Ini Klarifikasi Menkominfo Soal #YangGajiKamuSiapa

Menkominfo Rudiantara - Bisnis.com/Muhammad Ridwan
01 Februari 2019 15:45 WIB Sutarno Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA – Acara internal Kementerian Komunikasi dan Informarmatika (Kominfo) di Hall Basket Senayan Kamis (31/1/2019) berbuntut panjang ketika ucapan Menkominfo Rudiantara “yang bayar gaji ibu siapa?” dipelintir menjadi hoaks seolah-olah ada intimidasi terkait keyakinan ASN (aparatur sipil negara) Kominfo dan terlanjut menjadi viral dengan topik #YangGajiKamuSiapa

Pernyataan Rudiantara dipenggal dan videonya disebar sehingga menjadi populer dan viral di media sosial dengan hastag #YangGajiKamuSiapa.

Padahal, konteks pernyataan lengkap Rudiantara dalam acara itu adalah bahwa ASN digaji oleh negara sehingga harus netral terhadap preferensi calon presiden di Pilpres 2019.

Di Youtube, Bisnis mencoba  mencari konten dengan kata kunci YangGajiKamuSiapa akan muncul tiga akun yang mengunggah video itu pada pukul 10:15 WIB, Jumat (1/2/2019).

Berikut salah satu contoh video hasil cutting pernyataan Rudiantara yang diposting akun Kaf Channel.  Akun ini pun penulis caption video dengan bahasa kasar DUHHH CONxxRNYA!!! Mentri tuhhh???

Padahal dalam acara itu Rudiantara sekali lagi menegaskan bahwa sebagai aparatur negara yang digaji negara dengan uang rakyat, ASN dituntut netral dalam Pilpres 2019.

Karena postingan semacam itu sudah menjadi viral dan menyesatkan persepsi masyarakat , Kemenkominfo hari ini, Jumat (1/2/2019) memberikan klarifikasi dengan Siaran Pers No. 24/HM/KOMINFO/02/2019 tertanggal 1 Februari 2019 bertajuk  Penjelasan Atas Pertanyaan Menteri Kominfo Kepada ASN dalam Acara Internal. Berikut isi penjelasan tersebut.

Penjelasan Menkominfo

Terkait dengan pemberitaan terhadap Menkominfo yang berkaitan dengan lontaran pertanyaan terhadap salah satu ASN dalam acara internal Kominfo pada 31/1/2019 di Hall Basket Senayan, Jakarta, kiranya perlu dijelaskan beberapa hal sebagai berikut:

1. Dalam salah satu bagian acara sambutan, Menkominfo meminta masukan kepada semua karyawan tentang dua buah desain sosialisasi pemilu yang diusulkan untuk Gedung Kominfo dengan gaya pengambilan suara.

2. Semua berlangsung dengan interaktif dan antusias sampai ketika seorang ASN diminta maju ke depan dan menggunakan kesempatan itu untuk mengasosiasikan dan bahkan dapat disebut sebagai mengampanyekan nomor urut pasangan tertentu.

3. Padahal sebelumnya, Menkominfo sudah dengan gamblang menegaskan bahwa pemilihan tersebut tidak ada kaitannya dengan pemilu. Penegasan tersebut terhitung diucapkan sampai 4 kalimat, sebelum memanggil ASN tersebut ke panggung.

4. Dalam zooming video hasil rekaman, terlihat bahwa ekspresi Menkominfo terkejut dengan jawaban ASN yang mengaitkan dengan nomor urut capres itu dan sekali lagi menegaskan bahwa tidak boleh mengaitkan urusan ini dengan capres.

5. Momen selanjutnya adalah upaya Menkominfo untuk meluruskan permasalahan desain yang malah jadi ajang kampanye capres pilihan seorang ASN di depan publik. Terlihat bahwa ASN tersebut tidak berusaha menjawab substansi pertanyaan, bahkan setelah pertanyaannya dielaborasi lebih lanjut oleh Menkominfo.

6. Menkominfo merasa tak habis pikir mengapa ASN yang digaji rakyat/pemerintah menyalahgunakan kesempatan untuk menunjukkan sikap tidak netralnya di depan umum. Dalam konteks inilah terlontar pertanyaan “Yang gaji Ibu Siapa?”. Menkominfo hanya ingin menegaskan bahwa ASN digaji oleh negara sehingga ASN harus mengambil posisi netral, setidaknya di hadapan publik.

7. Atas pernyataan “yang menggaji pemerintah dan bukan keyakinan Ibu”, “keyakinan” dalam hal ini bukanlah dimaksudkan untuk menunjuk pilihan ASN tersebut, melainkan merujuk kepada sikap ketidaknetralan yang disampaikan kepada publik yang mencederai rasa keadilan rakyat yang telah menggaji ASN.

8. Dalam penutupnya sekali lagi Menkominfo menegaskan bahwa posisi ASN yang digaji negara/pemerintah harus netral dan justru menjadi pemersatu bangsa dan memerangi hoaks.

9. Kami menyesalkan beredarnya potongan-potongan video yang sengaja dilakukan untuk memutus konteks masalah dan tidak menggambarkan peristiwa secara utuh.