Asap Dupa dari Kelenteng Bikin Polusi Udara Bangkok Makin Parah

Warga membakar dupa di sebuah kelenteng di kawasan Pecinan Kota Bangkok, Thailand, Selasa (5/2/2019). - JIBI/Solopos/Reuters
05 Februari 2019 17:32 WIB R Bambang Aris Sasangka Internasional Share :

Solopos.com, BANGKOK – Kota Bangkok, Thailand, belakangan ini makin parah saja tingkat polusi udaranya, sampai-sampai pemerintah kota setempat mengeluarkan larangan membakar dupa saat ritual-ritual doa menyambut Tahun Baru Imlek. Namun lantaran sudah tradisi, larangan membakar dupa itu pun seolah ikut terbang bersama kepulan asap dupa.

Di berbagai kelenteng dan kuil di Bangkok, orang pun tetap berdatangan untuk membakar dupa dan aneka sesajian ritual lain. Banyak yang terlihat mengenakan masker antipolusi.

“Sama sekali tak mungkin menghentikan kebiasaan membakar dupa,” kata Romnalin Wangteeranon, 61, salah satu warga. "Ini bagian dari perayaan dan ritual yang tak bisa diabaikan demi nenek moyang dan leluhur kami,” imbuh dia.

“Kami hanya bisa memberikan imbauan saja, tak bisa melarang sama sekali. Jadi orang tetap membakar dupa dan sesajian,” kata seorang pejabat organisasi pengelola kuil di kawasan Pecinan Bangkok.

Kualitas udara di Bangkok selama perayaan Imlek terus berada di kategori tak sehat. Jumlah partikel debu berbahaya yang dikenal dengan istilah PM 2,5 melampaui tingkat standar kesehatan di sejumlah wilayah. Masker penutup hidung dan mulut pun sampai ludes terjual di sejumlah apotek. PM 2,5 adalah campuran partikel cair dan padat yang bisa mencakup debu dan asap, dan menjadi salah satu unsur pengukur Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index, AQI). Kondisi AQI di Bangkok pada Selasa (5/2) siang mencapai 110 berdasarkan pengukuran airvisual.com. Hal ini menjadikan Bangkok sebagai salah satu kota dunia dengan tingkat polusi terparah.

Indeks kualitas udara di Bangkok sempat sedikit membaik sejak pekan lalu karena adanya perubahan arah angin. Namun berbagai upaya pengurangan polusi yang dilakukan pemerintah seperti menyemai awan hujan, membatasi lalu lintas kendaraan berat, serta penyiraman jalanan tak banyak membawa pengaruh.

Sumber : Reuters