Teater Lungid dan Kisah Kelas Bawah yang Menyejarah

Damar Tri Afrianto - Istimewa
03 Februari 2019 10:00 WIB Damar Tri Afrianto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (31/1/2019). Esai ini karya Damar Tri Afrianto, dosen di Institut Seni dan Budaya Indonesia Sulawesi Selatan. Alamat e-mail penulis adalah dammar.tri.a@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pada pengujung Januari ini, penikmat seni di Kota Solo dan sekitarnya mendapat sajian pertunjukan yang menjadi roh kota ini, yakni pentas Teater Lungid yang mengusung lakon Tuk.

Teater Lungid merupakan kelanjutan, penerima tongkat estafet, dari kelompok Teater Gapit yang pada 1990-an pernah menjadi pionir teater berbahasa Jawa di Kota Solo. Teater ini diprakarsai oleh Bambang Widoyo Sp.

Meskipun Teater Lungid selalu mengembangkan gaya berteater, namun ketika mementaskan kembali naskah Tuk karya Bambang Widoyo Sp. tentu penonton terbawa kembali ke semangat Teater Gapit dengan warna khas cerita kaum marginal dan persoalan proletariat.

Lakon Tuk sangat dekat dengan persoalan bangsa ini, persoalan yang lintas zaman, yaitu tentang masyakarat kelas bawah dan kelas ekonomi lemah. Membaca naskah atau menyaksikan pertunjukan lakon Tuk berarti mencari kedalaman dan refleksi atas dampak yang ditimbulkan kesenjangan sosial.

Persoalan ini dalam realitas masih sangat relevan dan kontekstual karena persoalan kelas bawah hampir selalu berasosiasi dengan ketidakadilan. Lakon Tuk bercerita tentang masyarakat kelas bawah atau wong cilik yang tinggal di lingkungan magersaren dan sedang dirundung masalah.

Sumber Kehidupan

Mereka berhadapan dengan kaum kelas atas atau pemilik modal yang kabarnya hendak menggusur area tempat tinggal mereka untuk pembangunan pertokoan modern. 

Dengan perspektif  lain, ”tuk” yang artinya sumber air atau mata air,   berarti sumber kehidupan bagi penghuni magersaren, ternodai oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Mata air itu dijadikan lokasi perselingkuhan, tempat keributan, dan dikencingi oleh preman. Penunggu sumur lantas murka. Perkampungan kumuh tersebut akhirnya terbakar habis dan beberapa orang meninggal dunia.

Pertunjukan Teater Lungid digelar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah di Solo atau Taman Budaya Surakarta dan digelar selama dua hari, 29-30 Januari 2019.

Teater Lungid yang masih diperkuat beberapa aktor senior yang pernah berkiprah di Teater Gapit dalam menyajikan lakon Tuk menggunakan pendekatan realisme, yang tentu ala Teater Lungid, yang tidak sekaku realisme konvensional ala teater Barat.

Konsep realisme ini senada dengan semangat zaman dan cerita yang terkandung di dalamnya. Pertunjukan dibuka dengan nuansa musik tradisional gamelan dengan nada dan lirik yang telah diubah lantas diikuti dengan kemunculan aktor-aktor yang ikut larut dalam sajian musik pembuka tersebut.

Aktor-aktor bermain dengan tangkas dengan dialek bahasa Jawa yang membumi dan komunikatif. Penonton diajak masuk dalam suasana masyarakat marginal yang penuh dengan umpatan-umpatan yang terkadang justru memancing tawa penonton.

Masyarakat Proletar

Tokoh-tokoh utama di lakon Tuk kerap memploklamasikan penderitaan masing-masing. Tokoh Romli keluarganya berantakan. Tokoh Mbah Kawit hidup miskin dan sebatang kara.

Tokoh Bismo kehilangan harapan menjadi dalang terkenal. Tokoh Soleman adalah preman yang sering kehilangan barang-barang milik dia.

Kehidupan tokoh-tokoh dalam lakon Tuk merupakan simbol masyarakat proletar yang harus menerima ketidakmampuan mengadapi kenyataan hidup, namun tetap memiliki keyakinan dalam kepasrahan.

Laku para aktor dan ornamen artistik yang sangat natural didukung musik tradisonal yang sangat kultural adalah pencapaian dari realisme tempat kita menyaksikan sepotong kehidupan dalam realitas masyarakat kelas bawah.

Realisme juga sangat strategis guna menyakinkan penonton atas peristiwa-peristiwa di dalam cerita sehingga penonton merasakan efek emosional dan--dalam bahasa Imanuel Kant--merasakan apa yang disebut  katarsis.

Efek realisme itu muncul ketika realitas dihadapkan secara langsung melalui tokoh dan alur cerita sehingga pertunjukan Tuk oleh Teater Lungid seperti refleksi akan kondisi kelas bawah.

Persoalan kelas yang seolah-olah terus berulang adalah pekerjaan panjang negeri ini untuk membangun keadilan dalam menuntaskan masalah kemiskinan.

Kapitalisme

Elite politik dan pemangku kebijakan di pemerintah pusat dan daerah masih berpihak kepada pemilik modal atau kaum borjuis dengan paham kapitalisme mereka.

Di tengah hiruk pikuk pemilihan presiden tahun ini, masyarakat kelas bahwa selalu menjadi objek bagi visi dan misi calon pemimpin dengan beragam janji-janji. Mereka selalu diberi gambaran tentang dunia yang cerah namun dalam realitasnya terkadang tak tergambarkan.

Lakon Tuk karya Bambang Widoyo Sp. yang dipentaskan Teater Lungid  seolah-olah menjadi pengingat dan wahana refleksi pembangunan  kesadaran bagi pemimpin dan calon-calon pemimpin negeri ini untuk selalu berusaha mewujudkan keadilan, sehingga tujuan bernegara tentang keadilan yang meyeluruh segera terealisasi.

Lakon Tuk memang fiksi, namun merupakan cermin realitas, gambaran relitas, bahkan realitas itu sendiri. Calon-calon pemimpin negeri ini selayaknya menilik karya-karya sastra kita, terutama naskah Tuk agar dalam membuat kebijakan selalu berorentasi pada asas keadilan dan dengan pendekatan budaya, khususnya budaya lokal.

Tidak berlebihan kalau lakon Tuk karya Bambang Widoyo Sp. disebut karya masterpiece. Di dalamnya sarat dengan konstelasi permasalahan yang sedang dihadapi bangsa ini.

Naskah ini juga memuat rekaman sejarah panjang bangsa ini dalam menghadapi persoalan ketidakadilan. Berbasis semangat kedaerahan, Tuk adalah proses panjang menjadi Indonesia yang bermartabat.