RUU Permusikan, Anang Mengaku Dimarahai Bimbim Slank

Anang Hermansyah (Instagram ananghijau)
04 Februari 2019 18:00 WIB Lalu Rahadian Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Anang Hermansyah mengaku sempat dimarahi drummer band Slank Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim). Sikap Bimbim itu lantaran munculnya pasal kontroversial di Rancangan Undang-undang (RUU) Permusikan.

Kemarahan Bimbim kepada Anang disampaikan melalui pesan singkat. Dalam pesan yang dikirim, Bimbim disebut menanyakan penyusunan RUU Permusikan.

"Saya terus terang baru kemarin di-SMS Mas Bimbim 'Nang, yang nyusun [RUU Permusikan] siapa?' Menarik ini pertanyaan. Saya jawab prosesnya tadi. Jadi yang susun tim keahlian," kata Anang dalam video yang diunggah pada laman YouTube pribadinya, Minggu (4/2/2019) malam.

Anang mengaku menjawab pertanyaan Bimbim secara umum. Dia menjelaskan proses pengusulan dan penyusunan RUU Permusikan yang melibatkan Komisi X, sejumlah musisi, dan Badan Legislasi (Baleg) DPR.

Menurut Anang, Bimbim marah lantaran isi Pasal 5 RUU Permusikan. Namun Anang mengaku menyambut baik kemarahan dan kritik Bimbim.

"Mas Bimbim marah 'pasal 5 kok bisa begitu membangunkan macan tidur'. Ada masukan kalau memang seperti apa pasal 5 itu, inilah diharap banyak pihak memberi masukan supaya memperkaya RUU ini," kata Anang.

Pasal 5 RUU Permusikan dianggap sejumlah musisi bertentangan dengan semangat kebebasan berekspresi yang dijamin UUD 1945. Beleid itu dianggap memuat aturan karet dan membuka ruang persekusi terhadap pegiat musik.

“Pasal karet seperti ini membukakan ruang bagi kelompok penguasa atau siapa pun untuk mempersekusi proses kreasi yang tidak mereka suka,” ujar personel Band Efek Rumah Kaca (ERK) Cholil Mahmud dalam keterangan tertulis.

Pasal 5 RUU Permusikan memuat sejumlah larangan bagi pegiat musik dalam melakukan proses kreasi. Larangan itu di antaranya mendorong khalayak umum melakukan kekerasan dan perjudian serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya; memuat konten pornografi, kekerasan seksual, dan eksploitasi anak; serta memprovokasi terjadinya pertentangan antarkelompok, suku, ras, dan atau antargolongan.

"Teman-teman ada yang marah, itulah dinamika untuk mencari satu solusi tepat. Harapanku ini [RUU Permusikan] dikritisi. Aku butuh masukan, seniman butuh masukan, bagaimana kita punya cita-cita memiliki aturan untuk industri musik atau pelaku profesi musik baik yang akan datang," ujar Anang.

Sumber : Bisnis/JIBI