadi orang tua,  dan sebagainya. Demi penampilan yang terbaik serta tidak kalah dengan kelompok yang lain, mereka mempersiapkan semaksimal mungkin dengam mencari acuan di Internet maupun media cetak.

Referensi

Mau tidak mau mereka harus membaca referensi yang telah mereka kumpulkan kemudian membuat skenario serta membagi anggota kelompok untuk berperan sesuai skenario tersebut.

Mereka harus berlatih berbicara laksana gelar wicara sungguhan di televisi. Pada hari pelajaran yang ditentukan  kelompok  urutan pertama mengawali tampil di depan kelas.

Kelompok yang lain memerhatikan sambil menilai penampilan teman-teman mereka dalam hal penguasaan terhadap permasalahan, cara menyampaikan pendapat atau gagasan, serta cara memberikan pertanyaan.

Pada akhir penampilan, kelompok penyaji harus menjawab pertanyaan dari kelompok yang lain. Saya kagum dan terkesima dengan penampilan mereka. Mereka tampil begitu memesona.

Artikulasi kata yang mereka ucapkan sangat jelas. Data yang mereka tampilkan serta jawaban atas pertanyaan tidak kalah bagus seperti layaknya gelar wicara sungguhan di layar kaca.

Metode tersebut sangat menarik serta para siswa antusias karena dapat mengungkapkan pendapat, gagasan, dan opini dari masalah sosial yang ditampilkan. Kegiatan belajar mengajar berjalan asyik dan menyenangkan.

Paar siswa dapat berpikir kritis terhadap permasalahan yang muncul di masyarakat. Mereka punya bekal yang yang berharga dan memadai untuk belajar di perguruan tinggi kelak, yaitu bekal mengekspresikan pendapat.