Penggunaan Energi dan Ekuilibrium Alam Jawa Tengah

Firlie Hanggodo Ganinduto - Istimewa
01 Februari 2019 17:09 WIB Firlie Hanggodo Ganinduto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (31/1/2019). Esai ini karya Firlie Hanggodo Ganinduto, Ketua Kompartemen Tetap Bidang Energi Kamar Dagang dan Industru Pusat dan calon anggota DPR dari Partai Golongan Karya di daerah pemilihan 4 Jawa Tengah.

Solopos.com, SOLO -- Setiap kelompok masyarakat selalu memiliki cara yang unik dalam berinteraksi dengan lingkungan alam. Perbedaan kondisi lingkungan berperan membentuk kebudayaan, adat, tradisi, serta mentalitas masyarakat.

Local genius atau kearifan lokal adalah sebutan akrab di kalangan budayawan. Dalam kearifan lokal tersebut terkandung simbol, makna, nilai, hingga filosofi yang mengatur tata kehidupan sebuah komunitas sehingga aneka fenomena maupun kebiasaan masyarakat akan dipandang berbeda, tergantung sudut pandangnya.

Interaksi yang saya lakukan dengan masyarakat di Kecamatan Tangen di Kabupaten Sragen hingga Kecamatan Jumantono dan Kecamatan Jatipuro di Kabupaten Karanganyar memunculkan realitas interaksi dengan alam yang begitu harmonis.

Interaksi harmonis itu tergambar riil dalam hidup sehari-hari  memanfaatkan alam. Mungkin bagi sebagian orang memasak menggunakan kayu bakar bukan sebagai indikator masyarakat maju, namun sejatinya ini merupakan artefak kultural.

Masyarakat era dulu menggunakan energi bukan hanya untuk kebutuhan subsisten namun juga untuk menjaga keseimbangan alam (ekuilibrium). Analoginya, tidak ada ikan paus maka populasi ikan kecil akan punah karena ikan yang berukuran medium meledak jumlahnya.

Keseimbangan inilah yang harus dilihat. Penghilangan budaya memasak dengan kayu bakar mengakibatkan jumlah sampah organik yang dapat dibakar kian menumpuk.

Dia masyarakat desa hampir tidak ditemui  sampah dapur yang menggunung karena dapat langsung direduksi bersama dengan aktivitas memasak.

Kearifan Lokal

Itu adalah sedikit gambaran bahwa penggunaan energi harus memerhatikan kearifan lokal. Setiap aktivitas memiliki dimensi keseimbangan lingkungan. Bagi pelaku usaha energi, domain lingkungan menjadi parameter prioritas yang harus diperhatikan.

Saya melihat potensi energi di kawasan Gunung Lawu sangat besar, namun potensi tersebut tidak lebih penting dibanding dengan pelestarian lingkungan yang disandingkan dengan indutri pariwisata.

Beberapa tahun terakhir di kawasan ini terdapat beberapa area eksplorasi galian C serta dalam catatan yang lebih besar terdapat upaya ekplorasi geotermal. Wacana tersebut harus dipikir matang.

Jangan sampai mekanisme industri pariwisata yang sudah berjalan dengan baik menerima ekses negative dari aktivitas ekplorasi energi endogen ini.

Sejalan dengan semangat good government, setiap kebijakan harus melibatkan masyarakat. Dalam konteks ini harus ada wakil masyarakat yang konsisten memperjuangan kepentingan masyarakat dan lingkungan sehingga aktivitas ekonomi sebagai penopang kebutuhan ribuan rumah tangga tidak terganggu.

Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Wonogiri memiliki banyak persamaan, khususnya di masyarakat yang tinggal di kecamatan terluar.

Banyak warga yang menggantungkan diri dari aktivitas agraris, menggunakan tungku dengan kayu bakar sebagai alat memasak, hingga memberdayakan lingkungan alam berbasis pariwisata.

Kondisi ini membutuhkan kebijakan yang tepat serta selaras dengan karakteristik masyarakat lokal dalam pengelolaan energi. Hal ini menjadi tantangan bagi wakil rakyat untuk menjamin keberlangsungan konsep ini serta bagi para generasi muda agar mampu berinovasi  dalam pengelolaan dan pemanfaatan energi baru yang lebih ramah lingkungan.  

Ada beberapa konsentrasi aktivitas yang bisa dilakukan. Pertama, penumbuhkembangan kesadaran masyarakat ihwal eksplorasi energi yang ramah lingkungan.

Sejauh ini masih ada banyak pandangan antara eksploitasi energi dengan pelestarian alam berbanding terbalik, padahal energi memiliki posisi vital dalam pembangunan bangsa.

Perubahan Paradigma

Diperlukan kebijakan yang mendorong perubahan paradigma masyarakat untuk berkesadaran lingkungan. Perubahan ini harus didorong dengan regulasi yang jelas sehingga antara kebutuhan energi dan pelestarian lingkungan sejalan dan harmonis.

Kedua, harus ada inovasi energi substitusi baru atau efisiensi baru. Kawasan Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar dengan keasrian lingkungan alam ytang dipertahakan membuat masyarakat tidak membutuhkan pendingin ruangan di rumah.

Masyarakat di daerah dingin belum membutuhkan lemari pendingin karena dapat disiasati dengan penyimpanan makanan yang natural berbasis kearifan lokal. Sistem tata air dapat menimimalisasi penggunaan pompa air.

Pada dasarnya wilayah kita memiliki kearifan lokal dalam eksplorasi dan penggunaan energi. Sebagai generasi yang mewarisi Planet Bumi, kita harus berorientasi melestarikan alam, baik sebagai pelaku maupun sebagai bagian dari penyelenggara negara yang merumuskan kebijakan yang berperspektif lingkungan yang memang harus menjadi prioritas.