PLT Sampah Solo, Energi Terbarukan untuk Masa Depan

Ichwan Prasetyo - Dokumen Solopos
08 Februari 2019 10:00 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/2/2019). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Rancangan proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga (PLT) sampah di tempat pembuangan akhir sampah Putri Cempo di Kota Solo menunjukkan kemajuan.

PT Pembangunan Perumahan kini melaksanakan tahap penyiapan lahan untuk lokasi pembangkit listrik tenaga sampah itu. Proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah ditargetkan selesai pada 2020. Tentu ini kabar baik.

Pada dasarnya pembangkit listrik tenaga sampah adalah pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar sampah. Prinsip kerjanya tidak jauh berbeda. Proses konversi energi pada pembangkit listrik tenaga uap berlangsung dalam tiga tahap (Studi Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Ditinjau dari Aspek Teknis, Ekonomi, dan Lingkungan; Kukuh Siwi Kuncoro, ITS, 2011).

Pertama, energi kimia dalam bahan bakar diubah menjadi panas dalam bentuk uap bertekanan dan bertemperatur tinggi. Kedua, energi panas (uap) diubah menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran. Ketiga, energi mekanik diubah menjadi energi listrik.

Sampah adalah sumber energi terbarukan yang layak menjadi alternatif dalam mengatasi ketergantungan masyarakat era kini terhadap energi fosil yang semakin terbatas, terutama dalam penyediaan energi listrik.

Utjok W. R. Siagian dalam Prisma Volume 37, Nomor 1, Tahun 2018 menjelaskan pertumbuhan ekonomi dan populasi serta dampak elektrifikasi di sisi pengguna akhir akan meningkatkan permintaan listrik secara signifikan dari 165 TWh pada 2010 menjadi sekitar 1.390 TWh pada 2050 atau tumbuh rata-rata 5,5% per tahun.

Pada 2050 permintaan listrik dengan skenario dekarbonisasi 24% lebih tinggi, terutama karena elektrifikasi di sisi pengguna akhir, daripada skenario penyediaan energi listrik dalam sistem business as usual.

Penurunan Intensitas Karbon

Penggunaan energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga air, tenaga angin, tenaga nuklir, dan tenaga gas sebagai pengganti pembangkit listrik bertenaga batubara akan menghasilkan penurunan intensitas karbon pembangkit listrik dari 871 gCO2/kWh pada 2010 menjadi 133 gCO2/kWh pada 2050 atau lebih rendah dibanding intensitas karbon dengan skenario business as usual yang sebesar 305 gCO2/kWh pada 2050.

Sampah sebagai sumber energi pembangkit listrik tentu masuk dalam kategori alternatif penyediaan energi listrik dengan skenario dekarbonisasi. Keuntungan yang akan dirasakan bukan sekadar ada alternatif tambahan pasokan energi listrik dari pembangkit listrik tenaga sampah di tempat pembuangan akhir sampah Putri Cempo.

Keuntungan lainnya adalah ada prospek positif bagi pengolahan sampah di kawasan Soloraya. Pengolahan sampah yang jamak hanya berakhir dengan penumpukan di tempat pembuangan akhir sampah kini punya jalan keluar yang lebih maju, yakni diberdayakan menjadi bahan bakar bagi pembangkit listrik tenaga sampah di Kota Solo itu.

Pemerintah kabupaten di kawasan Soloraya harus memandang rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah di Kota Solo ini sebagai jalan keluar mencegah penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.

Penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir jamak berakhir dengan kebingungan mencari lahan baru kala tempat pembuangan akhir itu telah penuh dengan sampah.

Pemerintah kabupaten di sekitar Kota Solo sebaiknya segera merencanakan partisipasi memasok sampah ke pembangkit listrik tenaga sampah di Kota Solo ini. Tentu secara teknis perlu mengetahui dulu berapa kapasitas produksi energi listrik dan berapa kebutuhan sampah setiap hari.

Pemerintah kabupaten di sekitar Solo tak perlu menggunakan perhitungan ”saya memberi apa dan saya akan mendapat apa”. Keberadaan pembangkit listrik tenaga sampah ini bisa menjadi wahana meningkatkan pelayanan publik persampahan.

Biaya

Sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir yang dikelola pemerintah kabupaten bisa dikurangi terus-menerus dengan mengangkut ke pembangkit listrik tenaga sampah. Tentu butuh alokasi biaya pengangkutan. Biaya ini layak dimasukkan dalam program peningkatan pelayanan publik di sektor persampahan.

Pemerintah daerah mendapatkan tempat pembuangan sampah adalah keuntungan paling mendasar. Alokasi biaya pengangkutan adalah bagian dari peningkatan pelayanan publik di sektor persampahan yang dampaknya adalah tak ada penumpuhan sampah berlebih di daerah.

Dalam artikel panjang di Prisma itu Utjok menjelaskan dekarbonisasi sektor energi di Indonesia terdiri atas tiga pilar utama: efisiensi energi, elektrifikasi di sisi pengguna akhir, dan dekarbonisasi pembangkit listrik.

Salah satu strategi dekarbonisasi adalah elektrifikasi pengguna akhir yang dipadukan dengan penurunan intensitas karbon pembangkit listrik melalui transformasi pembangkit listrik dari berbahan bakar fosil menjadi pembangkit listrik berbahan bakar energi terbarukan dan energi nuklir.

Kunci strategi dekarbonisasi sektor energi adalah penggunaan secara luas teknologi rendah karbon. Teknologi ini bisa berwujud kendaraan listrik, pembangkit listrik dengan efisiensi tinggi, pembangkit listrik tenaga surya, peralatan hemat energi, dan lain-lain.

Skenario dekarbonisasi di Indonesia akan mencapai 536 juta ton CO2 per kapita pada 2050 atau rata-rata 1,7 ton CO2 per kapita. Pada tingkat emisi itu, Indonesia secara signifikan berkontribusi pada upaya dan strategi global mencegah peningkatan temperatur lebih dari dua derajat Celcius pada 2050.

Pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah memang berpotensi memunculkan beberapa dampak negatif. Justru karena pembangunannya belum selesai dan belum dioperasikan, potensi dampak negatif bisa dipetakan dan dirumuskan cara mengatasinya sejak dini.

Merumuskan Strategi

Pertama, berkurangnya lapangan kerja bagi warga yang menggantungkan hidup dari memilih dan memilah sampah di tempat pembuangan akhir. Kedua, polusi udara baru berupa bau tak sedap dari tumpukan sampah di lokasi penampungan sebelum diproses di pembangkit listrik tenaga sampah.

Ketiga, senyawa organik berbahaya dioksin (bahan beracun berbentuk kristal putih yang dihasilkan saat terjadi pembakaran substansi alami kimiawi serta larut dalam lemak) yang merupakan hasil sampingan dari sintesis kimia pada proses pembakaran sampah. Keempat, residu atau abu bawah dan abu terbang.

Rekayasa sosial pasti bisa menyelesaikan persoalan warga yang berpotensi kehilangan mata pencarian dari sampah. Ihwal potensi pencemaran pasti bisa diatasi dengan teknologi. Investor, pemerintah, dan masyarakat yang hidup dari pengolahan sampah perlu duduk bersama merumuskan strategi.

Senyampang pembangkit listrik tenaga sampah di Kota Solo belum jadi dan belum dipoperasikan, segala potensi positif dan perkiraan dampak negatif bisa dipetakan dan dirembuk bersama demi kebaikan masa depan.