Pemimpin Gado-Gado

Gilar Prasetio - Istimewa
31 Januari 2019 02:40 WIB Gilar Prasetio Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (29/1/2019). Esai ini karya Gilar Prasetio, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah gilarprasetio@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Memilih makanan dalam sederetan daftar menu terkadang memang benar-benar membuat seseorang berada dalam kondisi dilematis. Makanan yang diantar dan disajikan di meja bagi sebagian orang adalah hasil dari banyak pertimbangan dan kalkulasi atau hitungan-hitungan.

Beberapa hal yang sering digunakan sebagai acuan seseorang dalam menjatuhkan pilihan pada sebuah menu makanan antara lain kondisi perut, selera mulut,  dan harga yang ditawarkan.

Dengan begitu, pilihan mestilah sesuai dengan kebutuhan dan keadaan. Bagi orang sakit, makanan yang mudah dicerna seperti bubur dan makanan yang kaya serat seperti sayuran dan buah-buahan tentu menjadi pilihan.

Bagi orang yang mengalami masalah pencernaan, masakan pedas tentu tidak boleh dipilih. Bagi orang Jawa yang identik dengan masakan manis, lidah mereka tidak cocok dihadapkan pada makanan yang pedas, pahit, atau masam.

Bagi mahasiswa, menu makanan yang harganya bersahabat dengan kantong tentu menjadi incaran. Sedangkan bagi orang di strata sosial atas, menu makanan dengan harga yang paling mahal menjadi pilihan.

Sebuah menu yang dipilih juga belum tentu menjadi pilihan pada saat yang lain. Semua bergantung pada relevan tidaknya menu tersebut dengan kondisi dan keadaan orang yang akan makan.

Dalam sesi makan bersama kita juga tidak boleh memaksa orang lain memilih menu yang sama dengan kita. Sudah tentu sikap ”ke-aku-an” begini  bisa berpotensi menyulut permusuhan dan sama sekali tidak menyelamatkan kebersamaan. Penyatuan  ekspresi dan representasi gagasan individual dalam ruang kolektif akan sulit untuk disinergikan ke dalam sebuah percakapan di meja makan.

Kuah sup yang baru diambil dari panci yang dipanasi pun bisa sama dinginnya dengan cuaca musim hujan. Perbedaan dalam memilih menu makan tidaklah serta-merta membuat orang membenci satu sama lain.

Bijak dan Cerdas

Memilih menu agaknya sama dengan memilih seorang pemimpin. Jika tidak cermat, akan kecewa pada akhir prosesi makan atau bahkan baru pada suapan pertama. Dilihat dari sudut ini, antara si pemesan menu masakan (pembeli) dan si pembuat masakan (penjual) ibarat rakyat yang dipimpin dan presiden yang memimpin.

Kekuasaan tertinggi berada di tangan pembeli karena dia membayar, sedang kepuasaan atas cita rasa masakan yang disajikan berada di tangan si juru masak. Si pembeli haruslah bijak dan cerdas dalam memilih si juru masak dan menu yang ditawarkan. Sebagai pembeli saya berpersepsi juru masak mestilah seperti penjual gado-gado.

Ia mampu memadukan banyak bahan seperti kangkung, kentang rebus, kacang panjang/buncis, kol, tauge, wortel, telur, mi kuning, kerupuk, dan emping mlinjo dalan perpaduan yang pas di bawah guyuran sambal kacang.

Dalam membuat sambal, penjual gado-gado paham benar potensi dan porsi setiap elemen bumbu-bumbu yang dia racik. Ia menyinergikan bumbu-bumbu tersebut untuk memunculkan harmonisasi rasa yang sedap tanpa menghilangkan ciri khas dari masing-masing bumbu.

Tidak ada bumbu yang tampil dominan sekalipun itu kacang yang menjadi mayoritas. Daun jeruk juga tidak kehilangan aromanya meskipun digerus bersama cabai dan garam. Dalam membuat sambal, penjual gado-gado memerhatikan selera dan kemauan si pembeli, seperti saat ia menanyakan,”Pedas atau sedang?”

Gado-gado dalam istilah lain dapat dipinjam untuk menggambarakan kondisi campur aduk tidak keruan. Sebagaimana Indonesia yang terdiri dari keberagaman suku, agama, ras, dan golongan maka pemimpin Indonesia haruslah mampu memadukan perbedaan tersebut ke dalam sebuah sajian yang nikmat dan sedap. Seorang pemimpin bangsa sebesar Indonesia ini mau tidak mau harus memadukan potensi ”atas” dan ”bawah”, antara pemimpin dan yang dipimpin.

Menyinergikan mereka yang diberi kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, antara kepentingan hukum negara dan kepentingan objek hukum (Tasaro, 2008). Saya pernah berjumpa dengan seorang penjual gado-gado yang memasak sambil menggendong cucunya yang rewel dan menangis karena sedang demam.

Agaknya adegan yang diperagakan si penjual tersebut menunjukkan kepada saya: bahwa meskipun digelendoti kepentingan lain, ia  masih tetap berusaha memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pelanggannya. Sebagai pembeli sudah semestinya kita harus sabar menanti hasil si juru masak.