Pakar Tarot Ungkap Ramalan Suhu Politik di Tahun Babi 2019

Pertunjukan barongsai dalam air di Ancol, Jakarta, Minggu (3/2 - 2019).
05 Februari 2019 07:10 WIB Rheisnayu Cyntara & Kusnul Isti Qomah Nasional Share :

Solopos.com, SOLO —Kendati 2019 adalah tahun politik yang diprediksi bakal panas, tahun babi tanah dipercaya malah membawa suasana adem dan damai, siapapun pemimpin yang terpilih dalam Pemilu April mendatang. Tahun babi dalam tradisi Tiongkok merupakan tahun penutup, ditambah dan elemen tanah yang punya bersifat menelan segala hal yang bersifat buruk.

Konsultan dan Pakar Tarot Bernadette Erna Fembriani mengatakan banyak orang berpikir 2019 akan berlangsung panas karena adanya pemilihan legislatif dan presiden. Namun, ia memiliki pendapat berbeda. Ia melihat 2019 merupakan tahun yang damai karena ditutup oleh babi dan adanya unsur tanah itu.

Shio, kata dia, menurut kepercayaan orang Tiongkok diawali tikus dan diakhiri oleh babi. “Akan teredam. Isu yang terbangun memang panas. Karena ini yang terakhir [shio babi], sesuatu yang terakhir itu menutup semua. Ditambah elemen tanah yang sifatnya menelan sifatnya yang jelek-jelek,” ujar dia kata dia kepada Harian Jogja, saat ditemui di rumahnya di Jl Kaliurang, Pogung, Sleman, Sabtu (2/2/2019).

Ia mengakui pada tahun sebelumnya banyak hoaks beredar yang meresahkan masyarakat. Namun, pihak berwenang telah berupaya untuk terus menangani persoalan itu dan mengedukasi masyarakat agar tidak mudah terpengaruh dan terlebih dahulu mencermati sumber informasi yang beredar.

"Untuk masyarakat, karena sudah termakan isu setahun yang lalu atau beberapa bulan yang lalu kalau 2019 akan menjadi puncaknya panas [politik], jadi masih ada sisa-sisa [kepercayaan pada hoaks]," kata dia.

Oleh karena itu, Miss Berna mengatakan orang-orang yang menjadi publik figur harus memahami, harus menata omongan karena masyarakat di bawah mereka akan mengikuti. Lama-kelamaan akan terlihat figur publik mana yang baik dan bisa dipercaya serta mana yang tidak baik dan tidak dapat dipercaya.

"Kalau orang lain atau nenara lain mengompori [2019] akan panas, saya justru melihat akan adem tergantung kita menyikapi. Siapapun yang memimpin, semua akan membawa kedamaian," kata dia.

Selain kondisi politik yang menjanjikan, kondisi sosial ekonomi juga menunjukkan harapan. Akan ada kebijakan-kebijakan yang berpihak pada peningkatan pendidikan serta kesehatan. Kondisi keuangan juga akan stabil.

Miss Berna menjelaskan babi dalam shio Tiongkok terlihat sebagai makhluk yang tidak gesit, hanya makan dan tidur. Miss Berna menjelaskan babi sebetulnya bukan makhluk yang pemalas. Kesan itu didapatkan karena orang-orang hanya melihat babi yang ada di peternakan. Namun, bBabi dalam kepercayaan orang Tiongkok justru memiliki fokus yang kuat terhadap tujuan yang ingin dicapai.

Babi dianugerahi rezeki melimpah. Si babi tidak perlu lari ke sana ke mari untuk mengejar rezeki, melainkan rezeki sudah datang sendiri. Segala sesuatu yang dikerjakan pun akan membuahkan hasil tanpa usaha yang ekstra.

Shio babi tanah sendiri akan dimulai 5 Februari 2019. Mulai saat itu pula akan terkuak orang-orang yang memiliki tujuan tidak baik. Mereka akan mendapatkan hukuman dari alam sendiri atau terjerat kasus hukum.

