Membangun Ekselensi UNS Solo

Widodo Muktiyo - Istimewa
07 Februari 2019 09:54 WIB Widodo Muktiyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/2/2019). Esai ini karya Widodo Muktiyo, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Universitas Sebelas Maret periode 2011-2015 dan 2015-2019.

Solopos.com, SOLO -- Sebagai perguruan tinggi berumur di bawah 50 tahun, Universitas Sebelas Maret (UNS) telah menunjukkan prestasi luar biasa.

Saat ini UNS menempati urutan ke-11 dalam daftar perguruan tinggi terbaik di Indonesia versi Asian University Ranking (AUR) yang dikeluarkan oleh Quacquarelli Symonds (QS).

QS juga mengategorikan UNS sebagai perguruan tinggi bintang tiga versi QS Star pada 2019. QS Star bahkan mengganjar UNS dengan bintang lima pada beberapa subkategori yaitu employability, social responsibility, dan inclusiveness.

Webometrics dan 4ICU yang menyusun peringkat perguruan tinggi berbasis konten website, menempatkan UNS pada posisi terbaik keenam dan ketiga di Indonesia. Pencapaian ini menunjukkan walaupun masih muda UNS menunjukkan kualitas dan mampu sejajar dengan perguruan tinggi lain yang lebih tua.

Dalam target dan sasaran Rencana Pengembangan Jangka Panjang (RPJP) UNS 2011-2031, UNS memang menargetkan meraih bintang tiga QS pada 2019. Target dapat diraih. Ini membuktikan RPJP UNS maupun Rencana Strategis 2015-2019 disusun dengan target yang terukur serta dapat diraih dengan baik.

Perencanaan yang baik memudahkan target tercapai pada waktunya. Aspek perencanaan ini semakin penting karena dalam status perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH), UNS akan memiliki otonomi lebih luas.

UNS juga menunjukkan beberapa pencapaian lain yang patut dicatat, salah satunya perolehan pendapatan nonuang kuliah tunggal (non-UKT) senilai Rp184 miliar pada akhir 2018. Angka ini jauh melebihi target, yaitu senilai Rp140 miliar. Pendapatan ini bermakna signifikan.

Pertama, nilainya mencapai hampir separuh dari pendapatan negara bukan pajak (PNBP) yang dikelola UNS, senilai Rp385 miliar. Kedua, pendapatan ini berasal dari tiga sumber, yaitu hasil kerja sama (Rp80 miliar), hasil tata kelola aset (Rp75 miliar), dan hibah (Rp29 miliar).

Reputasi

Ini menunjukkan UNS berhasil membangun reputasi dan mengembangkan jaringan kerja sama produktif dengan berbagai pihak. Pencapaian ini sekaligus menegaskan kesiapan UNS menuju PTNBH.

UNS saat ini sedang menjelang masa transisi dari status perguruan tinggi negeri badan layanan umum (PTN-BLU) menjadi PTNBH. Cita-cita besar menjadi perguruan tinggi berkelas dunia sangat bergantung pada arah kepemimpinan untuk mengelola organisasi UNS secara otonom.

UNS akan melewati dua tahun masa transisi PTNBH, sekaligus berada pada pencapaian sasaran tahap ketiga (2019-2023) yang dalam skema RPJP UNS diharapkan akan menjadi perguruan tinggi unggul di Asia Pasifik.

Visi strategis kepemimpinan UNS empat tahun ke depan sangat krusial sehingga diperlukan berbagai terobosan agar target-target tersebut dapat tercapai. Secara sistematis pengembangan universitas periode 2019-2023 dapat dibagi dalam dua tahap.

Pertama, masa transisi PTNBH tahun 2019-2020 yang memprioritaskan pemenuhan persyaratan UNS menjadi PTNBH sesuai dengan pakta integritas. Kedua, masa PTNBH tahun 2020-2023 yang memprioritaskan pencapaian UNS menuju universitas kelas dunia.

Pada masa transisi tahun 2019-2020 paling tidak terdapat empat program prioritas yang harus dilakukan. Pertama, peningkatan kualitas pembelajaran yang ditandai dengan predikat unggul (akreditasi A) pada 80% program studi.

Kedua, peningkatan modal dan pendapatan, baik melalui kerja sama, pemberdayaan aset, maupun melalui hilirisasi produk riset. Ketiga, peningkatan kualitas sumber daya manusia yang ditandai dengan rasio dosen berkualifikasi doktor sekurang-kurangnya 50% dari jumlah dosen.

Keberlanjutan Kepemimpinan

Keempat, pengelolaan sistem informasi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sehingga tercipta sistem data tunggal yang akurat dan aksesibel. Sangat penting menjamin keberlanjutan kepemimpinan sehingga pencapaian UNS dapat terus ditingkatkan secara akseleratif.

Dengan pengalaman menjadi bagian dari tata kelola UNS selama dua periode serta melihat capaian UNS saat ini, saya yakin empat tahun ke depan UNS akan mampu mencapai target, baik pada masa transisi PTNBH maupun menjadi perguruan tinggi unggul di Asia Pasifik.

