Jokowi: Mentang-Mentang Diam Dihina, Dipikir Saya Penakut?

Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi), berpidato dalam Deklarasi Sedulur Kayu dan Mebel 01 di De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar, Minggu (3/2 - 2019). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
03 Februari 2019 22:35 WIB Iskandar Nasional Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengklaim dirinya sering menjadi sasaran fitnah dari lawan politik. Saat berpidato dalam Deklarasi Sedulur Kayu & Mebel Jokowi di De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar, Minggu (3/2/2019) siang, Jokowi menyindir semua serangan terhadap dirinya mulai label anti-Islam, antek asing, hingga berbagai hoaks.

Di acara itu, ribuan pendukung Jokowi datang termasuk Menko Kemaritiman Luhut B. Panjaitan dan Alwi Shihab. “Mentang-mentang saya diam terus dihina-hina, direndahkan seperti itu dipikir saya penakut? Saya sampaikan berkali-kali, tidak ada rasa takut yang hinggap di hati saya untuk kepentingan bangsa, rakyat dan negara. Nggak ada rasa takut sedikitpun,” ujar Jokowi dengan nada tinggi.

Lebih lanjut dia kembali menunjukkan kepada para pendukungnya tentang banyaknya hal yang dinilai fitnah ditujukan kepada dirinya. Di antaranya dia dituduh PKI, antiulama, anti-Islam, dan sebagainya. Padahal, ujar dia, dirinyalah yang menandatangani Perpres Hari Santri Nasional dan pada Pilpres 2019 dia menggandeng ulama sebagai wakil presiden.

Hal lain yang juga dikemukakan Jokowi di hadapan ribuan massa di Convention Hall De Tjolomadoe adalah tentang kasus hoaks Ratna Sarumpaet, hoaks surat suara tercoblos di 7 kontainer, dan sebagainya. Jika diteruskan, kata dia, hal ini dinilai bisa memecah belah bangsa.

Jokowi juga menyindir tudingan antek asing kepada dirinya yang selama ini diam saja. Dia lalu menyampaikan keberhasilan pengambilalihan Blok Mahakam di Kalimantan Timur. Blok minyak dan gas itu dioperasikan selama 50 tahun oleh Total E&P Indonesie dari Prancis dan Inpex Corporation dari Jepang, lalu diambil alih dan diserahkan 100 persen ke Pertamina. “Pertanyaan saya antek asingnya di mana?” ujar dia.

Kedua, dia membeberkan pengalihan Blok Rokan di Riau yang sudah lebih 90 tahun lebih dikelola Chevron Pasific. "Dulu tidak ada yang mengatakan para pendahulu sebagai antek asing. Akhirnya tahun 2018 dimbil alih Pertamina 100 persen," kata Jokowi.

Begitu pula dengan pengelolaan Freeport di Papua yang sudah 40 tahun lebih dikelola Freeport-McMoran Copper and Gold Inc, yang diklaim terdapat tambang tembaga dan emas terbesar di dunia dan bisa diambil alih. Untung, kata Jokowi, tambang Grassberg belum habis karena masih ada tembaga dan emas bergunung-gunung.

Namun akuisisi itu, ujar dia, bukan hal gampang karena banyak intrik-intrik, tekanan dari berbagai penjuru berkaitan dengan politik. Karena itu, butuh empat tahun untuk mendapatkan pengelolaan lebih besar dari sebelumnya.

“Dipikir gampang, kalau gampang sudah dari dulu Freeport diambil alih pemerintah Indonesia. Ini pekerjaan yang amat sulit karena banyaknya tekanan-tekanan politik sangat tinggi. Untung saya kurus sehingga ditekan-tekan tidak terasa. Dan mulai akhir Desember 2018, pengelolaan Freeport sebesar 51,23 persen.”

Untuk itu dia mengajak menggunakan cara-cara berpolitik beretika, penuh tatakrama, penuh sopan santun yang baik. “Ini sudah disampaikan sejak tahun 2014. Ingat ndak? Ada koran Obor Rakyat, Saracen dan sebagainya. Untung masyarakat sudah pintar, sehingga bisa membedakan mana yang bohong dan mana yang tidak,” kata Jokowi.

Di bagian lain dia mengajak masyarakat tetap optimistis Indonesia akan maju. Bahkan berdasar kalkulasi Global Institute, World Bank, dan Bapenas, Indonesia akan mencapai Indonesia emas pada 2040-2045. Namun itu semua harus menenuhi syarat-syarat yang tak ringan.