SMRC Sarankan Jokowi Elegan, Jangan Terkesan Mudah Tersinggung

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berdialog dengan Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantuan Penyuluh Pertanian (TBPP) di GOR Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (3/2 - 2019). (Antara/Puspa Perwitasari)
07 Februari 2019 22:35 WIB Jaffry Prabu Prakoso Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Serangan yang mulai dilempar calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) kepada Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dianggap sebagai bentuk keinginan menunjukkan ketegasannya. Berdasarkan Survei Populi Center, 40% responden menganggap capres petahana tegas.

Direktur Ekekutif Saiful Mujani Research Center (SMRC) Djayadi Hanan mengatakan sikap ini dilakukannya mematahkan persepsi publik. Persepsi yang dimaksud adalah anggapan bahwa dirinya tidak bisa tegas.

“Dia juga pemimpin yang bisa tegas, bisa memberikan reaksi yang cukup keras terhadap isu-isu yang dianggap hoaks atau tidak benar, atau harus diluruskan,” katanya di Jakarta, Kamis (7/2/2019).

Djayadi menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Jokowi mungkin bisa menarik para pendukungnya yang ingin dia tampil tegas. Selain itu, Jokowi dianggap ingin menunjukkan kepada publik bahwa dia tidak berpihak pada asing. Dia juga ingin membantah anggapan bahwa dirinya tidak peduli dengan Islam.

“Jadi ini bagian dari stategi, atau ini bisa juga wujud dari kesalnya Jokowi terhadap isu-isu itu karena dia sudah tak bisa menahan terlalu lama,” jelasnya.

Djayadi yang merupakan dosen Universitas Paramadina ini menuturkan bahwa Jokowi juga tidak suka dengan isu negatif dan tidak ingin tuduhan tersebut dianggap benar. Tapi, dia menyarankan Jokowi agar memperlihatkannya secara elegan.

“Jangan sampai itu menunjukkan kesan bahwa dirinya pemimpin yang mudah tersinggung, pemimpin yang lemah atau mengeluh,” ucapnya.

Dalam survei Populi Center secara keseluruhan, elektabilitas masing-masing calon tidak mengalami perubahan signifikan sejak Agustus 2018. Tingkat keterpilihan antara keduanya yakni 54,1% untuk Jokowi-Ma'ruf berbanding Prabowo-Sandi sebesar 31%, sedangkan yang belum menentukan pilihan sebesar 14,9%.

Populi melakukan wawancara dengan tatap muka di seluruh 34 provinsi pada 20-27 Januari 2019. Responden yang dipilih secara acak bertingkat sebanyak 1.486 orang dengan tingkat kesalahan 2,53%.