UNS harus menekankan pada pengembangan ekselensi perguruan tinggi. Empat tahun ke depan adalah saatnya membangun UNS sebagai pusat pengembangan ilmu, teknologi, dan seni yang unggul di tingkat internasional dengan berlandaskan pada nilai-nilai luhur budaya nasional.

Konsep ekselensi yang saya maksud ini terinspirasi Excellent Theory (Grunig, 2002). Membangun ekselensi UNS berarti mencapai kualitas luar biasa atau sangat baik (the quality of being outstanding or extremely good) dengan perbaikan terus-menerus terkait semua aspek kehidupan universitas.

UNS harus beranjak dari sisi kuantitas ke sisi kualitas (quality on top of quantity). Fokus perhatian UNS tidak sebatas pada usaha memenuhi syarat-syarat statistik kuantitatif sebagai PTNBH maupun statistik capaian dalam rangka memenuhi kebutuhan pemeringkatan, tetapi harus diarahkan pada kualitas kontribusi nyata yang dapat disajikan UNS dalam menyelesaikan permasalahan nasional serta global.

Sebagai contoh, syarat 50% dosen berkualifikasi doktor yang harus dipenuhi sebagai PTNBH harus dipandang sebagai upaya UNS lebih berkontribusi misalnya pada pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals). Jumlah doktor yang banyak tidak bermakna jika tidak memiliki nilai tambah untuk berperan dalam isu keilmuan dan kemasyarakatan yang lebih luas.

Tak Hanya Selebrasi

Riset dan publikasi UNS seharusnya tidak hanya berhenti pada selebrasi publikasi di jurnal bereputasi atau untuk memenuhi penilaian pemeringkatan, tetapi harus dimaknai sebagai upaya menghasilkan inovasi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

UNS harus berperan aktif dalam meraih tujuan-tujuan tersebut. Inovasi dalam pengembangan ilmu, teknologi, dan seni yang dikembangkan UNS harus mampu menjawab permasalahan-permasalahan pembangunan.

Budaya nasional harus tetap menjadi dasar dan rujukan sehingga inovasi dan teknologi yang dihasilkan bermanfaat secara sosial dan selaras dengan nilai-nilai moral dan etika kemanusiaan. Semangat ini sejalan dengan konsep Society 5.0, bahwa perkembangan pengetahuan dan teknologi harus berpusat pada manusia.

Konsep ekselensi memiliki tiga aspek yang idealnya menjadi roh setiap program kegiatan UNS empat tahun ke depan. Tiga aspek tersebut yaitu uniqueness, sinergi, dan tanggung jawab. Uniqueness berarti karakter yang dimiliki oleh individu atau institusi dan tidak dimiliki oleh institusi lainnya, sekaligus menjadi pembeda institusi dengan institusi lainnya.

Uniqueness dalam konteks UNS berarti semua fakultas, program stidi, unit kerja, bahkan individu harus memiliki potensi spesifik yang sesungguhnya merupakan kekuatan masing-masing. Semua potensi unik tersebut tidak akan berarti jika tidak berkolaborasi dan berbagi dengan elemen lain di UNS maupun bekerja sama secara sinergis dan membangun jaringan dengan stakeholders di seluruh dunia.

Tanggung Jawab Global

Tanggung jawab (responsibility) bermakna ujung dari semua pencapaian UNS harus dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab. Tanggung jawab UNS bukan hanya untuk pribadi atau institusi tetapi kepada masyarakat global.

Sekali lagi pencapaian kuantitas angka-angka memang penting tetapi yang tidak kalah penting adalah UNS harus secara nyata berkomitmen dan mengambil tanggung jawab pada penyelesaian permasalahan dunia global.

Dengan kata kunci ekselensi, UNS dapat mengoptimalkan sumber daya untuk berkontribusi dalam pembangunan sehingga mampu menunjukkan reputasi keunggulan yang nyata, substantive, dan spesifik. Saya yakin pemimpin perguruan tinggi era revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 tidak cukup dengan figur yang pintar, tegas, dan disiplin.

Pemimpin perguruan tinggi harus kreatif dan onovatif membangun keunggulan berbasis keunikan dan mengedepankan sinergi untuk memberikan kontribusi nyata sebagai tanggung jawab sosial.

Kunci utama menciptakan keunggulan adalah kemampuan menghargai dan mengelola setiap insan yang terlibat di dalam perguruan tinggi melalui penciptaan akses terhadap semua kesempatan civitas academica yang beraneka ragam untuk bekerja dan berkarya.  

Kerja dan karya menjadi roh dan energi yang mendasari manajemen organisasi. Keberhasilan hanyalah akibat dari proses kerja dan karya yang terpimpin dengan pribadi yang komunikatif.  Kepribadian ini menjadi pilar mewujudkan gerak bersama UNS yang berkelanjutan, inovatif, dan tanggap atas perubahan yang terjadi.