Sastra Ampuh untuk Kuatkan Karakter Siswa

Muhdiyatmoko - Istimewa
02 Februari 2019 10:31 WIB Muhdiyatmoko Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (30/1/2019). Esai ini karya Muhdiyatmoko, Kepala SMP Muhammadiyah Program Khusus di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah masmuh06@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pembelajaran sastra di sekolah masih dipandang sebelah mata. Porsi waktu pembelajaran tidak proporsional dengan pembelajaran yang lain, termasuk bahasa Indonesia.

Pembelajaran sastra masih menjadi bagian pembelajaran bahasa Indonesia. Tidak jarang pembelajaran sastra disampaikan sambil lalu tanpa grand design pembelajaran yang lebih bermakna dan mencerahkan.

Buku-buku sastra koleksi di perpustakaan pun sangat  minimalis untuk mengatakan tidak ada yang bergenre sastra.   Sastra seperti fungsinya dulce et utile mestinya bermanfaat dan mencerahkan pembaca.

Sastra hadir di tengah-tengah kita karena hasil kontemplasi dan pengalaman hidup pengarang dalam mengarungi bahtera kehidupan. Dengan membaca sastra jiwa tercerahkan. Di dalam karya sastra banyak terkandung nilai-nilai karakter dan edukasi yang memberikan katarsis bagi jiwa.

Inilah yang terkadang tidak disadari para pemangku dan pengambil kebijakan di sekolahan bahwa sastra ternyata memiliki peran sentral dalam penguatan karakter siswa.

Lebih tragis manakala pembelajaran sastra dianggap pembelajaran yang membuang-buang waktu dan terkesan diremehkan. Diperlukan guru-guru yang peduli merawat sastra dan didukung kelengkapan sarana (baca: bahan bacaan sastra).  

Pembelajaran tanpa melibatkan penanaman nilai-nilai karakter dan budi pekerti seperti yang dikisahkan dalam sastra akan menjadikan seseorang seperti robot yang kaku, bahkan bisa menjadi psikopat atau mengalami split personality.

Orang tersebut dalam hal-hal tertentu terlihat seperti orang suci, pengkhotbah, tetapi pada saat-saat tertentu menjadi pecundang, pelaku kriminal, korupsi, dan pelaku maksiat. Hal ini salah satunya disebabkan jiwa yang tidak utuh dalam memahami konsep dan visi hidup.

Pola Pikir

Untuk itu dibutuhkan buku bacaan sastra yang mampu memberikan katarsis dan pencerahan dalam diri setiap pembaca. Pada era milenial ini mendapatkan buku bacaan sastra tidaklah sulit. Melalui kemajuan teknologi dan informasi semuanya bisa terjangkau dan diakses setiap saat.

Yang terpenting adalah pola pikir guru tentang fungsi dan konsep pembelajaran sastra di sekolahan. Hal ini tidak mudah mengingat pembelajaran sastra sampai saat ini kurang diminati siswa.

Melihat hasil survei LSI tentang minat masyarakat terhadap karya sastra sungguh mmebikin miris, hanya 6,2% masyarakat di Indonesia yang menyukai sastra (Solopos, 13 Januari 2018). Ada apa gerangan sehingga siswa tidak berminat terhadap sastra?

Apakah metode pembelajaran sastra selama ini tidak menarik? Ataukah bahan bacaan sastra yang tidak lagi menarik bagi mereka? Menurut B.Rahmanto (1988), setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan guru saat memilih  bahan ajar sastra di sekolah.

Pertama, dari sudut bahasa. Kedua, dari segi kematangan jiwa (psikologi). Ketiga, dari latar belakang budaya siswa. Guru dalam memilih bahan ajar mempertimbangkan kosakata, tata bahasa, dan cara menuangkan ide.

Guru harus mempertimbangkan tingkat kebahasaan siswa sehingga guru tepat dalam memilih bahan ajar tersebut. Bahasa yang mudah dicerna dan mengandung nilai eduksasi serta etika menjadi pertimbangan utama.

