Guguran Lava Merapi Picu Cuaca Ekstrem, Ini Penjelasan BMKG

Guguran lava pijar keluar dari Gunung Merapi terlihat dari Deles, Klaten, Rabu (30/1 - 2019) dini hari. (Solopos/Burhan Aris Nugraha)
31 Januari 2019 21:00 WIB Hafit Yudi Suprobo Nasional Share :

Solopos.com, JOGJA -- Aktivitas Gunung Merapi yang meningkat beberapa hari terakhir rupanya ikut memengaruhi cuaca ekstrem di daerah sekitarnya. Hal itu terkait efek material vulkanis yang terlontar ke atmosfer.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Yogyakarta melaporkan efek peningkatan aktivitas Gunung Merapi berupa guguran lava terhadap cuaca. Tersedianya abu vulkanik di atmosfer menambah akumulasi partikel yang mendukung pembentukan uap air.

Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta Sigit Hadi Prakosa mengatakan aktivitas Merapi tersebut berdampak pada terbentuknya awan cumulonimbus dengan puncak setinggi lebih dari 12 km. "Akhirnya mampu menimbulkan hujan es," kata Sigit kepada awak media, Kamis (31/1/2019).

Pantauan BMKG, lanjut Sigit, suhu di puncak awan yang mencapai 12 km mencapai -80 derajat. Ketersediaan air yang begitu tebal sampai 9 km dan ketebalan es sampai 3 km di puncak awan ini menyebabkan hujan lebat disertai es pada Selasa (29/1/2019).

Artinya ada korelasi antara aktivitas Merapi dengan peningkatan cuaca di Sleman. "Ini menjadi perhatian kita semua sampai nanti di akhir musim pancaroba di Maret hingga April," tutupnya.

Sebelumnya, hujan deras disertai angin dan es mengguyur sejumlah wilayah di Kecamatan Seyegan, Sleman, Selasa sore. Bahkan, beberapa warganet tampak memposting di sejumlah grup sosial media terkait fenomena tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Mlati, Agus Sudaryatno, sebelumnya juga menuturkan fenomena tersebut disebabkan konvergensi/pertemuan masa udara yang kuat pada wilayah tersebut.

"Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya terbentuknya awan-awan konvektif yang tumbuh vertikal dan didukung dengan adanya turbulensi (gerakan udara tidak beraturan atau berputar tidak beraturan akibat perbedaan tekanan atau temperatur), sehingga terjadi hujan es atau hails," katanya.