Menurutnya, tanah akan menelan semua yang rusak dan hal yang dikeluarkan oleh tanah adalah hal yang baik seperti pohon, buah, bunga, dan lainnya. "Di sini kita paham, segala sesuatu yang sifatnya negatif akan ditelan dan hancur," ujar dia.

Disinggung soal bisnis, Miss Berna melihat jenis usaha yang bagus pada tahun ini adalah yang berbasis online, alat berat, jasa transportasi, dan kuliner. Tahun ini pun cocok untuk memulai usaha yang baru. Namun, bukan berarti masyarakat bisa berbondong-bondong memulai bisnis yang dimaksud tanpa bekerja keras. Para pelaku usaha harus mampu menunjukkan kualitas dan pelayanan yang baik untuk bisa menangkap momen tersebut. "Kalau bisnis yang agak lesu saya lihat emas. Karena orang-orang sedang memulai usaha baru. Mereka tidak menyimpan," kata dia.

Untuk kondisi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Miss Berna melihat untuk dua hingga tiga tahun ke depan, DIY semakin maju karena sudah mulai ditata dari sekarang. Pembangunan jalan layang dan bandara menjadi salah satu faktor pendukung untuk membuat DIY yang berhati nyaman menjadi lebih nyaman lagi.

Untuk sektor wisata, jika pengelolaan oleh pihak terkait dan masyarakat bagus, DIY akan menjadi lokasi wisata terkenal kedua setelah Bali. Pasalnya, DIY memiliki lokasi yang strategis yakni di tengah Pulau Jawa dan memiliki banyak destinasi wisata yang menarik.

Untuk isu intoleransi, Miss Berna mengaku merasa sedih ketika terjadi tindakan intoleransi di masyarakat. Hal itu dinilai bisa menodai citra DIY yang nyaman. "Pada 2019 ini, kembali lagi ke babi tanah, maka ada peredaman. Semoga semua pihak diberi pemahaman dan menyadari bahwa semua sama dan memilikui satu tujuan untuk kebaikan. Ini Tahun ini menjadi momen terbaik untuk menjadikanuntuk menjadi DIY yang lebih baik," ungkap dia.

Jaga Kerukunan

Ketua Pengurus Kelenteng Gondomanan Ang Ping Siang atau dikenal juga dengan nama Angling Wijaya mengatakan tahun Babi Tanah sering kali identik dengan sifat babi yang suka bermalas-malasan. Namun menurutnya tahun Babi Tanah merupakan tahun yang kurang harmonis dengan bertemunya elemen tanah dan air.

Sifat positif dari elemen tanah yang stabil, cenderung cari aman, sabar dan tanggung jawab akan berlawanan dengan sifat negatif dari air yang gelisah, khawatir, pesimistis, santai, ceroboh, tantangan, takut, nafsu, sensitif dan emosi. Oleh sebab itu menurut Angling perekonomian akan cenderung stabil dengan sedikit pertumbuhan. "Yang terpenting tetap harus kerja keras agar sukses dan dapat rezeki," katanya kepada Harian Jogja, akhir pekan lalu.

Adapun, tokoh Tionghoa Jogja, Jimmy Sutanto mengatakan meski akan ada gejolak di sisi politik dan sosial jelang Pilpres 2019 ini, pihaknya berpesan berharapagar seluruh masyarakat tetap menjaga kerukunan. Terutama antarumat beragama yang ada di Indonesia. Ia mencontohkan perayaan Imlek harus dijalani dengan penuh tenggang rasa antarsesama.

Momentum Imlek menurutnya bakal bisa jadi perekat kerukunan umat. Sebab semua akan berbondong-bondong menjadi satu, melebur, merayakannya bersama. Yang perlu dicatat, perayaan Imlek ini tidak perlu mewah tetapi tetap bermakna. Agar elemen yang tak stabil di tahun Babi Tanah ini bisa terus diimbangi dengan sikap seluruh masyarakat.

"Saya rasa Jogja jauh lebih damai dibandingkan kota lainnya yang terus memanas. Inilah yang harus kita jaga bersama. Jaga kerukunan tetap bersatu, kan kita satu bangsa dan negara," ujarnya.