Filipina Tuding WNI Terlibat Bom di Gereja, Sidney Jones: Jangan Percaya!

Anggota Brimob Polri melakukan penjagaan di halaman Gereja Katolik Stasi Santo Yosep pascaperistiwa teror bom di gereja tersebut di Medan, Sumatra Utara, Minggu (28/8). Pascaperistiwa teror bom yang dilakukan seorang laki-laki dengan mencoba melakukan bom bunuh diri di dalam Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, polisi memperketat penjagaan di lokasi gereja. - Antara
01 Februari 2019 23:30 WIB Sholahuddin Al Ayyubi Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) meminta Pemerintah Indonesia tidak mudah percaya dengan informasi yang diberikan Pemerintah Filipina mengenai adanya warga negara Indonesia (WNI) yang diduga melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Filipina.

Direktur IPAC, Sidney Jones, mengungkapkan bahwa sampai saat ini tidak ada bukti kuat yang diberikan Pemerintah Filipina bahwa pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Filipina tersebut adalah sepasang WNI. Kendati demikian, dia mengakui ada hubungan antara kelompok teroris di Filipina dan Indonesia. Namun pada peristiwa bom bunuh diri kali ini, tidak ada satupun bukti kuat yang mengarah ke WNI terkait aksi teror tersebut.

"Hubungan kelompok teroris Filipina dan Indonesia memang sudah lama ada. Tetapi terkait aksi bom bunuh diri kali ini, saya tegaskan tidak benar ada orang Indonesia yang terlibat, karena tidak ada satu pun bukti yang kuat," tuturnya kepada Bisnis/JIBI, Jumat (1/2/2019).

Sidney memprediksi dari pola aksi serangan bom bunuh diri di Gereja Katedral Filipina, teror tersebut dilakukan kelompok Abu Sayyaf. Namun, sampai saat ini dia mengakui belum melihat adanya tanda-tanda keterlibatan WNI dalam aksi bom tersebut.

"Dari pola serangannya, aksi bom bunuh diri ini jelas dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf. Tetapi bukan dilakukan WNI. Tidak ada dasar apapun keterlibatan WNI di aksi teror itu," katanya.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ao menuding pelaku penyerangan Gereja Katedral di Pulau Jolo Filipina adalah sepasang WNI yang telah lama dibina oleh kelompok Abu Sayyaf. Hal tersebut terungkap karena pelaku bom bunuh diri tersebut diduga sudah mempelajari target serangan, melakukan pemantauan gereja secara rahasia, dan membawa pasangan WNI itu ke Gereja Katedral Filipina untuk melakukan aksinya.

Tidak lama setelah aksi bom bunuh diri itu terjadi, ISIS mengklaim bertanggungjawab atas insiden penyerangan gereja tersebut. Namun, sampai saat ini masih belum jelas identitas pelaku bom bunuh diri di Filipina selatan tersebut.

Sumber : Bisnis/JIBI