Ngaku Sulit Pinjam Uang di Bank, Prabowo: Negara Ini Punya Genderuwo?

Prabowo Subianto. (Antara)
06 Februari 2019 23:15 WIB Jaffry Prabu Prakoso Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Calon presiden Prabowo Subianto kembali mengaku kesulitan mencari pinjaman uang dari bank-bank di Indonesia. Tidak hanya mengeluh sulit berutang, dia juga mengklaim susah menjual aset-asetnya termasuk ke luar negeri.

Tak hanya menceritakan dirinya, Prabowo juga mengatakan bahwa pasangannya, Sandiaga Uno, juga tidak jauh berbeda. Oleh karena itu, Prabowo mengklaim mereka selalu menggunakan paket hemat untuk berkampanye.

“Mau dagang susah, jual aset susah, temen-temen juga susah, Sandiaga juga susah. Ini negara punya siapa? Punya genderuwo?” selorohnya saat menghadiri acara ulang tahun Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia Jakarta, Rabu (6/2/2019).

Prabowo mengatakan bahwa cerita yang dia alami ini bertolak belakang dengan orang-orang yang telah mencuri uang rakyat. Orang-orang yang dia maksud, katanya, malah dilayani. Padahal, dirinya mengaku berhak mendapat perlakuan sama.

“Hei elite. Jelek-jelek gini saya pernah pertaruhkan diri buat negara. Saya mau minjam duit tidak dilayani, tapi mereka yang ngemplang uang rakyat dilayani terus,” jelasnya.

Cerita itu, kata Prabowo, menjadi alasan sedikitnya baliho atau iklan-iklan tentang Prabowo-Sandi. Meski begitu, capres nomor urut 02 mengaku tidak begitu khawatir karena banyak relawan yang ikut kontribusi. Selain itu, dia yakin pendukungnya militan.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu Prabowo pernah mengucapkan bahwa dia pernah ditolak oleh Bank Indonesia untuk mengajukan kredit. Dia menyebut hal ini adalah upaya untuk menpersulit kekuatan logistiknya dalam menghadapi Pilpres 2019.

"Saya minta kredit dari Bank Indonesia saya nggak bisa dapat. Apalagi kalian, mantan pangkostrad aja nggak bisa apalagi tampang kalian, apalagi pakai jenggot. Tapi kita tidak gentar, kita tidak berkecil hati," seru Prabowo saat itu seperti dilansir Liputan6.

Ucapan Prabowo tersebut kemudian viral dan menjadi kontroversi. Pasalnya, Bank Indonesia memang bukan bank konvensional yang melayani simpan-pinjam, melainkan sebuah bank sentral yang menjalankan fungsi mengendalikan peredaran mata uang hingga likuiditas perbankan.

Sumber : Bisnis/JIBI