Sempat Luncurkan Awan Panas, Ini yang Terjadi di Kawah Merapi

Luncuran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari wilayah Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (12/1 - 2019) dini hari. (Antara/Aloysius Jarot Nugroho)
31 Januari 2019 06:15 WIB Abdul Hamied Razak Nasional Share :

Solopos.com, JOGJA -- Setelah beberapa waktu diwarnai aliran lava pijar, aktivitas Gunung Merapi mulai diwarnai munculnya awan panas atau biasa disebut wedhus gembel pada Selasa (29/1/2019) malam lalu. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja mencatat keluarnya awan panas Merapi sebanyak tiga kali.

"Kecepatan luncuran awan panas hanya 10 meter perdetik. Suhunya merapi secara umum sekitar 800 derajat celcius. Itu material atau magma baru. Semua awan panas guguran itu mengarah ke Kali Gendol," ungkap Kepala BPPTKG Jogja Hanik Humaida saat jumpa pers di Kantor BPPTKG Jogja, Rabu (30/1/2019).

Proses terjadinya awan panas, lanjut Hanik, akibat keluarnya magma dari dalam diikuti guguran lava pijar yang disertai gas. Aktivitas tersebut tidak ada kaitannya dengan cuaca, tetapi lebih pada aktivitas internal atau suplai magma di dalam Gunung Merapi. Awan panas muncul karena ekstrusi magma dari dalam. Namun, volume magma dari dalam Merapi saat ini masih kecil.

"Volume atau suplai magma dari dalam masih relatif kecil sehingga itu salah satu dasar kami tidak menaikkan status. Apalagi volume magma masih kecil. Itu yang utama jangan membuat masyarakat resah tapi tetap waspada," katanya.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Seksi Gunung Merapu BPPTKG Agus Budi Santoso. Dia menjelaskan yang membedakan guguran dan awan panas adalah dari sifat magma dan laju ekstrusi magma, serta dari sebelumnya lava pijar menjadi awan panas. "Proses pertama materialnya kedua mekanisme luncurannya. Apalagi ada juga unsur gas," katanya.

Apakah ke depan akan terus terjadi aktivitas awan panas? Budi mengaku hal itu tergantung dari proses dan faktor yang memicu awan panas. Kalau mendukung terjadinya awan panas bisa terjadi lagi. Sekarang kami punya acuan untuk identifikasi selanjutnya.

"Tadi malam [Selasa malam] memang tidak bisa langsung disimpulkan melalui seismik, karena berbeda sinyal seismik dengan awan panas. Karena kondisi saat ini berbeda makanya dilakuan indentifikasi visual dulu, " katanya.

Kejadian tersebut merupakan awan panas guguran pertama yang terjadi sejak status Merapi ditetapkan Waspada. Meski arah guguran lava dan awan panas ke Kali Gendol, namun hujan abu tipis terjadi di beberapa wilayah di Jawa Tengah.

Berdasarkan laporan, hujan abu tipis terjadi di sekitar Kota Boyolali, Kecamatan Musuk, Mriyan, Mojosongo, Teras, Cepogo, Simo, Kabupaten Boyolali dan Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. "Jarak luncuran awan panas masih pendek sementara hujan abu kenapa ke Boyolali itu tergantung dengan arah mata angin," katanya.

Sumber : Harian Jogja