Semua guru tentu telah dibekali psikologi perkembangan. Proses perkembangan dari anak menuju dewasa mengalami beberapa fase/proses perkembangan psikologi.

Tingkat Kematangan Siswa

Bahan bacaan harus sesuai dengan tingkat kematangan jiwa siswa. Minat dan kesukaan terhadap buku sastra serta genre karya sastra sangat dipengaruhi kematangan jiwa siswa. Di sinilah peran strategis pendidik menyiapkan bahan bacaan sastra di sekolahan.

Jangan sampai konten dan gaya bahasa dalam karya sastra belum sesuai dengan fase perkembangan kejiwaan siswa. Faktor yang tidak kalah penting adalah latar belakang budaya siswa.

Kita sadari bahwa masing-masing siswa memiliki latar belakang budaya yang beragam. Tingkat keragaman inilah yang perlu dipertimbangkan guru manakala memilih bahan bacaan sastra.

Bahan bacaan sastra yang sesuai dengan budaya siswa akan lebih berkesan dan menimbulkan nilai edukasi yang produktif. Mewujudkan pendidikan karakter dan multikultural dapat melalui pembentukan karakter peserta didik.

Peserta didik mampu bersikap toleran, saling menghargai perbedaan, menghargai hak asasi manusia, saling menolon meskipun berangkat dari latar belakang yang berbeda.

Menurut Lickona, pendidikan karakter mencakup tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).

Pembentukan karakter di sekolahan  adalah bagian dari pendidikan nilai. Paar siswa tidak hanya tahu tentang nilai-nilai kebaikan, tetapi mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembentukan karakter tidak terlepas dari peran keluarga, masyarakat, dan sekolah. Ketiganya harus berjalan sinergis, serasi, selaras, dan sejalan. Manakala salah satu ranah itu tidak sinergis, yang terjadi adalah ketimpangan-ketimpangan yang berakibat membahayakan keutuhan bangsa.

Tak Bisa Ditawar

Pendidikan multikultural adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam membangun Indonesia yang lebih demokratis, aman, adil, dan sejahtera.

Selain institusi keluarga, sekolah sebagai medium formal dalam pengembangan pola kepribadian, sikap, dan intelektual anak juga memegang peranan penting dalam mempersiapkan anak didik menghadapi persinggungan budaya era globalisasi.

Sekolahan adalah tempat bertemunya anak bangsa yang beragam agama, suku, dan budaya. Kalau anak didik kita tidak dibekali sikap tenggang rasa, toleran, dan demokratis dalam berpikir dan bersikap maka para siswa akan terjebak dalam pertentangan dan permusuhan tiada akhir.

Masyarakat saat ini dengan mudah mengakses berbagai informasi dan tayangan dari berbagai media. Implikasinya masyarakat terjangkiti kebiasaan dan rutinitas tontonan yang tidak bebas nilai. Pada akhirnya masyarakat akan meniru apa yang telah ditonton.

Kalau tontonan itu hal yang positif tidak menjadi masalah, tetapi kalau tontonan itu negatif dan mengandung nilai destruktif maka secara perlahan-lahan masyarakat terjerumus dalam kubangan kesengsaraan yang tiada bertepi.

Masyarakat akan terbiasa dengan budaya kekerasan dan hal ini dapat berimplikasi terhadap peserta didik. Pola pikir dan tingkah laku anak sedikit banyak dipengaruhi lingkungan yang melingkupi.

Pendidikan karakter dan multikultural akan mampu diwujudkan manakala semua pihak (keluarga, sekolah, masyarakat ) secara sinergis dan berkesinambungan bahu-membahu serta bekerja sama mewujudkan kerukunan dan kedamaian dalam kebinekaan sehingga bangsa ini akan tumbuh menjadi bangsa yang bermoral, bermartabat, dan berakhak mulia. Sastra menjadi wahana penting mewujudkan semua itu.