Dahnil: Pernyataan Jokowi Soal Propaganda Rusia Ancam Hubungan Diplomatik

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menjawab pertanyaan wartawan seusai menjalani pemeriksaan di Gedung Krimsus, Polda Mertojaya, Jakarta, Jumat (23/11 - 2018). (Antara / Reno Esnir)
04 Februari 2019 19:38 WIB Jaffry Prabu Prakoso Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi tidak mengetahui asal mula Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa menyebut ada propaganda Rusia dalam Pilpres 2019. Mereka membantah tudingan itu dan meminta capres no urut 01 itu menjaga ucapannya.

Koordinator Juru Bicara BPN Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan bahwa pemerintah Rusia juga membantah komentar tersebut. Dia melihat ini sebagai pernyataan bohong.

“Itu berbahaya loh seorang presiden dengan bahasa eksplisit menyebut satu negara terlibat dalam pemenangan salah satu pasangan presiden, apalagi menyeret negara lain dalam peta perpolitikan Indonesia,” katanya saat dihubungi, Senin (4/2/2019).

Dahnil mengklaim bahwa pernyataan itu bisa merusak hubungan diplomatik antarnegara. Dia mempertanyakan apakah Jokowi sadar akan risiko pernyataannya tersebut.

Dahnil juga membantah adanya penggunaan konsultan asing. Dia mengklaim Prabowo tidak memakai konsultan dari luar negeri, termasuk dari Rusia. Karena itu, klaim Dahnil, salah jika ada tuduhan penggunaan konsultan asing karena Prabowo menggunakan saran dari Bojong Koneng, Jawa Barat, tempat dia tinggal.

“Kalau berdasarkan saran dari Bojong Koneng, ya khasnya harus joget-joget dikit, joget Gatot Kaca. Itu konsultan Bojong Koneng. Jadi hal yang disampaikan gak tau pak jkw dari mana itu adalah sumber hoaks,” jelasnya.

Sebelumnya, Jokowi saat menghadiri deklarasi Forum Alumni Jawa Timur mengungkapkan adanya cara-cara propaganda ala Rusia karena menyebarkan berita bohong. Menurut Jokowi, hal ini dilakukan oleh salah satu tim sukses tanpa menyebut siapa yang dia maksudkan.

Hari ini, Kedutaan Besar (Kedubes) Rusia untuk Indonesia melalui akun Twitter resmi @RusEmbJakarta juga merespons pernyataan "propaganda Rusia" itu.

"Berkaitan dengan beberapa publikasi di media massa tentang seakan-akan penggunaan “propaganda Rusia” oleh kekuatan-kekuatan politik tertentu di Indonesia, kami ingin menyampaikan sebagai berikut," kicau akun tersebut.

Kedubes Rusia menyatakan istilah propaganda Rusia tidak berdasarkan fakta. Menurut mereka, istilah itu muncul sejak Pemilu Amerika Serikat (AS) 2016. Saat itu, muncul tudingan adanya campur tangan intelijen Rusia dalam agenda politik 4 tahunan tersebut.

"Sebagaimana diketahui istilah 'propaganda Rusia' direkayasa pada tahun 2016 di Amerika Serikat dalam rangka kampanye pemilu presiden. Istilah ini sama sekali tidak berdasarkan pada realitas," kicau akun @RusEmbJakarta.

Sumber : Bisnis/JIBI