Makin Rumit, Mahkamah Agung Venezuela Cekal Presiden Sementara

Juan Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara Venezuela. (Reuters - Carlos Garcia Rawlins)
31 Januari 2019 07:10 WIB John Andhi Oktaveri Internasional Share :

Solopos.com, CARACAS - Mahkamah Agung Venezuela mencekal Presiden Sementara Juan Guaido dan membekukan rekening bank miliknya. Langkah itu diambil meski Amerika Serikat mengingatkan akan konsekuensi serius dari tindakan tersebut.

Dilansir Reuters, Rabu (30/1/2019), Jaksa pengadilan menyidik Guaido sebagai bentuk balasan atas sanksi keras yang djatuhkan AS terhadap perusahaan minyak Venezuela, PDVSA sebagaimana diumumkan pada Senin.

Ketua Mahkamah Agung Venezuela, Maikel Moreno mengatakan Guaido dilarang ke luar negeri karena sedang menjadi target penyelidikan. "[Juan Guaido] dilarang meninggalkan negara hingga akhir masa penyelidikan (karena) menyebabkan ancaman terhadap perdamaian negara," ujar Moreno.

Keputusan itu diambil tak lama setelah Jaksa Agung Venezuela, Tarek William Saab, meminta Mahkamah Agung mencekal dan membekukan aset Guaido.

Menurut Saab, permintaan itu merupakan bagian dari penyelidikan atas badan parlemen Venezuela yang juga dipimpin Guaido. Permintaan itu diajukan setelah Amerika Serikat menyatakan telah memindahkan kendali akun-akun Venezuela di bank AS ke Guaido untuk menghindari penyalahgunaan oleh Presiden Nicolas Maduro yang sudah didesak mundur.

Guaido Juga mengatakan bahwa dia akan mengambil alih aset Venezuela di luar negeri agar Maduro tidak mengurasnya. Dia pun mengaku tidak terkejut dengan permintaan Saab sebagai loyalis Maduro untuk mencekal dan membekukan asetnya. "Hanya ancaman baru bagi saya, bagi parlemen, bagi petugas pelaksana presiden republik ini. Tak ada yang baru," ujar Guaido di hadapan Majelis Nasional.

Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden interim pada 23 Januari lalu, di tengah demonstrasi anti-Maduro besar-besaran di berbagai penjuru Venezuela.

Selain AS, Guaido juga mendapatkan dukungan dari sejumlah negara lain, seperti Kanada, Brasil, Chile, dan Australia. Sementara itu, Maduro masih didukung oleh Rusia, Turki, dan China.